Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Parenting’ Category

Motivasi saya ambil dari sini :

Sebetulnya sudah lama saya mencari referensi tentang bagaimana caranya mengajarkan Alquran kepada balita. Saya pun tak luput sudah berusaha bertanya ke ibu-ibu shalihah di dunia maya, di beberapa group juga pernah saya sebar informasi yang sama. Namun rasanya belum puas mendapat jawaban yang cocok dengan yang saya harapkan. Ada yang bilang memang belum saatnya balita diajari Alquran, paling-paling hafalan saja, karena masih insting bermain. Namun feeling saya merasakan jika tidak sekarang, lihat saja nanti, kelamaan anak saya akan semakin sulit untuk disuruh ngaji karena termakan banyak sekali mainan dan hal yang baru, yang menguras waktu dia sehari-hari.

Hingga, subhanallah dalam setiap perjalanan saya selalu percaya bahwa jika ada azam pasti Allah memberikan jalan. Seorang sahabat memberi kabar kepada saya, tentang buku ini :

http://www.khazanahintelektual.com/Alhamdulillah%20BALITAKU%20Khatam%20AlQuran

Subhanallah Alhamdulillah, jujur saja saya merasa puas dengan buku ini. Semua pertanyaan saya beliau kupas dengan bahasa yang mudah dipahami. Saya tak kenal siapa itu Dr Sarmini, namun jujur membaca buku ini seperti sedang berada dalam satu majelis dengan beliau,diberi wejangan-wejangan yang mengena sekali tentang memahamkan Alquran kepada anak kita. Pasti penasaran kan, selanjutnya sebagai bahan referensi saya juga, dan agar isi buku ini melekat di ingatan saya akan saya buat resensinya :

1. Mengapa Kami ingin balita kami khatam Alquran

Mungkin kebanyakan dari kita sudah paham, saya pun sebelumnya pernah baca di buku “Prophetic parenting”, bahwa ada kewajiban para orang tua untuk mengajari anaknya Alquran. Namun yang menjadi persoalan adalah kapan? dimulai dari mana? dan targetannya apa hanya anak atau sembari kita juga ingin mengambil keutamaan dari sana.

Bab ini sangat menarik, hingga saya berkali-kali sejenak berpikir lalu berpikir akan apa yang selama ini telah saya kerjakan untuk anak saya. Teman-teman pasti sudah tahu hadist ini :

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, “Rasulullah SAW bersabda, “setiap anak dilahirkan dalam fitrah suci, maka kedua orang tua nya lah yang menjadikan ia majussi atau nasrani…”

Sekilas mungkin kita merasa santai menanggapi isu di hadist ini, toh Alhamdulillah kita beragama islam. Namun ternyata tak cukup hanya islam, fitrah suci yang mereka miliki adalah tugas kita untuk menjaganya sebagai amanah yang terbesar yang Allah titipkan kepada kita. Tentu saja ini bukan persoalan yang mudah bukan. MAka salah satu cara menjaga fitrah anak itu adalah dengan mengajarkan Alquran sedari dini.

Selain ini juga sebagai perintah Allah untuk para orang tua, sejatinya kita juga harus yakin, bahwa orang yang membaca Alquran akan ditempatkan di tempat yang sebaik-baiknya. Sarana pembelajaran ini juga bisa kita gunakan sebagai sarana untuk mengenalkan Allah ke anak-anak kita. Dalam sebuah hadist Rasulullah bahkan pernah menasihati seorang anak kecil untuk menjaga Allah setiap saat. Dengan mengajarkan Alquran sebagai kurikulum yang pertama buat anak kita,  kita dilatih untuk mengutamakan hak-hak Allah sebelum yang lain. Tentunya hal ini selain sebagai sarana taqarub kepada Allah juga pernah Allah catat dalam Alquran bahwa barang siapa yang mengutamakan hak Allah maka akan dipenuhi semua rizkinya.

Alquran juga memberikan banyak keutamaan baik untuk diri anak dan untuk kita pribadi. Semakin sering memberikan asupan Alquran kepada si kecil, selain memberikan ketenangan tersendiri bagi kita, juga banyak pembuktian bahwa Alquran memberikan kebaikan bagi sel-sel saraf usia balita yang masih dibangun. Tentunya hal ini juga menambah poin kebaikan bagi tumbuh kembangnya. Dan insya Allah menanamkan pelajaran pertama dan utama Alquran di masa kecil, bagai menanam banyak kebaikan di masa yang akan datang. Karena pastinya efeknya kelak akan kita rasakan tidak akan lekang ditinggal zaman.

2. Beberapa Prinsip Rumah tangga kami

Bagaimana kita memulai, sedang pasti kita awalnya akan merasa pesimis. Jangankan anak kecil kita aja mungkin sebagai orang dewasa merasa sulit bukan belajar Alquran. Namun dari awal menjawab tantangan ini, saya pribadi termasuk yang percaya bahwa otak anak itu lebih luar biasa dibanding orang dewasa. Kemampuannya sama, namun informasi yang anak kecil tangkap belum banyak bukan? Makanya itu saya pikir, semakin besar justru akan semakin sulit untuk menanamkan Alquran. Ternyata juga sepikiran dengan apa yang dibahas di buku ini

Prinsip pertama adalah menjadikan Alquran adalah isu utama di rumah kita. Tentu ini prinsip yang paling mendasar. Bagaimana kita bisa membuat mereka betah dan suka dan isi Alquran, jika rumah kita dan kita sendiri kurang menghiasi diri dengan Alquran. Hal-hal sederhana yang bisa kita tiru adalah misalnya katakan jika suatu hari dpt rezeki bahwa ini adalah dari Allah karena kita rajin baca Alquran. Memperlihatkan si kecil video anak kecil penghafal Alquran. Memperlihatkan peta dunia, bahwa banyak sekali muslim di dunia yang sama-sama baca Alquran. Berkenalan dengan para penghafal Alquran dll.

Prinsip yang kedua adalah menjadikan kesuksesan Alquran sebagai bentuk penghargaan tertinggi bagi anak. Kita sering sedikit boros jika anak ulang tahun, naik kelas, dapat rangking, namun tak bisa kita pungkiri banyak dari kita kurang antusias untuk menghargai payah anak kita akan belajar Alquran. Hal ini sebaiknya dihindari. Meski seperti kurang “ikhlas” karena mungkin ini menyoal ibadah, namun bagi anak kecil ini sebuah penghargaan. Dan kelak di masa depan ia akan mengenang akan loncatan-loncatan indah saat belajar Alquran. Dan yang harus dijadikan patokan utama adalah maknawi dari reward itu sendiri. Beri arti dari pemberian yang kita beri, bukan hanya kepuasan akan hadiah. Ada banyak hadist dan ayat Alquran yang bisa kita jadikan asupan bagi anak-anak kita.

PRinsip ketiga adalah Alquran harus selesai di masa kecil. Banyak orang, termasuk kita barangkali berpayah-payah belajar Alquran saat dewasa. Di tengah kesibukan lain yang juga butuh prioritas utama. Kita belajar dari pengalaman itu. Jangan sampai anak-anak kita merasakan hal yang sama.

Prinsip keempat adalah berharap untuk mendapat kebaikan dari Alquran itu sendiri. Ada banyak keutamaan, keistimewaan bagi orang-orang yang belajar dan membaca Alquran. Semoga dengan menanamkannya sejak dini kita bisa mendapatkan semua itu.

3. Beberapa prinsip pembelajaran di rumah kami

Hal yang pertama harus menjadi prinsip adalah pahami prinsip belajar dari yang mudah. Banyak pembelajaran baru yang saya dapat dari buku ini. Mengajarkan Alquran pada anak balita tentu tidak sama dengan pada orang dewasa. Sebagaimana kita tahu, anak kecil bermain dengan otak kanan. Jadi pada intinya kita juga harus menanamkan prinsip bahwa Alquran ini mudah bagi si kecil. Hindari huruf-huruf yang sulit seperti tsa, ain, dho, dzo, khawatirnya jika kita memaksakan yang sulit si kecil akan cepat bosan dan malas untuk belajar. Kemudian bumbui pembelajaran dengan aneka rupa permainan yang menyenangkan. Kemudian butuh kiranya juga kita untuk fokus kepada usahanya bukan kepada hasil.

Prinsip kedua adalah beri reward dan minimkan punishment. Dan butuh dikeahui, dari buku Dr Sarmini ini nyaris saya tidak menemukan contoh kasus saat beliau harus memberi punishment kepada anaknya. Sebaiknya mungkin dihindari dibanding membuat trauma.

Prinsip selanjutnya adalah menanamkan prinsip bahwa mencintai Alquran adalah lebih utama dibandingkan pandai membacanya. Tentu saja ini point utama karena sekedar membaca mungkin biasa, namun istiqomah membaca hingga akhir masa itu adalah istimewa. Tentunya dengan mempelajarinya dari kecil ada baiknya moment-moment indah bersama Alquran dibuat dokumentasi dan kelak menjadi kenangan tersendiri bagi kita dan anak-anak kita.

4. Kiat-kiat kami mengawali cita-cita

Azam yang kuat tentu dibutuhkan untuk mengawali cita-cita besar ini. Tahap selanjutnya konsisten, karena pastinya dalam pelaksanaan akan banyak dipenuhi rintangan. Kadang rintangan itu bukan hanya dari anak, tapi justru mungkin dari kesibukan kita sebagai orang tua. Nah dalam hal ini Dr Sarmini menceritakan bahkan ia sampai terlambat datang ke suatu undangan demi tercapainya target membaca Alquran anak-anaknya. Intinya jangan jadikan program ini menjadi prioritas kesekian dalam agenda kita sebagai pendidik. Kemudian jadikan istiqomah sebagai kunci keberhasilan proses ini. Jika lelah atau sedikit mogok pilihan rihlah untuk bisa mendapat energi kembali bisa dilakukan. Juga senantiasa berdoa kepada Allah taala sebagai kunci keberhasilan atas semua usaha kita.

5. Kiat-kiat kami mengajarkan anak membaca Alquran

– Tebarkan isu tentang Alquran sebanyak mungkin saat di rumah maupun di luar rumah.

– Rayu anak dengan hal-hal yang mereka sukai

– Sertakan anak saat membeli alat peraga, hingga ia merasa andil akan pembelajaran yang akan dia kerjakan.

– Anak pertama menjadi kunci

6. Kendala dan solusi

– Orang tua biasanya kurang telaten dan kurang sabar

– Mudah marah

– Terlalu kaku dengan target, padahal ingat setiap anak memiliki keistimewaan yang berbeda.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk menghindari hal itu adalah dengan eksplorasi dari orang tua kenapa anak belum mau mengaji. Jika masih kebanyakan bermain, ada baiknya kita memberi waktu bermain namun dibatasi. Jangan sampai kewajiban mengaji ini adalah beban bagi anak, dan sebaiknya kita harus menanamkan pada jiwanya untuk mencintai kewajiban ini (ini point penting banget saya rasa), sarana dan fasilitas selama ada kekuatan azam insya Allah semua bisa dikerjakan.

Bagian kedua dari buku ini, Dr Sarmini lebih memaparkan kepada teknis pembelajaran. Point pentingnya adalah, pembe;ajaran Alquran bisa dimulai anak bisa mengucap sepatah kata. Misalkan papa, mama, biasanya anak umur 1,5 tahun bisa kita mulai kenalkan huruf hijaiyyah.

 

Advertisements

Read Full Post »

Suatu sore yang cukup tenang ditemani rintik hujan yang nyaris tak pernah berhenti dua hari ini. Kumandang adzan Ashar terdengar nyaring di laptopku. Seperti biasa si kecil Syafin pun turut umminya pergi ke kamar mandi. Tak bisa dihindari, banyak orang yang bilang ini resiko jadi ummi sendiri. Hidup bertiga di luar negeri jauh dari orang tua dan sanak saudara, dengan kondisi suami pun sibuk memenuhi tugas di Lab sebagai calon phD. Tentunya hal ini membuat aku sedikit berjibaku bersamanya sepanjang hari. Sisi bijakku berkata, bersyukurlah anakku karena tidak banyak anak kecil yang bisa bersama ibu sepanjang hari. Sebetulnya sesekali untuk hajat tertentu tak kubiarkan dia masuk kamar mandi bersamaku, pun pastinya nangis sejadi-jadinya karena di tinggal sendiri di rumah. Hmm…tiada pilihan lain. Maafkan ummi ya nak….

Syafin pun girang bisa bersamaku dan menuruti semua langkahku dalam berwudhu. Wajahnya dengan ceria ia ciprati air, kemudian tangannya yang terlupa lengan bajunya aku naikkan ia masukkan kedalam ember berisi air. Ups..anak kecil ini. Begitulah ia setiap hari memproduksi baju kotor yang tak sebanding dengan jumlah baju kotor ummi dan abinya. Setiap waktu adalah pelajaran bagiku dan baginya, meski kadang lelah menghampiri ada kebahagiaan tertentu bagiku bersamanya. Seperti kisah Syafin di sore ini.

“Ummi mau pake mukena, sebentar ya sayang…”

Olala ternyata dia pun menarik-narik kain mukenaku sejadi-jadinya. Perilaku yang tidak biasanya. Biasanya saat diriku menunaikan shalat paling-paling dia bersegera berdiri sembari bersedekap meletakkan kedua tangannya di perut seraya berkata,”Aaaaabal…” (Allahuakbar). Ya tempo hari ada kebahagiaan tersendiri saat si kecil meneriakkan asma Allah tersebut dengan lantangnya. Hari ini perilakunya sedikit lain. Serta merta ia pun menangis sembari menarik keras mukena ummi, tak paham aku di buatnya. Sampai akhirnya naluri keibuanku pun muncul tiba-tiba. MasyaAllah anak umur satu tahun lebih 4 bulan 2 minggu bisa jadi tak faham jenis kelamin. Dia pikir setiap orang shalat selalu harus pakai mukena seperti ummi. Seringkali saya jumpai anak kecil itu dengan gaya sok sibuknya memakaikan mukena yang terserak di meja ke kepalanya. Tak hanya mukena, jilbab ummi pun jadi sasaran untuk di masukkan kepalanya yang saban hari makin berkembang.

Sedikit bingung di buat  Syafin sore itu. Kucoba dengan cukup meletakkan peci kecil di kepalanya toh dia sudah mengenakan celana panjang sepertinya tak mengapa. Ternyata tangisan rengekannya belum juga reda padahal sudah ku jelaskan berkali-kali dengan gaya sok mengajari anak besar dengan itu saja tak mengapa karena dirimu laki-laki sayang. Syafin kecil tetap saja merengek. Tiba-tiba mataku tertuju pada tumpukan handuk yang berjejer rapi di rak kecil tepat depan sajadah di gelar sore itu. Ide gokil ummi muncul tiba-tiba demi memenuhi hasrat si kecil tanpa harus menodai kesejatian dirinya sebagai seorang laki-laki. Meski dirasa sedikit maksa jadilah handuk kecil itu menyerupai sarung kecil yang menyelimuti kedua kaki mungil anakku. Alhamdulillah, wajah riang tampak di wajahnya. Sembari manut-manut mengikuti langkah ummi untuk shalat. . Berdiri tegak dengan kedua tangan di perut, kemudian ia pun ruku pun terkadang menyelonjorkan kedua tangannya seperti posisi push up, juga ia pun sujud dan duduk sembari menolehkan kedua kepala ke kanan dan ke kiri. Pun dengan gerakan yang tentu saja tidak konsisten dan jauh dari sempurna. Buatku Syafin istimewa satu tahun sudah mau ikut shalat, jujur padahal diriku tak pernah menyuruh dia apalagi memaksa dia untuk shalat. Bagiku anak kecil seusianya cukuplah bermain dan bermain, tapi betul adanya kalau mereka butuh teladan. Perilaku meniru itulah yang seringkali membuatku sedikit berhati-hati dalam bersikap di depannya. Hmm…pun sedikit mengganggu shalat ashar ku, ada kebahagiaan tersendiri saat itu. Begitulah Syafin yang selalu membuat aku belajar sedikit kreatif setiap harinya.

Sore yang indah itu mengiringi lamunan panjangku tentang anak kecil yang ada dalam asuhanku saat ini. Terimakasih Nak, bisa jadi aku tak biasa sebelum ini. Berkatmu yang banyak menoreh kisah baik dalam jiwaku, selalu saja membuatku bersyukur memilikimu saat ini. Terimakasih Allah telah memberi amanah dia untukku. Mempercayai dia kepadaku. Padahal rasanya diri ini jauh dari kata dewasa untuk mampu mendidiknya. Kondisi berkata lain, harus sanggup harus bisa dan harus berjalan. Jika Allah memberi kita umur panjang, ajari ummi lebih banyak lagi, untuk bisa menyelami arti sebuah kasih sayang, cinta dan pengorbanan.

Tiba-tiba iringan lamunan panjang itu mengingatkanku akan nasihat-nasihat suami yang selalu beliau berikan untukku. Beliau yang senantiasa selalu mengajakku bersungguh-sungguh mendidiknya. Beliau yang melarang aku untuk menitipkan pengasuhan juga mempercayaiku untuk mendidik dia dengan tangan dan karya sendiri. Beliau yang selalu percaya bahwa ummi lebih pintar lebih hebat dari pengasuhan siapapun. Beliau juga yang selalu membisikkan telinga Syafin dengan untaian-untaian Al-Quran setiap harinya, pun disaat beliau lelah dan Syafin tertidur lelap di rumah, beliau selalu memberikan bisikan-bisikan Al-Quran dalam kondisi apapun. Saat di perjalanan, saat kami sedang bersantai bahkan kami hendak istirahat. Suamiku percaya Al-Quran bekal segalanya untuk kehidupan, bisa jadi Syafin tak paham sekarang apa yang biasa kami lakukan untuknya. Tapi kelak akan ada jiwa yang kokoh dan kuat menanggung beban dunia yang semakin rapuh di masa depan. Jiwa yang terhias dengan kalimat Tauhid dan akidah yang kokoh. Jiwa yang tidak rapuh menerima tantangan dunia yang semakin mengganas. Semoga senantiasa selalu begitu adanya ya Nak…Semoga Allah memberikan kekuatan untuk kita semua agar selalu berada di jalan-Nya yang lurus.amiin !!

Bersamamu adalah kebahagiaan,

Bersamamu adalah pembelajaran,

Bersamamu adalah kreatifitas,  

Bersamamu adalah inspirasi,

Semoga selalu begitu adanya..

-with love, ummi-

-Catatan kecil untuk anakku, Gyeongsan 13 Mei 2011-

Read Full Post »

Siapa yang tidak bahagia mendengar anak tiba-tiba bisa berbicara. Walaupun hanya satu kata tapi bagi para orang tua itu adalah permulaan yang baik untuk langkah selanjutnya. Bicara pada bayi biasanya terjadi sejak kurang lebih 6 bulan usia bayi, tapi saat itu pelafalannya tentu saja masih kurang jelas yang biasa dikenal dengan istilah “Bubling”. Syafin seingat saya mulai bubling sejak umur 6 bulan juga, pun dengan suara dan bunyi-bunyian yang berubah-ubah dari mulut kecilnya.

Suatu hari yang indah, seperti biasa jelang shalat isya saya bawa syafin ke kamar mandi untuk gosok gigi dan bersihkan muka tangan dan kaki, sekalian saya berwudhu bersiap melaksanakan shalat isya. Syafin yang saat itu berumur 12M gemar sekali meniru apapun yang saya lakukan. Kemanapun saya hendak pergi ia pun memperhatikan saya seraya ingin melakukan hal-hal yang sedang saya kerjakan. Lepas dari kamar mandi sayapun shalat isya dan saya taruh ia tak jauh dari jarak pandang saya. Lantas syafinpun menyimpan kedua tangannya diatas perut seperti gerakan shalat seraya berkata “Allahuakbar”, subhanallah saya pun terkagum dibuatnya…Dia pun tersenyum spontan melihat senyum kebahagian diwajah saya. Saya ulangi terus kata-kata itu semakin lama ia pun semakin senang seraya mengulang kalimat “Allaahuakbar” sembari meletakan kedua tangan diatas perut. Subhanallah sejak itu, saya pun tak lepas mengajak ia shalat selalu setiap saya shalat saya menaruhnya di hadapan saya. Terkadang tiba-tiba syafin pun mengelar sejadah sendiri dan menggunakan sarung abi-nya kearah kepalanya..sayangnya sarung yang pastinya kebesaran itu tak mungkin dipakai syafin. Hari itu saya sangat bahagia dibuatnya.

Berawal dari mana?, Berbicara tentang ini saya pun teringat rekaman yang dulu saya dan abi-nya syafin perdengarkan bersama. Rekaman singkat yang berjudul “Aku mau ayah” oleh Ust Irwan Rinandi (pemeran KH Rahmat Abdullah dalam film Sang Murobbi). Pesan dari seri taujih yang beliau sampaikan yang saya bidik disini adalah bukan soal keberadaan ayah untuk sang buah hati saja, tetapi saya tertarik dengan ungkapan beliau ketika bilang sudahkah ayah dan ibu memberikan murojaah AlQuran setiap hari untuk si kecil?. Ya..perlakuan yang tidak biasa kita lakukan. Seringkali kita melakukan itu saat anak kita sudah tidur dengan alasan supaya tidak mengganggu konsentrasi membaca Alquran atau murojaah hafalan kita. Ternyata dari sana saya faham klo hal itu penting untuk bayi, terlebih usia bayi 6-15 bulan saat mungkin bayi baru akan bicara. Setelah itu, saya maupun abinya seringkali memberikan syafin bekal membaca AlQuran dan hafalan, bukan hanya saat dia tidur tapi justru disaat dia bermain.

Saya percaya sebetulnya anak usia 0-2 tahun belum punya kemauan apa-apa kecuali ibu dan ayahnya yang mengarahkan. Alhamdulillah selama ini hingga syafin usia 13 M tidak pernah syafin mengganggu aktifitas rutinitas saya untuk mengaji dan mengerjakan pekerjaan. Satu hal yang terus berkembang dari dirinya adalah rasa penasaran untuk tau banyak hal dan mengerjakan apa saja yang orang besar(dalam hal ini saya dan abi-nya yang ada dirumah) kerjakan. Sebagai ibu sendiri tentunya saya berusaha melibatkan syafin saat apapun, memberinya kesibukan saat saya harus bekerja. Sampai urusan membereskan rumah pun saya beri dia porsi untuk membantu walaupun sebetulnya tidak membantu tapi yang penting dia enjoy dan merasa ada saat saya bekerja. Sejak itu, kamipun selalu saling menasihati sebagai pasangan baru. Jaga sikap abi umi, karena syafin selalu meniru apa yang kita lakukan.

Kembali lagi ke pembicaraan “Allahuakbar”, bagi saya itu sebuah kebanggaan yang sampai detik ini saya bersyukur sangat memilikinya. Terimakasi ya Allah atas semua ini. Pun perjalanan saya mendidik dan membesarkannya masih sangat jauh dan tantangan demi tantangan kedepan mesti saya hadapi. Saya pun teringat sebuah perkataan dalam buku parenting yang saya baca, bahwa jangan sampai anak mendengar kalimat Allah hanya saat kita dalam kondisi marah, saat membentak, mengomel keluarlah kalimat Allah, Astagfirullah, MasyaAllah dll. Sayang beribu sayang, makanya tak jarang kita jumpai anak mental saat besar disuruh shalat, disuruh berdoa dan menjalankan syariatNya. Karena ia seringkali mendengar kata Allah itu dalam pikiran yang negatif, karena siapa? orangtua…Na`udzubillah semoga kita semua dijauhkan dari sikap seperti itu. Dari situ saya selalu berfikir bagaimana berbicara tentang keindahan alam semesta dan Sang Pencipta dengan perkataan yang baik dan penuh cinta. Sedang anakku belum faham apa-apa bicara saja ia belum sampai saatnya. Tapi saya yakin kekuatan AlQuran bisa memberikan ketenangan tersendiri baginya, bicaralah dengannya dengan bahasa AlQuran. Rajinlah membawanya ke forum-forum pengajian maupun sekedar tilawah, murojaah dan mendengarkan AlQuran bersamanya. Karena sejatinya mereka bukan pengganggu kedekatan kita dengan Sang Khalik, tapi kita lah yang seringkali melabelkan dirinya seperti itu.

Saya bukan orang yang pengalaman dalam hal ini, hanya sedikit berbagi kebahagiaan yang sedang saya rasakan. Niscaya kekhawatiran dan kecemasan “biasa” seringkali saya dan abinya alami. Kami selalu berbicara, khawatir ada kelakuan kami yang kurang baik tiba2 ada pada diri syafin. Teringat perkataan ustadzah Wirianingsih tempo hari ” Kalau mau tau perilaku orang tua sang anak 0-7 tahun, lihat saja perilaku anak itu”. Kami tidak pernah merasa bisa menjadi orangtua yang sholih dan sholihah hanya sekedar berusaha.

Terakhir dari saya, seringkali kita sebagai orang tua super sibuk mempersiapkan aksesoris indah bagi si kecil. Baju yang bagus mengikuti trend mode masa kekinian, khawatir anaknya ketinggalan zaman dengan berbagai icon film kartun dll. Atau sekedar tertarik dengan mainan yang dimiliki orang lain pun dengan embel-embel meningkatkan kecerdasan. Sekarang era online shopping, segalanya dimudahkan. Hati-hati dalam bersikap terlalu bersigap memenuhi kebutuhan materil yang tak tanggung-tanggung untuk mereka. Seperti saya bilang sebelumnya, sampai detik ini saya pribadi masih percaya bahwa anak 0-2 tahun belum memiliki kemauan apa-apa. Jangan tertipu atau barangkali kita yang menginginkan itu. Pun anak kita menangis merebut mainan kawannya, apa hal itu bertahan sampai mogok makan berhari-hari misalnya? tentu tidak pernah sampai seperti itu. Seringkali kita sebagai orang tua terjebak dengan kata kasihan. Namun kita jarang membekalinya dan memenuhi otaknya dengan berbagai kisah indah tentang Allah dan Rasulnya, sejatinya itu semua ada dalam AlQuran. Mereka dengar, mereka lihat apa yang kita kerjakan.

Mudah-mudahan sedikit sharing dari saya bermanfaat buat saya pribadi dan mudah-mudahan bisa jadi inspirasi buat semuanya. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi perjalanan kami selanjutnya dan semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan hidayahNya untuk kita semua, Amiin YRA.

-Dipenghujung Malamnya-

Read Full Post »

Ada bab yang saya suka banget dari buku “Positif Parenting” karangan M Fauzil Adhiem, judulnya tentang jenjang-jenjang percaya diri.  Setelah baca satu bab itu saja langsung teringat esensi seorang manusia pada dasarnya, Allah berfirman dalam Surat Al-imron ayat 110 :

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.(3:110)
Cukuplah kiranya satu ayat ini saja yang bisa menumbuhkan kembali rasa percaya diri dalam diri kita. Bisa jadi saat diri kita merasa kita bukan siapa-siapa, tidak banya yang bisa  kita lakukan, merasa tidak cantik tidak istimewa dan lain sebagainya. Padahal jelas-jelas Allah telah memberikan banyak potensi kepada kita, dikatakan “umat terbaik” dibekali akal fikiran untuk bisa menjadi orang yang paling bertakwa. Namun sayangnya manusia banyak yang berpaling dari perasaan itu…

Fenomena yang terjadi saat ini yang saya perhatikan adalah, sebagai ibu baru tentu saja saya selalu belajar dan mengamati tingkah laku para ibu-ibu dan anak-anak kebanyakan sebagai bahan pembelajaran buat saya. Sayang beribu sayang banyak sekali orang tua yang menanamkan rasa percaya diri yang salah kepada anaknya sejak kecil. Sebagai contoh saja yang dijelaskan dalam buku ini, saat kita suka sekali memakaikan jilbab kecil pada anak kita yang masih bayi, seraya kemudian kita berkata duuh cantiknya anak ummi, sedari bayi anak tersebut sudah dilatih untuk tahu bahwa cantik itu jika memakai jilbab. Pun maksudnya baik ingin menyemangati. Namun dikatakan dalam buku tersebut, hati-hati dengan perilaku dan jangan heran jika kelak anak kita mempunyai kepercayaan diri yang “Nanggung”. Nanggung seperti apa?, Tidak salah klo saya mencontohkan diri saya sendiri yang punya pengalaman khusus tentang jilbab sedari kecil. Tanpa merendahkan kemampuan orang tua saya yang sudah mendidik jilbab sedari kecil, tentunya dari kecil saya seringkali mendapat julukan orang-orang “cantik saat memakai jilbab”. Tidak ada masalah dengan jilbabnya itu sendiri, jujur saja Alhamdulillah tidak membuat saya minder dalam bergaul pun saat dulu masih sangat jarang anak kecil berkeliaran memakai jilbab, hingga SMP alhamdulillah saya masih percaya diri untuk berbeda dengan orang lain. Namun masalahnya saya merasa lambat faham tentang esensi jilbab itu sendiri. Untuk apa? kenapa saya harus berjilbab dan lain sebagainya. Belum lagi jujur saja seringkali terbesit dalam diri, jika ada yang kurang dengan jilbab menjadi tidak percaya diri dikenakan 😦 misalnya kurang match, ada yang rusak sedikit, kurang rapi dan lain-lain.hehe…repot yaa :D. Tapi itulah menurut saya dampak kurang percaya diri yang sedikitnya pernah ada dalam diri saya, seiring berjalannya waktu namun jujur saja setelah kenal jilbab sekian lamanya barulah saya sadar esensi berjilbab seutuhnya :).

Saya juga menemukan kasus yang pernah terjadi pada seorang teman SMU saya dahulu, dia gak PD klo tidak mengenakan topi, padahal orangnya sangat pinter. Tampak konyol dan sepele memang tapi itulah yang dinamakan jenjang-jenjang percaya diri yang nanggung. Kita juga biasa melihat fenomena anak sekarang atau bahkan kita sendiri masih terdapat perasaan itu, merasa percaya diri klo mengenakan pakaian yang bagus, bawa HP yang paling keren, atau sekedar memuji teman dengan keistimewaan-keistimewaan finansial yang mereka sudah miliki. Bisa jadi kita atau ada kawan kita yang kurang percaya diri datang ke moment-moment reunian karena belum punya mobil, belum menikah atau bahkan malu masih pengangguran. Itu semua terjadi karena seringkali kita sebagai manusia biasa melihat dengan mata yang buta. Memuji orang saat dia sungguh hebat dengan sekedar kemampuan finansialnya, atau sungguh cantik dengan pakaian yang serasi dan perlengkapan yang ia kenakan. Sebagai ibu juga  kadang kita sibuk melengkapi perlengkapan si kecil, bahkan sampai kita lupa untuk mengisi perbelakan pola pikir dia, perbekalan dia untuk menjalani kehidupan dunia yang fana. Padahal kesejatian pembekalan dari seorang ibu yang paling baik bukan goresan fisik semata, tapi jiwa yang matang, pikiran yang siap menerima kejamnya dunia dan siap terjun untuk berjuang membela kebenaran.

Ingin rasanya saya bercerita tentang seorang pemuda yang paling dicintai Allah dan Rasulnya yaitu Ali bin abi Thalib. Mengapa beliau, konon kabarnya rambut seorang Ali tumbuh lebih sedikit dibagian atasnya berbeda dengan bagian bawahnya mirip sekali dengan pertumbuhan rambut anak saya. Sama sekali bukan karena itu ibu-ibu :D, hanya saja dari sejak sebelum menikah dulu, saya terlanjur simpati kepada pemuda satu ini yang begitu tangguh dan perkasa menjadi prajurit Allah. Siapakah Ali? seorang menantu Rasulullah SAW sekaligus anak dari paman Rasulullah SAW abu thalib. Dikatakan bahwa Ali bin Abu thalib adalah anak yang cepat matang yang menunjukkan ketegasan dan kekuatannya beliu dalam menghadapi berbagai keadaan. Ali adalah sebuah contoh seorang anak yang dibesarkan dengan penuh percaya diri sebagai manusia seutuhnya, kepercayaan diri dia saat menghadapi peperangan sungguh layak diacung jempol di usianya yang masih terbilang muda saat itu. Di perang Khandak beliaulah yang serta merta berani menghadang Amru bin Wud seorang kaum kafir Quraisy yang terkenal bengis dan kejam. Lalu Amru bertanya seraya memandang remeh kepadanya,”Siapakah kamu hai anak muda?”, “Aku adalah Ali.” Amru bin Wud bertanya lagi,”Kamu anak Abdul Manaf?”, “Bukan, Aku anak Abu Thalib.” Lalu Amru bin Wud berkata,”Kamu jangan maju ke sini hai anak saudaraku! Kamu masih kecil. Aku hanya menginginkan orang yang lebih tua darimu, karena aku pantang menumpahkan darahmu.” Ali bin Abu Thalib menjawab,”Jangan sombong dulu hai Amru! Aku akan buktikan bahwa aku dapat merobohkan-mu hanya dalam beberapa detik saja dan aku tidak segan-segan untuk menghantarkan-mu ke liang kubur.” Betapa marahnya Amru bin Wud mendengar jawaban Ali bin Abu Thalib itu. Lalu ia turun dari  kuda dan dihunus-nya pedang miliknya itu ke arah Ali bin Abu Thalib. Sementara itu Ali bin Abu Thalib menghadapinya dengan tameng di tangan kirinya. Tiba-tiba Amru bin Wud melancarkan serangannya dengan pedang. Dan Ali pun menangkis serangan itu dengan menggunakan tamengnya yang terbuat dari kulit binatang sehingga pedang Amru tertancap di tameng itu. Maka secepat kilat Ali menghantamkan dengan keras pedang Zulfikar pada tengkuknya hingga ia tersungkur ke tanah dan bersimbah darah, dan kaum kafir Quraisy lainnya yang melihat itu lari tunggang langgang. Itulah salah satu bukti kegagahan seorang Ali di usianya yang sangat belia sudah berani melawan dan membela islam dengan keberanian yang luar biasa.Tak inginkah anak kita segagah Ali, seorang pemuda yang berani menggantikan Rasulullah dan tidur di tempat tidur Rasulullah saat beliau akan dibunuh, dan Ali pun merelakan  hidup dan matinya untuk kepentingan islam saat itu. Banyak sekali cerita yang bisa dipaparkan dari seorang Ali. tak inginkah kita punya anak seperti beliau? Kesejatian selalu terpancar di tubuhnya sedari kecil hingga tutup usianya.

Lalu harus seperti apakah kita menghadapi tantangan itu semua? adakah orang-orang seperti Ali dimasa berikutnya?. Cukup generasi kita saja yang merasakan kebodohan seperti itu, tidak untuk anak-anak kita. Apa yang bisa kita lakukan jika hanya dengan pakaian saja anak kita sudah turun rasa percaya dirinya, tidak mau sedikit berbeda dengan orang lain dan punya jiwa yang “enggak PD-an”.  Dalam buku ini saya juga membaca kisah tatkala nabi mengingatkan :

Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya, kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu.Bapak kalian semua Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah ialah yang paling takwa. Tak ada kelebihan orang Arab diatas orang asing kecuali karena takwa-nya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”

Ternyata inilah yang membuat sahabat-sahabat Rasulullah pada saat itu merasa percaya diri menggunakan pakaian kumal berlari melawan kaum kafir pada saat itu, mendatangi istana-istana untuk berdakwah. Inilah keyakinan sejati yang membuat para Shalafushalih tidak kelu dalam menyampaikan kata-kata kebesaran kepada setiap orang, inilah nasihat yang membuat semua orang merasa sederajat siapapun dia. Kecuali hanya ketakwaan sajalah yang membedakan kita dihadapan Allah SWT. Ukuran takwa pun tidak terukur dari besarnya jilbab, lebatnya jenggot atau sekedar bagusnya baju muslim yang dikenakannya, melainkan iman dan amal sholeh yang terpancar dan akidah yang lurus.

Mudah-mudahan generasi anak-anak kita terdidik dengan jiwa yang seperti itu. Kalau bukan kita yang mengajarkan siapa lagi? berharap kepada siapa? Semua masa depan mereka ada di tangan kita. Raihlah jiwanya sebelum jiwa mereka direnggut oleh ganasnya dunia merubah mereka.

Wallahualam,

taken from :

positif parenting, buah karya Mohammad Fauzil Adhiem

Read Full Post »

Terkadang sedikit nyaris tak percaya aku telah melewati hari-hari sulit itu. Saat awal-awal hari syafin terlahir ke dunia begitu banyak kemudahan-kemudahan yg telah Allah beri buat aku. Sejatinya sebagai seorang ibu baru yg baru belajar membesarkannya seorang diri, tanpa sentuhan orang lain hanya ditemani oleh kedua orang tuanya yang baru saja menyentuh kelembutan seorang bayi kecil mungil dan lemah. Begitu suamiku bilang, dia begitu kecil begitu lemah segala sesuatunya perlu dibantu agar bisa bertahan berjalan di ranahnya yang baru.

Syafin lahir ke dunia pada hari kamis tengah hari jam 12.05 KST, atau pukul 10.05 AM waktu indonesia pada tanggal 25-02-2010 saat itu banyak sekali pasien Cesar karena diduga tanggal cantik :p. Suatu anugerah dia bisa lahir siang hari, karena memang harapannya seperti itu. Secara mencari Obgyn perempuan di korea rada langka, pun aku dapet saat aku mesti lahiran malam hari dokter jaga malam tak ada yg perempuan. ALhamdulillah, keajaiban Allah yg selalu menyampaikan pesanku pada syafin sejak dia masih di kandungan, aku sering membisikkannya ” dedek bayi sayang lahirnya siang2 aja yaah…berasanya malem” subhaanallah beneran deh syafin berasa kontraksi jam 21.00 malam pun itu masih bertanya2 ni kenapa ya..baru bener2 ke RS jam 1.30 dini hari, dan sempet diragukan gitu pun mereka ga tega nyuruh kita pulang, alhamdulillah jam 4 subuh udah pendarahan hebat yang bener sign mo melahirkan. Dari jam 4 subuh hingga jam 11.30 siang itu lah aku mengalami yg namanya kontraksi. Pembukaan demi pembukaan dijalani dengan bantuan kesabaran suami dan telepon mama yg selalu menyemangatiku. Alhamdulillah banyak angin kekuatan hingga akhirnya munculah mahluk kecil yang kami beri nama Ilyas Syafin Abdul Karim.

Syafin lahir dengan tangisan dari mulut mungilnya. Saat lahir dia menangis karena dia tau begitu banyak sekali hal yg berbeda yg akan dia rasakan. Aku terharu sesaat para nurse mendekatkannya padaku…pun Saat itu sama sekali tidak dilakukan IMD. aku cuma bisa pasrah, namanya juga orang asing yg numpang melahirkan di negeri orang. Daan penderitaan syafin tak putus hingga disitu, syafin juga terpisah bobonya di hari pertama dia terlahir di dunia yang seharusnya dia ada dipelukanku, dan mo gimana lagi….setiap malam aku mendengar tangisan bayi diruangan bayi mungkin dia atau bayi yang lain, syafin  bobo bersama teman2nya orang korea lain darah, lain agama hiks sedihnya…Juga, 2 hari syafin terpisah dari aku dia juga harus minum susu formula. Pun untuk hal ini aku masih perjuangkan, dimana para suster disini sangat minim yg bisa bahasa inggris juga kemampuan korean suami aku terbatas, kita sampe curhat ke obgyn kita pengen susuin syafin. Ternyata memang udah peraturan di Rumah sakit itu, juga pertimbangan kondisi aku yg katanya masih lemah untuk menyusui. Tapi dokter bilang tak perlu khawatir, biasanya ASI keluar pas hari ke3. Saat itu, karena khawatir ndak keluar ASI-nya saat bermalam aku terus message ASInya, pun masih keluar dikit banget tapi aku tau itu colostrum dimana 1 tetes mengandung sejuta imunitas…aku kumpulin tetes demi tetes untuk kebaikan anakku. Alhamdulillah saat hari ke3 saat syafin boleh dibawa pulang, suster yang merawat syafin menguji Payudara aku apakah layak menyusui atau bagaimana, hingga akhirnya dia mengizinkan aku menyusui syafin…Alhamdulillaaah.

Awal hari bersama syafin, Dia masih asing dengan kami. Semalaman dia menangis dan kami sedikitpun tak mengejapkan mata menemani dia. Setiap dua jam sekali pun dia gak` minta mimik. Bayangin aja anak bayi yang baru lahir rasa lapar pun kebutuhan dirinya sendiri dia tak tau, namun tak perlu aku menunggu aku susukan dia terus. Suatu keajaiban lagi gak tau belajar dari mana, dari yg tadinya tau botol susu formula tapi ga susah juga mimikan syafin dengan ASI ibunya. Berat badan syafin saat diambil dari RS  berkurang 0,1 kg segitu juga udah cukup membuat diriku sedih, pun katanya wajar bayi awal2 berat badannya cenderung turun karena masa adapatsi. Awal2 hari syafin belajar hidup di dunia, syafin selalu nampak tertidur pulas, kadang buat aku khawatir kenapa ya dia seperti tak punya respon untuk lapar haus dan sebagainya:(. Pun saat itu aku masih belum bisa jalan karena jaitan bekas lahiran belum lepas, aku tak pernah cape untuk terus berusaha bangunin tidur dia agar mau mimik….setiap malam tidur pun tak nyenyak takut tertidur pulas lupa untuk memberinya ASI.Alhamdulillahnya suamiku baik dan selalu dengan sabar menemaniku, dia pergi hanya untuk ke mesjid melaksanakan shalat, lainnya menemaniku dan membantu menyiapkan keperluanku.Sampai terharu, untuk bangun dari duduk saja aku butuh bantuan beliau, hingga makan dan nyiapin keperluan syafin. Pun demikian, berusaha untuk tegar terus…karena insyaAllah dengan izinnya kita bisa melewati hari-hari itu. Terkadang air mata tak tertahan untuk mengalir begitu saja, sejenak berandai-andai…andai mama ada disini, teteh ada disini, ayah ada disini..Sesekali beristigfhar karena memang kenyataannya tidak demikian. Terhibur dengan mahluk mungil yg membutuhkan dekapan aku selalu.

Satu minggu terlewati, senangnya Jadwal aku cek-up sekaligus ingin sekali nyoba nimbang berat badan syafin sekaligus nanya soal puput dia. Sayang seribu sayang, Berat badan syafin tetap di posisi awal dia lahir, pun setidaknya naiknya dari pas dibawa dari Rumah sakit cuma 0,1 kg. Anehnya PEdiatricnya malah nanya ASI kan, biasanya naiknya cepet klo ASI, kontan saat itu aku pribadi merasa sangat bersalah. Ada apa dengan ASI-ku kenapa ga membuat dia tumbuh besar. Alhamdulillahnya, sampe dirumah langsung browsing referensi..bener kata suami, dibanding konsult ma pediatric sini, kebetulan pediatricnya ga pake english jadi kita sering bingung :(, mending browsing sendiri. Alhamdulillah ada sedikit yg melegakan, bahwa ASI awal sang ibu selama 7 hari belum berupa lemak tapi merupakan colostrum pasukan imunitas yang akan membantu daya tahan syafin, jadi saat syafin berat badannya belum naik bahkan turun tak masalah. Saat itu mulai semangat lagi mimik-in syafin :).

Tiga minggu berlalu, mulailah aku merasakan banyak perubahan pada diri syafin. Dari yang kesulitan membangunkannya untuk mimik. Dari mulai gelitikin kaki-nya, cubit pipinya hingga baru mempan klo aku buka bajunya..bayangin aja saking ndak respon sama apapun…subhanallah. Hingga di minggu-nya yg ketiga, saat aku mulai bisa bergerak banyak, suami juga dah bisa nge-lab. Syafin  pada minggu ketiga mulai bisa menangis keras sperti butuh sesuatu, merasakan banyak hal. Dari mulai tau popoknya basah, atau laper minta mimik. Hal itu tak kan terulang kembali, saat bisa merasakan menjadi orang yg paling dibutuhkan anak sendiri, saat anak sendiri butuh perlindungan dan ketergantungan atas diri kita. Rasa lelah sedikit terobati dengan lahapnya syafin minum ASI. Alhamdulillah…

Ada satu hal yang sejatinya seorang ibu yang baru saja melahirkan ketahui. Istirahat yang cukup!!. Saat itu aku sering sekali sulit tidur karena pikirannya ke syafin syafin dan syafin. Banyak khawatir dan cenderung posesif sama obrolan orang. perasaannya was was terus.Wajar si sindrom pasca partus memang begitu katanya. Mungkin stress dan jarang berdiri juga, terus duduk deket syafin kaki-ku bengkak saat itu, dan kepala lumayan sering pusing. kayaknya dulu salahnya aku ga banyak tidur terlentang. Seharusnya sehabis melahirkan ibu harus banyak tidur terlentang agar peredaran darahnya lancar. entah kenapa yg ada dipikiran aku bagaimana cara agar ASI-nya banyak itu saja selalu :D.

Daaan, Syafin sebulan sudah tumbuh menjadi bayi sejati. pipi nya mulai nampak gembil, kulitnya halus karena sering aku pijat sebelum mandi. juga daging daging sudah mengisi tulang-tulangnya….senangnya. Saat suntikan hepB yang harus diberikan pada bayi 1bulan dilakukan. Berat badan syafin sudah naik 1,4 kg. PErtumbuhan yg sangat pesat….Alhamdulillah…

Read Full Post »