Feeds:
Posts
Comments

Diary Alquran syafin

Diary Alquran syafin

Masjid

Diari Alquran Syafin

Diari Alquran Syafin

Bikin train lagi…

Diary Alquran Syafin

Diary Alquran Syafin

Games hijaiyyah. Saya buatkan ia pernah pernih bentuk. Dari mulai rectangle, square, circle kemudian dibubuhi hijaiyyah. biarkan ia menyusun sendiri membentuk sebuah bus. Setelah selesai sebutkan satu-satu hurufnya…

Diary Alquran Syafin

Diary Alquran Syafin

Mobil Tauhid, Allah Tuhanku Muhammad Nabiku…

Diary Alquran Syafin

Diary Alquran Syafin

Number arabic bus

Diary Alquran Syafin

Diary Alquran Syafin

Hijaiyyah train. Berhubung abang syafin suka sekali dengan train, agar semangat belajar Alquran, maka dibuat menyerupai train.

Motivasi saya ambil dari sini :

Sebetulnya sudah lama saya mencari referensi tentang bagaimana caranya mengajarkan Alquran kepada balita. Saya pun tak luput sudah berusaha bertanya ke ibu-ibu shalihah di dunia maya, di beberapa group juga pernah saya sebar informasi yang sama. Namun rasanya belum puas mendapat jawaban yang cocok dengan yang saya harapkan. Ada yang bilang memang belum saatnya balita diajari Alquran, paling-paling hafalan saja, karena masih insting bermain. Namun feeling saya merasakan jika tidak sekarang, lihat saja nanti, kelamaan anak saya akan semakin sulit untuk disuruh ngaji karena termakan banyak sekali mainan dan hal yang baru, yang menguras waktu dia sehari-hari.

Hingga, subhanallah dalam setiap perjalanan saya selalu percaya bahwa jika ada azam pasti Allah memberikan jalan. Seorang sahabat memberi kabar kepada saya, tentang buku ini :

http://www.khazanahintelektual.com/Alhamdulillah%20BALITAKU%20Khatam%20AlQuran

Subhanallah Alhamdulillah, jujur saja saya merasa puas dengan buku ini. Semua pertanyaan saya beliau kupas dengan bahasa yang mudah dipahami. Saya tak kenal siapa itu Dr Sarmini, namun jujur membaca buku ini seperti sedang berada dalam satu majelis dengan beliau,diberi wejangan-wejangan yang mengena sekali tentang memahamkan Alquran kepada anak kita. Pasti penasaran kan, selanjutnya sebagai bahan referensi saya juga, dan agar isi buku ini melekat di ingatan saya akan saya buat resensinya :

1. Mengapa Kami ingin balita kami khatam Alquran

Mungkin kebanyakan dari kita sudah paham, saya pun sebelumnya pernah baca di buku “Prophetic parenting”, bahwa ada kewajiban para orang tua untuk mengajari anaknya Alquran. Namun yang menjadi persoalan adalah kapan? dimulai dari mana? dan targetannya apa hanya anak atau sembari kita juga ingin mengambil keutamaan dari sana.

Bab ini sangat menarik, hingga saya berkali-kali sejenak berpikir lalu berpikir akan apa yang selama ini telah saya kerjakan untuk anak saya. Teman-teman pasti sudah tahu hadist ini :

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, “Rasulullah SAW bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam fitrah suci, maka kedua orang tua nya lah yang menjadikan ia majussi atau nasrani…”

Sekilas mungkin kita merasa santai menanggapi isu di hadist ini, toh Alhamdulillah kita beragama islam. Namun ternyata tak cukup hanya islam, fitrah suci yang mereka miliki adalah tugas kita untuk menjaganya sebagai amanah yang terbesar yang Allah titipkan kepada kita. Tentu saja ini bukan persoalan yang mudah bukan. MAka salah satu cara menjaga fitrah anak itu adalah dengan mengajarkan Alquran sedari dini.

Selain ini juga sebagai perintah Allah untuk para orang tua, sejatinya kita juga harus yakin, bahwa orang yang membaca Alquran akan ditempatkan di tempat yang sebaik-baiknya. Sarana pembelajaran ini juga bisa kita gunakan sebagai sarana untuk mengenalkan Allah ke anak-anak kita. Dalam sebuah hadist Rasulullah bahkan pernah menasihati seorang anak kecil untuk menjaga Allah setiap saat. Dengan mengajarkan Alquran sebagai kurikulum yang pertama buat anak kita,  kita dilatih untuk mengutamakan hak-hak Allah sebelum yang lain. Tentunya hal ini selain sebagai sarana taqarub kepada Allah juga pernah Allah catat dalam Alquran bahwa barang siapa yang mengutamakan hak Allah maka akan dipenuhi semua rizkinya.

Alquran juga memberikan banyak keutamaan baik untuk diri anak dan untuk kita pribadi. Semakin sering memberikan asupan Alquran kepada si kecil, selain memberikan ketenangan tersendiri bagi kita, juga banyak pembuktian bahwa Alquran memberikan kebaikan bagi sel-sel saraf usia balita yang masih dibangun. Tentunya hal ini juga menambah poin kebaikan bagi tumbuh kembangnya. Dan insya Allah menanamkan pelajaran pertama dan utama Alquran di masa kecil, bagai menanam banyak kebaikan di masa yang akan datang. Karena pastinya efeknya kelak akan kita rasakan tidak akan lekang ditinggal zaman.

2. Beberapa Prinsip Rumah tangga kami

Bagaimana kita memulai, sedang pasti kita awalnya akan merasa pesimis. Jangankan anak kecil kita aja mungkin sebagai orang dewasa merasa sulit bukan belajar Alquran. Namun dari awal menjawab tantangan ini, saya pribadi termasuk yang percaya bahwa otak anak itu lebih luar biasa dibanding orang dewasa. Kemampuannya sama, namun informasi yang anak kecil tangkap belum banyak bukan? Makanya itu saya pikir, semakin besar justru akan semakin sulit untuk menanamkan Alquran. Ternyata juga sepikiran dengan apa yang dibahas di buku ini

Prinsip pertama adalah menjadikan Alquran adalah isu utama di rumah kita. Tentu ini prinsip yang paling mendasar. Bagaimana kita bisa membuat mereka betah dan suka dan isi Alquran, jika rumah kita dan kita sendiri kurang menghiasi diri dengan Alquran. Hal-hal sederhana yang bisa kita tiru adalah misalnya katakan jika suatu hari dpt rezeki bahwa ini adalah dari Allah karena kita rajin baca Alquran. Memperlihatkan si kecil video anak kecil penghafal Alquran. Memperlihatkan peta dunia, bahwa banyak sekali muslim di dunia yang sama-sama baca Alquran. Berkenalan dengan para penghafal Alquran dll.

Prinsip yang kedua adalah menjadikan kesuksesan Alquran sebagai bentuk penghargaan tertinggi bagi anak. Kita sering sedikit boros jika anak ulang tahun, naik kelas, dapat rangking, namun tak bisa kita pungkiri banyak dari kita kurang antusias untuk menghargai payah anak kita akan belajar Alquran. Hal ini sebaiknya dihindari. Meski seperti kurang “ikhlas” karena mungkin ini menyoal ibadah, namun bagi anak kecil ini sebuah penghargaan. Dan kelak di masa depan ia akan mengenang akan loncatan-loncatan indah saat belajar Alquran. Dan yang harus dijadikan patokan utama adalah maknawi dari reward itu sendiri. Beri arti dari pemberian yang kita beri, bukan hanya kepuasan akan hadiah. Ada banyak hadist dan ayat Alquran yang bisa kita jadikan asupan bagi anak-anak kita.

PRinsip ketiga adalah Alquran harus selesai di masa kecil. Banyak orang, termasuk kita barangkali berpayah-payah belajar Alquran saat dewasa. Di tengah kesibukan lain yang juga butuh prioritas utama. Kita belajar dari pengalaman itu. Jangan sampai anak-anak kita merasakan hal yang sama.

Prinsip keempat adalah berharap untuk mendapat kebaikan dari Alquran itu sendiri. Ada banyak keutamaan, keistimewaan bagi orang-orang yang belajar dan membaca Alquran. Semoga dengan menanamkannya sejak dini kita bisa mendapatkan semua itu.

3. Beberapa prinsip pembelajaran di rumah kami

Hal yang pertama harus menjadi prinsip adalah pahami prinsip belajar dari yang mudah. Banyak pembelajaran baru yang saya dapat dari buku ini. Mengajarkan Alquran pada anak balita tentu tidak sama dengan pada orang dewasa. Sebagaimana kita tahu, anak kecil bermain dengan otak kanan. Jadi pada intinya kita juga harus menanamkan prinsip bahwa Alquran ini mudah bagi si kecil. Hindari huruf-huruf yang sulit seperti tsa, ain, dho, dzo, khawatirnya jika kita memaksakan yang sulit si kecil akan cepat bosan dan malas untuk belajar. Kemudian bumbui pembelajaran dengan aneka rupa permainan yang menyenangkan. Kemudian butuh kiranya juga kita untuk fokus kepada usahanya bukan kepada hasil.

Prinsip kedua adalah beri reward dan minimkan punishment. Dan butuh dikeahui, dari buku Dr Sarmini ini nyaris saya tidak menemukan contoh kasus saat beliau harus memberi punishment kepada anaknya. Sebaiknya mungkin dihindari dibanding membuat trauma.

Prinsip selanjutnya adalah menanamkan prinsip bahwa mencintai Alquran adalah lebih utama dibandingkan pandai membacanya. Tentu saja ini point utama karena sekedar membaca mungkin biasa, namun istiqomah membaca hingga akhir masa itu adalah istimewa. Tentunya dengan mempelajarinya dari kecil ada baiknya moment-moment indah bersama Alquran dibuat dokumentasi dan kelak menjadi kenangan tersendiri bagi kita dan anak-anak kita.

4. Kiat-kiat kami mengawali cita-cita

Azam yang kuat tentu dibutuhkan untuk mengawali cita-cita besar ini. Tahap selanjutnya konsisten, karena pastinya dalam pelaksanaan akan banyak dipenuhi rintangan. Kadang rintangan itu bukan hanya dari anak, tapi justru mungkin dari kesibukan kita sebagai orang tua. Nah dalam hal ini Dr Sarmini menceritakan bahkan ia sampai terlambat datang ke suatu undangan demi tercapainya target membaca Alquran anak-anaknya. Intinya jangan jadikan program ini menjadi prioritas kesekian dalam agenda kita sebagai pendidik. Kemudian jadikan istiqomah sebagai kunci keberhasilan proses ini. Jika lelah atau sedikit mogok pilihan rihlah untuk bisa mendapat energi kembali bisa dilakukan. Juga senantiasa berdoa kepada Allah taala sebagai kunci keberhasilan atas semua usaha kita.

5. Kiat-kiat kami mengajarkan anak membaca Alquran

– Tebarkan isu tentang Alquran sebanyak mungkin saat di rumah maupun di luar rumah.

– Rayu anak dengan hal-hal yang mereka sukai

– Sertakan anak saat membeli alat peraga, hingga ia merasa andil akan pembelajaran yang akan dia kerjakan.

– Anak pertama menjadi kunci

6. Kendala dan solusi

– Orang tua biasanya kurang telaten dan kurang sabar

– Mudah marah

– Terlalu kaku dengan target, padahal ingat setiap anak memiliki keistimewaan yang berbeda.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk menghindari hal itu adalah dengan eksplorasi dari orang tua kenapa anak belum mau mengaji. Jika masih kebanyakan bermain, ada baiknya kita memberi waktu bermain namun dibatasi. Jangan sampai kewajiban mengaji ini adalah beban bagi anak, dan sebaiknya kita harus menanamkan pada jiwanya untuk mencintai kewajiban ini (ini point penting banget saya rasa), sarana dan fasilitas selama ada kekuatan azam insya Allah semua bisa dikerjakan.

Bagian kedua dari buku ini, Dr Sarmini lebih memaparkan kepada teknis pembelajaran. Point pentingnya adalah, pembe;ajaran Alquran bisa dimulai anak bisa mengucap sepatah kata. Misalkan papa, mama, biasanya anak umur 1,5 tahun bisa kita mulai kenalkan huruf hijaiyyah.