Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2011

Alhamdulillah tanggal 26 Oktober kemarin adalah perjalanan pernikahan kami di tahun ketiga. Rasanya sudah banyak Allah memberikan kami pelajaran dalam kehidupan bersama. Merajut benang kasih dengan seseorang yang telah digariskan untuk bersama. Aku memilihmu dengan cara yang tidak biasa. Adalah wajar jika satu dan lain hal aku banyak belajar sesuatu yang memang tidak biasa.

Abi, jika memang aku tidak bertemu denganmu. Mungkin aku tak pernah tahu bagaimana arti menjadi seorang ibu dan istri. Dulu sekali aku bercita-cita tinggi sekali. Menjadi gemilang di mata dunia, mendahulukan sebuah ambisi dan hasrat pribadi. Kenyataan abi lebih tau bagaimana mendidik aku menjadi gemilang di mata Ilahi. Hanya dengan menjadi ibu dan menjadi istri saja aku merasa lebih sempurna. Sempurna memenuhi tugas-tugas aku yang utama. Juga abi  mengajariku bagaimana artinya mencintai. Mencintai dengan sepenuh hati. Mencintai yang tak menodai cinta-Nya untuk ilahi. Sebagaimana dahulu kita berjanji. Melewati aral melintang kehidupan di dunia untuk kembali kemudian hari.

Abi, sungguh dirimu telah mendidiku menjadi wanita yang sempurna. Jika saja dulu aku bersikukuh untuk mengejar kegemilangan dunia. Entah apa yang terjadi. Abi yang baik, tak pernah melarangku untuk mengerjakan apapun sesuka aku. Dulu hidupku betul-betul pilihan. Namun seiring berjalannya waktu, kau berikan aku kesadaran. Disinilah tempatku berkiprah dan berjalan menuju keistimewaan yg hakiki. Saat berkali-kali aku gagal menempuh semua, aku diajarkan begitu rapuh aku di luar sana. Lalu abi memberikan aku kesempatan lain untuk serius menjadi ibu. Kalau saja aku tidak mencoba menempuh jalan ini, mungkin aku tak akan merasa sempurna seperti ini. Akan banyak penyesalan yang mungkin ada. Kekurangan aku dalam menjalankan amanah Allah atau sekedar memenuhi tuntutan sebagai istri. Hanya karena termakan ambisi pribadi. Kenyataan sekarang keadaan menjadi berkebalikan. Justru saat aku berbahagia dengan menjadi ibu dan istri, aku pribadi merasa menjadi seseorang yang selalu hidup dan berkarya. Merasa menjadi manusia yang paling berbahagia diliputi senyum dan canda keluarga sepanjang hari. Menyibukkan diri untuk membahagiakan dua jagoan di rumah ini. Pun tak jarang aku memperoleh waktu untuk sendiri. Belajar banyak hal, mengisi pikiran dengan berbagai hal yang aku mau tahu. Dan abi pula yang mengajarkan aku sebuah ranah keikhlasan. Bahwa academic record itu tidaklah menjadi penting. Jika kita kelak  tak tahu bagaimana mempertanggung jawabkannya untuk Ilahi. Sedang sebagai seorang wanita kita punya kewajiban yang lebih utama. Andai saja kita bisa tetap konsisten mengutamakannya ya tiada masalah, sebagaimana dicontohkan oleh beberapa sahabiyah di era gemilang Rasulullah SAW. Namun adakah aku bisa meneladaninya? Lalu kau datang menghiburku. Engkau berkata bahwa academic record  yang sebenarnya hanyalah ada di pencatatan dua malaikat yang selalu menemani kita. Seberapa besar kita beramal, seberapa besar kita mampu menjadi hamba-Nya yang lebih baik lagi. Hingga aku berfikir kembali kesempatan yang mana yang lebih besar aku raih mencapai surga-Nya.

Bersamamu juga mengajarkan aku bagaimana seharusnya kita mencintai. Mencintai tanpa menodai kecintaan untuk Ilahi. Aku sadar, diri ini pribadi yang biasa. Terkadang terbesit dari hati yang terdalam kebanggaan untuk dicintai. Kebanggaan untuk dimiliki. Kebanggaan untuk disayangi dengan sepenuh hati. Namun kembali abi mengingatkan aku. Sejatinya perasaan itu tak perlulah menjadi yang utama. Diantara banyak rutinitas lain yang seharusnya kita kerjakan sebagai hamba-Nya. Jangan sampai melalaikan kita untuk mengerjakan tugas-tugas yang utama. Abi pula yang mengajarkan aku untuk tidak bergantung. Pun aku sebagai seorang wanita. Sudah mencari menjadi fitrah untuk mencari perlindungan kepada orang yang mencintainya. Namun pada akhirnya aku selalu sadar. Hanya Allah saja tempat aku bergantung. Ada saat abi ada untuk aku dan anakku. Ada saat aku harus berjuang sendiri dan bergantung pada Ilahi. Dengan itu, terkadang aku merasa lebih mandiri. Pun seringkali perasaan berjuang sendiri terbenam dibenakku yang seringkali galau termakan buaian kesadaran. Namun perlahan aku sadar, begitulah sejatinya kehidupan. Bukan melulu untuk sebuah keindahan dalam kebersamaan. Karena kita harus berjuang. Hingga di akhirat kelak kita bisa merasakan manisnya perjuangan itu.

Pada akhirnya, aku pun sadar. Cerita kita masih panjang. Ada banyak cerita lain di balik kebersamaan kita. Tiga tahun saja memberi banyak arti untuk kami. Kami menyadari, kami bukan pribadi yang istimewa. Namun berkat Allah saja yang mengajari kami arti bersama untuk menjadi lebih istimewa. Begitu banyak perbedaan yang hadir dalam kebersamaan ini. Pun kita tak ayal tampak seperti pasangan yang biasa saja. Sangat jarang kami terlihat pergi bersama. Bahkan menghabiskan waktu berdua bersama. Tak mengapa kita tampak sedikit berbeda. Selama perbedaan itu bisa kita pertanggung jawabkan di hadapan Ilahi kelak. Namun sesungguhnya aku tau apa yang ada di hati mu, juga kau tau apa yang ada di hatiku. Atas segala pengorbanan, pengorbanan mu dan segalanya yang telah aku kerahkan. Terimakasih banyak yah Abi.  Semoga kisah indah ini selalu menjadi penyemangat jalan juang kita selanjutnya. Mengingat masa saat kita sama-sama saling menjaga perasaan. Bertahan untuk menang. Hingga suatu hari kita tersenyum kembali. Yah kita memang pribadi yang biasa, sangat butuh diajarkan ini itu. Seperti anak kecil yang baru belajar kehidupan. Seperti seorang anak kecil yang baru tahu bagaimana rasanya hidup bersama dengan yang lain.

Begitulah aku menilai untuk dirinya yang aku cintai. Bukan penilaian yang terlampau sangat istimewa sebagai orang yang dicintai. Karena memang abi tak pernah menjanjikan apa-apa yang istimewa untuk diriku. Selalu saja dirinya mengembalikan aku kepada yang berhak memilikiku. Supaya aku paham, kami istimewa karena-Nya saja. Sekali lagi aku tekankan ini semua cukup untuk kami. Ini semua hanya nasihat untuk diri. Karena diriku selalu diajarkannya untuk tidak melihat orang lain dalam kehidupan ini. Karena itu, aku tak mau ini menjadi ajang pembenaran bagi diri yang tidak menyepakati. Tak mengapa kita sedikit berbeda. Karena aku memilihnya dengan cara yang sedikit berbeda pula. Semoga kebersamaan ini menjadikan indah selalu, saat kami harus kembali kepada Yang Memiliki kami sepenuh hati.

Amiiin ya Robbal alamin…

Daegu, 29 oktober 2011

Advertisements

Read Full Post »


Lagi dan lagi bocah kecilku masuk ke gedung sebelah rumah apate-ku. Padahal beberapa kali aku bilang itu bukan rumah kami. Entah kenapa dirinya suka sekali memasuki gedung itu. Memang ada pemandangan  menarik disana. Di pelataran gedung itu ada seorang kakek-kakek tua yang duduk sepanjang hari. Rambutnya memutih semua,badannya yang merenta terduduk di kursi roda. Awalnya aku lihat kakek tua itu nampak tak berekspresi. Tatapannya hanya lurus saja ke depan. Namun belakangan aku tahu bahwa ia buta.

Menariknya, lagi-lagi aku terjebak untuk memperhatikan Sang Kakek. Ini semua juga terjadi karena anak kecil dalam asuhanku yang gemar sekali memperhatikan Sang Kakek. Padahal kakek itu tidak pernah tahu ada anak kecil yang memperhatikannya. Tak jarang saat mendengar suara langkah kaki mendekat ataupun ada orang di sekitarnya, Sang Kakek berbicara ngaler ngidul tanpa kejelasan. Sempat aku khawatir jangan-jangan selama ini anakku telah mengganggu-nya.

Suatu hari aku memberanikan berbicara padanya, “ Anyoong Harabochi, Aegi isoyo..…”

“Kamu siapa, mau apa?” jawabnya singkat.

“ Saya warga asing disini, kami dari Indonesia, anak kecil saya suka sekali melihatmu di rumah ini…” jawabku sedikit menjelaskan dengan bahasa yang sangat terbatas.

Sang Kakek  itu pun tertawa lebar. Tentu saja membuat anakku semakin suka berada disana lantas anak kecilku pun ikut tertawa. Sesekali dia berkata, aku sebatang kara buat apa kamu datang kemari. Anakku saja tak pernah memperhatikan aku. Sembari berbicara dan terus berbicara kesana kemari dengan bahasa yang tentu saja aku tak terlalu paham.

Tiba-tiba saja aku teringat kisah kecilku, kisah kecil semasa aku mengaji di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran). Saat itu aku menangis tersedu-sedu. Mamaku sakit, sedang aku ingin rasanya mengikuti kegiatan kenaikan kelas yang diselenggarakan oleh TPA-ku. Lantas ustadzku berkata, tak perlu bersedih karena kewajiban kamu yang paling utama adalah di rumah menemani ibu yang sedang sakit. Dahulu juga Rasulullah SAW demikian adanya, memerintah  seorang sahabat mengurus orangtua-nya dan tidak ikut berjihad, Abdullah bin Amru bin Ash  pernah meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” Begitu dan begitulah pemahamanku sejak aku mengenal sosok Rasulullah SAW lewat Ustadzku yang selalu saja mengajarkan untuk berbakti khidmat dan hormat kepada kedua orang tua. Bahkan bukan saja saat mereka ada di dunia.  Andai mereka telah tiadapun,  segala bentuk doa yang terucap kepada keduanya dijadikan jalan ladang pahala untuk mereka.

Kenyataan fenomena ini sudah menjadi pemandangan yang biasa di negara minoritas muslim Korea. Rakyatnya kebanyakan tak ber-Tuhan. Tiada rasa takut akan berdosa,  keseharian mereka hanya disibukkan dengan urusan dunia dan kesenangan belaka. Mereka tak paham makna kembali, mereka tak tahu untuk apa kehidupan disini. Hatinya begitu rapuh hanya karena menghadapi kesulitan dunia yang sedikit menyiksa saja, alih-alih  berakhir dengan mati bunuh diri. Terus terang kehidupan aku disini membuat aku sedikit bernostalgia dengan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan Rasulullah SAW. Rasanya menyesal sekali tak aku bawa sebundel buku tentang kehidupan Rasulullah SAW.  Ternyata tak cukup hanya sekali membaca untuk bisa menyelami hikmah yang terkandung di dalamnya. Aku jadi paham mengapa dahulu Rasulullah SAW lahir dan besar di tanah gersang Arab Saudi. Bagaimana dengan aku disini, bagai mahluk asing yang terasing di negeri yang sungguh asing. Tiada yang banyak yang bisa kuperbuat. Lantas untuk menjaga keimanan diri pribadi saja aku begitu sulit, terlalu banyak yang melenakan. Masjid tak mudah aku tempuh, berpakaian yang Syar`i pun di kondisi tertentu hanya jadi bahan olok-olokkan masyarakat sekitar. Mereka bilang aku gila, berpakaian tertutup di saat musim panas yang semakin ganas dari tahun ke tahun disini. Ya Allah semoga engkau selalu memberikan kekuatan iman dan kebaikan untuk diriku dan keluarga.

Suatu sore yang menarik, lagi-lagi bocah kecil aku mendekati kakek tua yang sedang duduk di halaman gedung sebelah apate-ku. Saking seringnya Sang Kakek pun tau kalau saat itu ada kami disana.

Lantas tiba-tiba Sang kakek berkata, “ Di TV sedang ramai dibicarakan tentang teroris, teroris itu bagai penjahat nomor satu di dunia ini. Kamu tau apa itu teroris?”

“Nee Haraboch”, Jawabku singkat. Sedikit menghela nafas entah apa yang akan dia katakan selanjutnya.

“ Anakku pergi merantau bekerja di salah satu perusahan minyak di Negara timur tengah, aku sendiri khawatir akan keselamatannya, yang aku paham disana tak aman”,  tuturnya melanjutkan.

“Mengapa?.”, tiba-tiba aku penasaran bertanya.

“Tak tahukah kamu, merekalah sumber kekacauan di dunia ini. Tidak hanya membuat kacau negeri mereka sendiri, bahkan kerap kali memberikan kekacauan di lain Negara. Mereka bunuh orang yang beragama lain dengan mereka, atas nama pembelaan kepada agama mereka”, jawabnya bertutur.

Sebetulnya begitu banyak yang dia ceritakan tentang islam dan timur tengah, namun karena keterbatasan bahasaku, tak banyak yang aku tangkap dari tuturnya. Sama hal-nya dengan orang Korea kebanyakan. Awal kali aku datang kesini, bahkan mereka tak paham bahwa aku berhijab karena aku muslim. Saat bilang aku muslim, kemudian mereka menyamakan aku dengan perempuan Arabia pada umumnya.

Aku tak pernah tau, jika saja Harabochi itu tau bahwa aku perempuan berjilbab bisa jadi dia tak akan pernah mau berbincang denganku. Sesekali aku berlagak tak mengenalnya, saat istri Sang Kakek ada mendorong kursi roda masuk ke dalam rumahnya. Keseharian Kakek tua itu ditemani oleh Sang Istri. Seorang nenek yang saban kali aku melihatnya mendorong-dorong stroller bekas berisi tumpukan  barang rongsokan yang hendak di jual. Sepanjang hari di musim panas yang mengganas maupun di musim dingin yang  menggigil Sang Nenek tak ayal mengais rezeki dengan mencari barang bekas di setiap tumpukan sampah yang ia temui. Awalnya aku iba melihatnya, tapi belakangan aku tau disini pekerjaan bukan suatu pretise. Dengar dari pengais sampah di dekat mini market tempat aku belanja, hanya dengan menjual sampah bekas dirinya bisa memiliki mobil dan memiliki tiga rumah serta membiayai anak-anaknya bersekolah. Tiada pekerjaan hina disini asalkan menghasilkan uang dan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sejak kejadian itu, entah kenapa aku sendiri jadi urung untuk bermain kesana lagi. Padahal anakku kerap kali menarik-narik tanganku untuk mengunjungi Sang Kakek. Namun kembali aku teringat sosok Rasulullah SAW. Buat apa aku membenci, terlebih pada seorang kakek yang tak pernah mengerti. Tiba-tiba saja aku teringat kisah Rasulullah SAW dengan seorang kafir tua nan buta. Saban hari beliau selalu memberikan makanan pada kakek itu. Bukan saja memberikan makanan tapi Rasulullah SAW juga dengan sabar mendengarkan keluh  kesah Kakek itu pun menyangkut dirinya sendiri. Namun kebencian tak dibuatnya, selalu saja sikap hormat dan takzim pada orangtua yang semestinya dia tampilkan. Sampai hingga Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar Ra. ingin menyempurnakan Sunnahnya dengan mengunjungi kakek tua itu. Lantas Sang Kakek sedemikian marah. Ia berkata tanganmu beda sekali dengan orang yang selalu memberiku makan. Dia tidak demikian adanya, begitu lembut dan penuh kasih sayang. Lantas ia pun melumatkan makanan di mulutnya karena gigiku tak sanggup mengunyah makanan ini. Abu Bakar  Ra. kemudian menangis tersedu-sedu. Sungguh istimewa orang yang saban hari menyuapi dirimu. Akhirnya Kakek itu tau bahwa yang biasa menyuapinya itu sudah wafat, lantas ia pun menangis. Pada akhirnya Kakek itu tau bahwa orang yang selama ini ia benci lewat celotehan-celotehan yang ia lontarkan pada si penyuap nasi itulah dia orangnya, yang selama ini telah berbuat baik untuk dirinya.

Begitulah akhlak seorang muslim, tiada dipupuk rasa benci se-dzolim dan sehina apapun yang mereka katakan atas diri. Mengapa mesti khawatir, mengapa mesti takut, berbuatlah siapa tau menjadi jalan hidayah tersendiri. Tiba-tiba saja aku teringin membawa sesuatu untuk Sang Kakek. Barangkali saja ia lapar, dan istrinya belum kembali. Aku berjalan menujunya, pemandangan yang sama aku dapatkan.

“Harabochi sudah makan? Anakku sedang makan sambil bermain di depanmu”, tuturku.

“Belum, tunggu istriku memberi makan. Tak banyak yang aku bisa lakukan tanpa dirinya. Sudah sering aku bilang aku lelaki tak berguna”, jawabnya menjelaskan.

“Boleh aku beri kakek sedikit makanan”, sedikit ragu.

“Makanan apa?” jawabnya singkat.

“Sedikit kue buatan sendiri”, sembari memberikan sepotong kue ke tangan sang Kakek.

Alhamdulillah senyum terpancar di wajah Sang Kakek membuat hatiku lega tak terkira. Lantas ia pun dengan serta merta menghabiskan satu plastik kue yang aku berikan untuknya.

Sampai sejauh itu, pun dirinya tak pernah tau sosok aku seperti apa. Aku berusaha tak peduli. Hanya sedikit ingin meneladani apa yang Rasulullah SAW pernah lakukan dimasa lalu. Menghormati setiap orang tua dalam kondisi apapun. Menghormati sejatinya tidak perlu mengorbankan kekokohan Aqidah kita. Ternyata hal tersebut tidaklah sulit. Hanya butuh keberanian bahwa kita adalah muslim yang sejati. Muslim yang santun, yang baik pada setiap orang yang dijumpai. Sebagaimana Rasulullah SAW telah ajarkan lewat kisah-kisahnya yang terdapat dalam AlQuran dan Assunahnya. Ah andaikan beliau masih ada, tentu aku akan berusaha belajar lagi lebih dalam mengenal sosoknya. Terlalu jauh aku beandai-andai, terlalu jauh pula jarak yang terbentang antara aku dan diriNya. Tak banyak yang bisa aku lakukan disini Ya Rasulullaah, sedikit usaha aku ini mudah-mudahan jadi awal untuk senantiasa mencintai Sunnah-Mu di negeri yang gersang, negeri yang Angkuh, Negeri yang penuh kedzoliman. Semoga dengan ini bisa membawa diriku keistiqomahan. Amiin ya Robbal Aalamin.

Glossary :

  1. Apate : Gedung apartemen
  2. Aegi isoyo : ada anak kecil
  3. Myianheo : maaf
  4. Harabochi = kakek
  5. Nee = iya

Read Full Post »

Pagi di Korea

 

Di waktu hening malam

Di waktu manusia di alam mimpi

Di waktu sepi sebarang sunyi

Embun pagi membasahi bumi

            -Diwani,Hening Malam-

            Nasyid lawas  itu membuat saya sedikit tersentak dengan kenyataan yang seringkali saya lewati selama dua tahun hidup di Korea. Rasanya sudah menjadi perbincangan umum, bahwasanya sulit sekali bangun di pagi hari di Korea ini. Entah mengapa musim dingin, semi, panas, gugur yang saya lalui begitu saja selalu saja tidak menghasilkan perubahan yang seharusnya bisa saya evaluasi. Sedih rasanya, kenyataan dulu raga ini seringkali bisa sujud tersungkur menyambut indahnya adzan subuh dan ayam jago yang berkokok di pagi hari. Indah rasanya saat bisa merasakan menunggu pagi dengan lantunan tilawah dan doa yang panjang disertai tangisan yang menderu-deru. Sudah cukupkah Allah memberikan semua yang kau mau sehingga raga ini sulit menyambut seruanMu?…Rasanya jiwa ini terlalu angkuh untuk bergegas menghadapNya.

            Tiba-tiba kerinduan yang menggebu terhadap seseorang yang nyaris dua tahun tak kuasa kutatap wajahnya. Ayah, semoga dirimu tak lekang untuk mengikuti Sunah Rasulullah membangunkan anak-anakmu di pagi hari. Begitulah beliau, nyaris sama dengan kisah yang kudengar saat Rasulullah selama 6 bulan setiap pagi selalu berjalan di depan tempat tinggal Fatimah r.a. Ia ketuk pintu setiap kali hendak mendirikan shalat. Rasulullah senantiasa memanggil “Shalat, shalatlah wahai keluargaku, sesungguhnya Allah hendak membersihkan dosa-dosa kalian dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.(HR.Tirmidzi). Rasanya baru kemarin dengar suara semangat beliau dipagi hari mengetuk pintu kamarku, atau kesibukan beliau saat Ramadhan menelepon anak-anaknya hanya untuk membangunkan waktu sahur. Ramadhan terakhir disini pun aku masih menerima telepon darinya, padahal begitu jauh jarak memisahkan kita. Ayah, sungguh diriku merindukan masa-masa itu mengapa begitu hilang ditelan waktu.

            Tak ada maksud menyalahkan pagi yang saya rasakan disini. Karena setiap pagi pasti memberikan inspirasi tersendiri dimanapun pagi itu berada. Pagi selalu identik dengan kesegaran, kegairahan dan semangat. Pagi adalah harapan dan optimisme. Pagi pun tak pernah ingkar janji selalu ada memberikan rezeki tersendiri. Begitulah Rasulullah menasihati ummatnya, seraya memanjatkan doa “ Ya Allah berkahilah ummatku di pagi hari “ (HR. Abu Dawud). Mulanya saya pikir, karena sepi sunyi senyap menemani pagi disini. Tak ada ayam berkokok dan deru adzan subuh membangunkan manusia di waktu pagi. Hiruk pikuk pedagang asongan berteriak di pagi hari menyediakan bubur ayam, nasi uduk, dan koran pagi. Apa mungkin diri ini terlalu manja dengan ritual-ritual itu?. Bahkan seringkali kita menyalahkan kebiasaan-kebiasaan orang korea yang memang sebaiknya tidak kita ikuti. Padahal  kita semua sedari kecil sudah diajarkan untuk menghindari tidur terlampau malam dan bangun di siang hari. Sebaliknya konon kabarnya orang korea gemar sekali tidur malam dan bangun siang. Kenyataan kadang demikian adanya,  larut malam yang sunyi selalu aja ada teriakan orang atau sekedar gemuruh orang yang bercakap-cakap di samping apate kami. Namun, naif rasanya jika kita menyimpulkan begitu saja kebiasaan mereka. Kenyataan seringkali aku dengar deru mesin mobil di pagi hari, suara mobil sampah yang menggelegar  tepat sebelum matahari bersinar menyinari bumi ini. Pastinya ada manusia yang bergegas menyambut pagi dimanapun adanya. Bahkan sesekali akupun merindukan tetangga depan apateku yang selalu menyalakan lampu rumah jam 5 pagi, dia anak muda,  mahasiswa,  dari style dan buku-buku yang kerap kali ia bawa aku bisa simpulkan. Tak ada yang bisa dipersalahkan, kecuali diri ini yang terlalu egois untuk bisa merubah diri.

            Bagi orang muslim pagi tentunya selalu identik dengan waktu Subuh. Ada pengkhususan tersendiri dan Allah memberikan keutamaan tersendiri dengan tauladan dari Rasulullah  untuk berjamaah di waktu Subuh dan Isya bagi kaum laki-laki. Sedang kita sebagai muslimah mengerjakan dua waktu itu secara tepat waktu. Dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim dikatakan, dari Abu Hurairah r.a, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda.”Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat `Isya dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak”. Begitu banyak pesan Rasulullah dalam mengungkapkan rahasia di balik kedahsyatan shalat shubuh. Apabila beliau meragukan keimanan seseorang, beliau akan melihatnya apakah ada baginya shalat berjamaah shubuh di mesjid? Sungguh kenyataan hal ini sepatutnya kita teladani. Walaupun sulit, setidaknya selalu ada usaha dalam diri.

Berbicara tentang Subuh di Korea, kami sepatutnya bersyukur kenyataan menemukan mushala kecil di sekitar rumah adalah bukan hal yang sulit bagi kami. Artinya Allah masih memberikan kami kesempatan meraup kesempurnaan itu. Sekitar 500 m dari gedung rumah kami, terdapat sebuah gedung kampus dan disediakan satu ruangan kecil untuk para muslim melakukan kegiatannya diantaranya shalat berjamaah. Diceritakan oleh teman kami yang bernama Abdurrahman, bahwa mushala itu ada berkat usaha dua muslim Bangladesh pada masa lampau yang mengusahakan kepada Rektorat agar bisa Shalat Jumat dikampus. Kebetulan jarak kampus dengan Islamic Centre  di kota kami cukup jauh. Bagi saya sebagai seorang istri yang tentunya ingin sekali memiliki suami yang sholeh dan taat beribadah, Ada kebahagiaan tersendiri melihat suami gemar sekali melakukan shalat berjamaah di mushala kecil itu. Terbayang sudah di pelupuk mata, beratnya beliau melaksanakan shalat berjamaah saat hiruk pikuk kesibukan di Lab yang sangat menyita waktu. Baginya bukan masalah, kejujuran dan sikap berterus terang sebagai seorang muslim harus berani kita tunjukan. Katakan saja bahwa kita harus membagi waktu kita lima kali untuk shalat berjamaah di mesjid.  Saat musim panas tiba, sudah barang tentu bangun pukul 3.30 pagi keluar rumah terkadang sesekali beliau menjumpai para ajoshi yang mabuk sepulang dari night club . Bagi kita melihatnya ada tantangan tersendiri, bukan saja waktu Subuh yang terlalu cepat bahkan saat itu tak ada bedug Subuh yang biasa menggetarkan hati kita saat di tanah air. Tak ada suara nyaring adzan membangunkan dirinya untuk bersigap bersegera menunaikan tugas mulia itu. Dering alarm rasanya tak cukup untuk menuhi kebutuhan bangun, tak cukup jika tidak diiringi dengan niat kuat untuk bisa bangun di pagi hari dalam kondisi sunyi senyap seperti itu. Belum lagi intaian CCTV di setiap gedung mengiringi langkah beliau menuju mushala. Orang yang tak terbiasa melakukan hal itu pastinya akan keheranan melihat kelakuan orang muslim yang sedikit berbeda. Di lain waktu, saat musim dingin tiba pagi kembali tak bersahabat. Pagi hari biasanya suhu dingin sedang asyik-asyiknya menyelimuti. Pernah suatu ketika beliau memaksakan keluar rumah untuk melaksanakan shalat Subuh dimana suhu diluar mencapai minus 18 derajat, itu adalah minus terhebat selama musim dingin dikotaku. Sungguh aku bangga dengan kegigihannya. Pun sesekali beliau mengeluhkan, hanya 4 orang dari sekitar 30 orang muslim di kampus yang biasa ada,  istiqomah melaksanakan shalat Subuh di pagi hari. Sedih juga tampaknya, padahal orang Yahudi pernah berkata salah satu ketakukan mereka terhadap orang islam adalah saat jumlah jamaah shalat Subuh menyamai jumlah jamaah shalat Jumat. Semoga suamiku istiqomah dengan rutinitas itu sekaligus menyemangati aku untuk selalu bersegera melaksanakan shalat shubuh dan menciptakan aktifitas di pagi hari.

Sepatutnya pagi memberikan khazanah tersendiri bagi nurani seorang muslim. Kehidupan pagi adalah ciri orang sholih. Sebagaimana Allah memberikan keistimewaan kepada mereka yang pertama menyambut datangnya cahaya islam pada kehidupan Rasulullah SAW di era kenabian. Asshaabikuu nal awwaluun begitulah mereka di beri gelar. Pagi adalah berkah seringkali Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa waktu pagi adalah malaikat yang turun kepada hambanya untuk membagikan rezeki. Sepatutnya kita yang diberi banyak kesempatan untuk meraup kenikmatan dunia lebih pandai memahami hal tersebut. Padahal kalau boleh menganalogikan saya selalu teringat ibu-ibu pedagang nasi kuning di sekitar rumah saya dulu.  Pukul 06.00 pagi setumpuk nasi kuning sudah siap untuk diperdagangkan. Ya… merekalah sosok-sosok yang lebih layak memahami arti penting sebuah pagi. Bagaimana dengan kita?, padahal nasib kita jauh lebih baik dibandingkan  mereka.

Kenyataan rahmat Allah selalu ada di seluruh peradaban bumi Allah ini. Dimana pun pagi itu berada, pastinya ada cahaya tersendiri. Maka adakah kita yang ingin meraup nikmat Allah itu? Seringkali kita terlena dengan kondisi berat yang seringkali kita jumpai. Dinginnya Subuh di musim dingin, juga saat musim panas datang di rasa Subuh datang terlalu dini sehingga tetap saja mata ini asik terpejam di kala itu. Lantas Allah berikan musim semi yang menghangat juga sejuknya udara di musim gugur, aah..ternyata tidak ada penyelesaian selalu begitu dan begitu. Bukan karena minimnya warga muslim disini yang melulu kita persalahkan, bukan pula udara yang sangat ekstrim senantiasa selalu ada disini. Bukan itu, tetapi kita…Kita yang kurang bisa bangga menjadi seorang muslim. Kita kurang peka terhadap Rahmat Allah yang senantiasa ada. Karena rahmat Allah dimanapun adalah sama, tak akan pernah berbeda. Semoga bisa menginspirasi!!

-Salam takjub untuk suami tersayang, dirimu adalah inspirasiku-

Read Full Post »