Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2011

As a good wife

Pernah suatu hari sebagai seorang teman biasa, saya dicurhati seorang teman perihal Kerumahtanggaan. Terus terang saya pribadi bukan ahli agama  juga saya buka seorang psikolog yang mungkin faham akan hal tersebut. Sebut saja saya hanya seorang teman biasa yang merasa senang apabila bisa berbagi. Mengalirlah kisah itu kepada saya…

Intinya, dia merasa sangat bersalah terhadap suaminya. Seringkali merasa kufur nikmat atas Rezeki yang suaminya berikan untuknya. Ironisnya suaminya bekerja di sebuah perusahaan yang boleh dibilang cukup basah sebagai lulusan Universitas kenamaan di negeri ini. Menghidupi anak yang baru satu, saya rasa masa iya masih tidak cukup?. Dibalik semua itu fahamlah saya, bahwa ia minta andil atas uang suami-nya itu untuk keperluan ayah ibunya karena merasa dirinya seorang anak pertama yang punya tanggung jawab atas ayah ibunya dan sang adik juga kebetulan masih bersekolah. Sayangnya beliau juga turut menyalahkan perannya atas nafkah yang mereka usahakan. Sembari berandai-andai, coba klo saya diizinkan kerja oleh suami mungkin tidak begini jadinya..pun saat itu beliau faham si kecil dengan siapa jika ia bersikeras untuk bekerja…

Kejadian tersebut bisa jadi peristiwa yang sangat umum kita jumpai disekitar kita. Jujur sebagai seorang teman, saya pribadi tidak punya solusi tepat untuk menjawab persoalan tersebut. Mungkin hanya kata sabar yang bisa terucap di mulut saya ini, karena sebagai seorang muslimah sejatinya kita harus menjaga kesabaran dengan senantiasa bersyukur atas rezeki yang Allah beri lewat suami kita.

Namun, tiba-tiba saja saya ingat kisah seorang sahabat Rasulullah yang bernama Al-Qomah. Kisah yang sangat cukup sarat makna dan pembelajaran bagi kita semua. Alqomah adalah seorang sahabat Rasul yang rajin  beribadah dan ia pun mempunyai istri yang sholihah. Namun dibalik semua itu, dia pun terlampaui mencintai Istrinya sehingga lupa bahwa   ada seorang ibu yang masih dalam pertanggung jawabannya. Suatu hari AlQomah datang mengunjungi sang ibu untuk memberikan sedikit bingkisan dan ia pun membawa 2 bingkisan saat itu satu buat ibu dan satu untuk istrinya. Kemudian sang ibu berkata kain yang ini sungguh bagus apakah itu untuk diriku? tapi kemudian dengan serta merta AlQomah menjawab, bukan itu bukan untuk ibu punya ibu yang ini dengan menunjukan bingkisan yang satunya. Kebetulan ibunya tak suka atas bingkisan yang dimaksud, hingga dalam hati dia menyesali atas sikap yang dilakukan anak laki-lakinya. Hatinya sedikit tertoreh…

Dilain kesempatan, sang ibu pergi kerumah kediaman AlQomah dan istri. Kebetulan saat itu istrinya sedang tidak dirumah. Nampak di sebuah meja hidangan yang sungguh lezat, tiba-tiba saja sang ibu tergerak untuk mencicipi hidangan tersebut. Namun sayangnya AlQomah melarang sang ibu mencicipi hidangan tersebut, seraya berkata tunggu hingga istriku pulang karena hidangan itu untuk istrinya. Hati sang ibu terdiam dan menangis dalam hati. Terbayang sudah kasih sayang yang ia curahkan selama ini terbayar dengan pergeseran kasih sayang yang anaknya dapat dari sang istri. sangat pilu hati sang ibu hingga ia pun sulit untuk membayar kesalahan sang anak. Hingga suatu hari, AlQomah menghadapi sakratul maut, dan konon iapun kesulitan menghembuskan nafas terakhir istrinya pun tak kuasa menahan kesedihan atas peristiwa yang dialami suaminya. Sampailah cerita tersebut kepada Rasulullah SAW, yang pada akhirnya diutuslah Billal untuk menanyakan kondisi AlQomah pada sang ibu. Sang ibu tergerak menemui Rasulullah SAW dan menjelaskan perihal kesakit hatian yang selama ini dia rasakan. Hingga sampailah Rasulullah memberi perintah untuk membakar AlQomah, karena sungguh siksa di neraka lebih keji dibandingkan api di dunia. Sebagai seorang ibu siapa yang rela anaknya dibakar didepan mata. Dan akhirnya sang ibu memaafkan perilaku AlQomah dan AlQomah pun menghembuskan nafas terakhir.

Entahlah, rasanya klo kita membahas AlQomah tentu saja ia bersalah atas perilakunya. Namun saya lebih tertarik ngebidik sang istri, pun belum saya temukan sirrah bagaimana sebetulnya sikap sang istri kepada sang ibu mertua?. Saya lihat, bisa jadi sang istri baik-baik saja tidak ada yang mengecewakan, terbukti AlQomah sangat mencintai istrinya. Namun sayang, sikap sang suami yang berlebihan itulah bisa jadi yang melenakan untuk melupakan orang tua sendiri yang masih ada dalam tanggung jawabnya. mudah-mudahan kita semua tidak termasuk yang seperti itu, terlebih punya sifat cemburu kepada ibu mertua atas perilaku suami yang sangat menyayangi beliau. Sungguh ibu mertua bukan saingan kita, karena beliaulah yang melahirkan dan membesarkan suami kita bahkan statusnya masih ibu dari suami. Sedang kita bisa jadi belum lama saja memilikinya dan dimilikinya. Kawan terkadang kita lupa akan hal itu…Astagfirullah

Allah SWT mengingatkan kita dalam Firmannya : “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.” (QS. Al Isra’ : 24) dan rasanya ini berlaku untuk dua ibu yang sekarang kita miliki. Juga ada sebuah hadist yang faedahnya masih akan berasa untuk kita saat udah menjalankan pernikahan ini Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassallam bersabda (artinya) : “Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua” (HR Tirmidzi) jangan sampai Rumah tangga kita tidak ada dalam keridhoan keduanya..

Ada hal yang bisa kita ambil pelajaran dari kisah AlQomah tersebut, bahwa sesungguhnya suami kita masih ada tanggung jawabnya untuk memelihara ibunya sendiri bahkan hak tersebut jauh lebih besar dari diri kita sendiri. Isteri dan anak memang wajib dinafkahi oleh seorang suami, namun ibu dan bapaknya lebih wajib dinafkahi. Sebuah hadis Nabi secara nyata menjelaskan hal ini. Hadis itu berbunyi, “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata dia, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulallah, siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang wanita? Beliau menjawab: “Suami wanita itu.” Aku bertanya lagi: “Siapakah yang paling besar haknya atas seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab: “Ibu laki-laki itu.” (HR Imam Hakim). Jangan sampai kita semua secara tak  sadar menghalangi hak sang ibu mertua. Nauudzubillah himindzalik…

Kembali ke persolan kufur nikmat atas Nafkah suami, saya pribadi sangat takjub dengan kisah Rasulullah SAW dalam mendidik anaknya Fatimah Azzahra. Menjadi Fatimah sungguh mungkin tidak mudah dijalani. Bahkan dikisahkan pakaian Fatimah Putri kesayangan Rasulullah kotor terseret debu saat membersihkan rumah, dan tangannya lusuh karena terlalu sering menumbuk gandum sendiri untuk keperluan Rumah tangganya. Bisa jadi Fatimah saat belum menikah tidak sampai seperti itu, beliau juga rela tidur beralaskan tembikar yang mana kondisinya kurang panjang hingga menutupi kaki Fatimah, semoga Allah merahmati beliau. Konon kabarnya Fatimah pun menemui Rasulullah untuk menanyakan perihal kondisinya, namun Rasulullah dengan penuh kasih sayang memberikan kabar gembira itu kepada sang putri dengan memberikan doa “subhanallah, walhamdulillah, walaailaaha illaah wallaahuakbar” bacalah itu 33 kali saat engkau akan tidur. Ternyata solusinya bukan serta merta diberikan khadimat (pembantu) agar sedikit diberi keringanan.Bisa jadi Rasulullah bisa saja memberikan hal itu untuk putrinya namun tidak beliau lakukan. Fatimah tidak lantas bersedih hati, namun semakin semangat mengerjakan semua itu karena setiap peluh lelah dan keringat yang bercucuran yang ia baktikan dirumah akan berbuah jika kita mengerjakan semua itu dengan penuh keikhlasan.

Saya pribadi bersyukur, doa itulah pelajaran pertama dari Suamiku saat jelang tidur. Tak lupa ia selalu mengingatkan aku untuk menyibukkan diri membacakan hal itu. Saya sadar, bisa jadi saat akan tidur itu memang terkadang saat tepat untuk mengeluh atas segala kecape-an seharian yang kita jalani, namun rasanya selalu saja beliau mengingatkan bahwa surga tak dicapai dengan mudah pun saya beraktifitas full time dirumah bersama anak saya. Semoga Allah memberkahi suami saya :).

Mungkin tak banyak yang bisa saya berikan, hanya ingin menasihati diri pribadi yang seringkali khilaf…teriring dengan sebuah harapan saja, biarlah suami saya memang bukan orang romantis yang bisa menunjukan semua itu untuk saya, biarlah suami saya buka tipe laki-laki yang pandai merangkai kata ataupun sekedar memanggil ucapan cinta dihadapan saya, tapi jujur berjalan denganmu selalu ada saja pelajaran penting untuk membawa saya menjadi pribadi yang lebih kuat lebih baik dan mudah-mudahan lebih sholihah…mudah2an kelak Allah mempersatukan kita kembali di SurgaNya …amin ya Robbal a`lamin.

Korea, 20 January 2010

Read Full Post »