Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘selaksa hikmah’ Category

Hanya sebuah keberanian yang membawa asaku untuk pergi di hari itu. Ini hanya dunia fana. Tiada yang perlu ditakuti.  Ku titip diri pada Ilahi yang Maha Melindungi. Semoga perjalanan ini membawa hikmah yang berarti.

Hujan baru saja reda di siang itu. Semilir angin sejuk menerpa wajahku yang baru saja keluar dari gedung apate kami. Aku biarkan anakku berlari menghambur jalan mengiringi keceriaan hari. Aku seret roda stroller di jalan membiarkan suaranya menderu menyapu jalanan. Sembari memperhatikan langkah kaki anakku berjalan di jalanan. Kami berhenti di penghentian taksi dekat rumah kami.

Sertamerta sebuah taksi meluncur di depan kami. Segera aku angkat anakku dan mendudukkannya di kursi belakang. Stroller yang terlipat pun ikut serta dalam rengkuhanku saat itu.

Gyeongsan Yok, juseyo AjoshiI.” Ujarku kepada bapak taksi yang paruh baya.

Sekilas tampak dari gaya menyetir yang sedikit koboy. Tampak sangat terburu-buru di tengah udara dingin menyelimuti. Tidak sampai sepuluh menit kami sudah sampai di Gyeongsan Stasiun saat itu.

Kelimpungan pertama aku temui. Ini  kali pertama aku mengunjungi stasiun yang baru saja dibangun kembali. Bahkan aku tak tahu di mana letak lift yang biasa dipake untuk membawa roda stroller. Sedikit nekat aku naikkan stroller anakku ke atas escalator yang sedang berfungsi. Pun sedikit aku harus berusaha menahan beban saat escalator meninggi. Sampailah aku di tempat penjualan tiket saat itu.

“Mugung hwa, Busan juseyo.” Ucapku sedikit gagap. Berharap penjual tiket tak bertanya kembali. Namun malang, penjual tiket berkata sesuatu yang aku tak paham. Sedikit kutangkap darinya bahwa ia berkata Seamaul. Salah satu kereta di Korea selain Mugunghwa dan KTX.

“Mugunghwa obsoyo?” Ujarku menegaskan kembali. Karena aku tak paham apa yang ia katakan. Kembali ia berkata yang aku tak paham. Kemudian ia memberikan tiket kereta yang aku maksud.

Masih punya waktu sekitar 20 menit untuk menunggu kereta yang akan tiba. Namun sadar diri dengan kondisi yang aku hadapi. Sepertinya aku harus menyiapkan sedari dini. Kucari line kereta ke arah Busan. Jangan sampai aku salah arah ujarku dalam hati.

Setiba di line kereta yang dimaksud. Syafin anakku teriak kegirangan minta turun dari stroller. Butuh waktu untuk menenangkannya dengan memberi sedikit minuman kepadanya. Tiba-tiba aku tegerak melihat tiket yang sedari tadi aku pegang.  Sembari memperhatikan pintu kereta mana yang akan kunaiki. Namun di sana tak satupun number seat yang aku jumpai. Malahan kutemukan ipseokk sebuah kata yang sama sekali aku belum memahami. Tergerak aku menelepon seorang kawan yang pasti bisa membantu aku.

“Assalamu`alaikum, Mutia.” Ujarku diujung telepon. Sembari berharap Mutia mampu memberikan penjelasan.

“Alaikumsalam, mba Aida.” Ucapnya menenangkanku yang sedang kelimpungan.

“Mutia aku mau tanya, ipseok apa ya? Ini aku lagi berdua sama Syafin mau ke Busan. Tapi gak nemu number seat-nya.”  Ucapku tergopoh-gopoh menjelaskan.

“Aah, mba Aida beli tiket berdiri, ipseok itu artinya berdiri mba.Mba mau kemana?” Ujar kawanku, keheranan.

“Aah, iya mungkin Si penjual tiket kepikiran karena aku bawa stroller dia memberiku tiket berdiri. Iya nih, aku mau ke Busan. Ada undangan nikahan kawan. Kebetulan abinya Syafin sedang di Jepang. Itung-itung sembari liburan.” Ucapku menjelaskan. Sedikit paham tadi Si penjual tiket menawarkan kereta Seamaul yang juga akan datang.

“Mba Aida ke kereta kantin saja. Ada di Gerbong 4. Di sana ada sedikit tempat duduk dan agak lapang untuk simpan stroller.” Ujar Mutia menjelaskan. Tak salah memang aku menelepon kawan.

“Iya baik tak apa Mutia. Toh Cuma satu jam 20 menit saja. Sepertinya lebih praktis kalau bawa stroller berdiri saja.” Ucapku menenangkan diri. Kututup telepon dan bergegas mencari pintu 4 yang dimaksud.

Seorang harabochi memperhatikanku saat itu. Lalu kemudian ia menegurku dengan bahasa yang tentu saja aku tak paham. Namun sertamerta dia membantuku menyimpan stroller anakku di depan dinding yang sedikit aman dari terpaan angin. Hujan yang baru saja reda tadi pagi, membuat udara sangat dingin saat itu. Aku jadi paham,  harabochi itu meminta aku menyimpan Syafin di tempat yang aman dari terpaan angin.

Lagi-lagi seorang ajumma memperhatikanku. Saat tiba-tiba Syafin kegirangan melhat kereta yang akan melintas di depan kami. Serta merta ajumma itu menarik Syafin dari lintasan kereta. Dia pun mendekap anakku dan menutup telinga anakku. Lagi-lagi aku diajarinya. Untuk menjaga Syafin dari bising suara lintasan kereta. Aku pun terharu dibuatnya.

Aku sadar akan keberadaanku di sana. Aku bukan siapa-siapa. Hanya orang asing yang kelimpungan dengan anak di pangkuan. Namun jujur, aku sendiri tidak merasa keberatan akan keberadaan. Perhatian, keramahan dan pertolongan orang-orang di sekitar membuat aku merasa aman.

Dalam dekapan lamunan. Aku terbangun dari kesadaran. Tangan Allah ada di mana-mana. Mengiringi langkahku. Melindungi setiap tatihku.  Meskipun kerap kali kutemui pertolongan. Dari orang-orang yang sama sekali tak mengenal Tuhan.

 

Aku sibuk mencari seribu ide untuk bisa menaikkan stroller Syafin ke atas kereta. Tak mungkin jika aku naikkan semua itu sendiri. Dengan beban ransel yang lumayan di belakang. Akhirnya aku putuskan untuk membawanya dua kali jalan. Sesaat waktu kereta datang, aku buka pengaman Syafin. Bersiap untuk menaiki kereta yang telah datang. Aku gendong anakku terlebih dahulu lalu kemudian aku kembali untuk mengambil stroller.

Sebuah kejutan kutemui saat itu. Alih-alih seorang anak muda membawakan stroller  dan mengikutiku dari belakang. Girang bukan kepalang. Sembari ia pun membantuku menyimpan stroller di tempat yang lebih lapang. Akupun berterimakasih kepada anak muda itu.

Hiruk pikuk orang-orang yang lalu lalang. Membuatku kesulitan memindahkan Syafin ke kereta kantin yang aku maksud. Namun sepertinya di tempat aku berdiri saat itu. Suasana lumayan nyaman untuk Syafin. Meskipun mesti melewati beberapa penghentian dengan suara pintu yang menggelora. Namun aku tak mau terjebak di kesulitan yang mendalam. Aku pun bersabar dengan keadaan.

Tergerak aku tersenyum pada seorang wanita cantik di depanku. Sebelumnya aku temui ia di stasiun tempat aku naik di kereta ini. Saat ia sedang bercakap di telepon dengan sedikit bahasa inggris yang ia kemukakan.

“Can you speak English?”. Ucapku sedikit ragu. Sembari menatapnya dengan senyuman.

Yes, but a little.” Ucapnya tersipu malu.

Where are you going?” Ucapku mengawali keakraban dengannya.

Guppo, meet my boy friend” Ujarnya tersenyum kepadaku.

aah, really” Mencoba sedikit sumringah dibuatnya. Cukup wajar dari penampilannya yang menyaingi artis korea kebanyakan.

Are you student in college?” Aku pun bertanya penasaran. Barangkali saja satu kampus dengan suamiku. Yah tak banyak memang kampus di daerahku.

No, I’am still in high school.” Ucapnya menjelaskan.

“Woow, you look so adult.” Ujarku menjawab kepenasaran. Alih-alih suasana menjadi akrab begitu saja. Perjalanan menjadi begitu menyenangkan. Terlebih dirinya selalu membantuku dalam setiap hal. Hingga anakku tertidur dalam buaian perjalanan

Tepat di stasiun kawan baruku berhenti. Ia pun pamit kepadaku dengan kekhawatiran yang mendalam. Sampai ia pun meyakinkan aku tak mengapa sendiri di perjalanan. Mencoba menenangkan perjalananku tinggal terlewat satu stasiun lagi. Ku harap tak ada aral melintang.

Perjalanan tiba-tiba akan terhenti di stasiun terakhir tempat tujuan. Melihat anakku yang tertidur pulas di stroller. Aku pun mencoba membangunkan. Tiba-tiba seorang ajoshi menyapaku dan melarangku membangunkan. Sertamerta ia pun mengangkat stroller  Syafin dan membawa Syafin turun dari pintu kereta.

Lagi-lagi Tuhan, kau bawa malaikat perjalanan. Terimakasih atas segala bala bantuan. Membawa diriku sampai di tujuan. Semua yang terjadi begitu jauh dari bayangan. Aku pikir ini negeri asing. Negeri yang mengajarkan setiap jiwanya untuk memiliki kebebasan dalam segala hal. Namun kenyataan aku terbawa ke dalam kenyataan. Bahwa di sini ada kepedulian.

            Busan, kota besar yang terletak di ujung selatan korea. Di kelilingi oleh pantai yang cantik dan menawan. Selalu saja tersimpan kerinduan untuk mengunjungi kota ini. Selain sekedar untuk menghangatkan diri. Dari musim dingin yang menyelimuti. Boleh dibilang suhu di Busan paling tropis dibanding dengan kota-kota yang lainnya.

Seorang teman menungguku di Busan Stasiun. Belum lama bertemu sudah akrab saja membawa pergi anakku ke sana kemari. Membuatku bisa sedikit rehat menikmati perjalanan saat itu. Banyak yang ingin kutemui di sini. Rindu masjid, pantai, kawan-kawan Indonesia di sini. Aah, andai waktu bisa membawaku pergi ke semua itu.

Namun tiba-tiba pikiranku melayang pada perjalanan sore itu. Lekat dalam bayangan. Wajah orang-orang yang menolongku dengan penuh perhatian. Tanpa aku minta bahkan aku sama sekali tidak mengenal mereka. Begitu banyak hal yang terjadi secara tak terduga.

Aku teringat sebuah kisah semasa di tanah air sendiri. Setiap perjalanan sendiri membawa ketakutan tersendiri. Tak bisa dibayangkan dengan membawa anak dalam pangkuan. Sendirian saja terkadang aku merasa tidak aman dibuatnya. Copet, jambret, atau penipuan yang kerap kali terjadi di sarana transportasi umum. Sedikit membuatku jengah saat mengadakan perjalanan seorang diri.

Entah kenapa, di negeri yang terkenal ramah dan marak akan budaya dan adat istiadat yang di junjung tinggi. Bahkan norma kesopanan yang seringkali dianggap sebagai kepatutan yang harus dipunyai. Namun ironisnya tidak mengajari warganya sebagai bentuk kesyukuran tersendiri. Setidaknya kita punya agama. Seharusnya ada yang kita takuti.

Tidak lama akhirnya kami sampai di tempat peristirahatan. Bukan rumah, bahkan motel. Tapi masjid yang kurindui sebagai tempat beristirahat di malam ini. Cukup di masjid yang membawaku bisa melepas lelah dari kepenatan setiap hari. Cukup di sini tempat kami berkumpul dan bercengkrama layaknya saudara jauh yang sekian lama tidak bertemu. Cukup di sini yang mengobati aku akan adzan subuh yang setiap hari tak pernah bisa aku perdengarkan.

Tiba saatnya aku harus pulang. Namun sekarang, aku pulang tanpa menyisakan kekhwatiran yang mendalam. Selain karena aku yakin ada tangan-tangan Allah menemani. Ada bulir-bulir harapan terhadap masyarakat sekitar. Tidak membiarkan kesulitan dalam kesendirian.

Dua hari di Busan menyisakan banyak kebahagiaan. Namun di penghujung waktu aku pun harus berpamitan. Untuk kembali ke peraduan. Tentu saja aku pulang dengan penuh harapan. Kelak akan bertemu kembali di lain kesempatan. Merajut kerinduan yang sekian lama terpendam.

Sampai kembali di sudut kereta Mugunghwa. Kali ini pun aku kembali memberi tiket kereta berdiri. Selain kebetulan tiket duduk sudah habis saat itu. Aku pikir berdiri lebih memudahkan untukku saat itu. Aku diantar oleh seorang kawan hingga aku berada di kereta kantin yang sebenarnya.

Hiruk pikuk lalu lalang orang cukup membuatku kesulitan mencari tempat yang nyaman. Alih-alih seorang ajumma paruh baya memanggilku dari kejauhan. Sertamerta ia pun membantuku ke tempat yang ia maksud. Sedikit banyak ia memberi perhatian. Memberikan arahan di sini tempat yang aman.

Aku duduk bersamanya dalam remangnya lampu kantin saat itu. Sesekali ajumma itu menggoda anakku yang menurutnya lucu bukan kepalang. Namun perlahan aku sadar. Di sini bukan tempat yang nyaman.

Sebuah teriakan tidak sadar aku dengar dari orang yang tak jauh dari aku. Seorang ajoshi yang mabuk berat terduduk tepat di hadapanku. Jelas sudah kepanikan akan diri sertamerta menghantui. Mencoba menenangkan diri dengan minum seteguk minuman yang tadi aku beli.

Pemanas ruangan yang menyala di kereta kantin itu membuat anakku sedikit gusar. Perlahan aku buka jaket tebal yang menyelimuti. Sembari terus memperhatikan ajoshi yang mabuk berat di hadapan kami. Khawatir ada satu dan lain hal yang akan terjadi.

Aku angkat Syafin di atas meja kantin kereta. Sesekali aku bernyanyi untuknya. Sembari menenangkan batinku yang sedikit gusar atas perlakuan ajoshi. Sesekali aku perlihatkan Syafin kerlap kerlip lampu yang bersinar di luar sana. Namun hatiku tak bisa dipungkiri. Duhai Allah jujur aku mulai tidak nyaman berada di sini.

Rasanya aku telah salah menilai suatu negeri. Kebebasan yang tadinya sempat aku junjung tinggi. Kenyataan tidak melulu menjadi bukti. Akan rasa empati yang kerap kali aku dapatkan dari orang-orang di sini.

Bagaimanapun juga jauh dari lubuk hati. Aku mencintai suatu negeri. Saat orang mabuk tidak lagi di hormati. Bahkan tak dibiarkan berkeliaran di tempat-tempat umum seperti ini. Sedang di sini,  di mana-mana aku temui. Minuman beralkohol yang seakan-akan sudah menjadi kebanggaan warga sini. Aku terasing di sini. Sedih dengan kenyataan yang ku hadapi.

Syafin kecil sedikit gusar dengan kegiatannya saat itu. Sama hal-nya dengan kegusaran yang sedang terbenam dalam hatiku. Aku ingin pergi dari sini. Alih-alih Syafin menangis begitu saja. Seorang harabochi pun datang menenangkan Syafin. Mencoba membantu memangku Syafin yang berontak pada diriku.

Jujur aku merasa terbantu oleh harabochi itu. Namun aku tidak mau berdiam diri. Aku tak ingin berada di sini. Perjalanan menyisakan dua stasiun lagi. Aku pun bersiap diri keluar dari kereta kantin. Beberapa memberikan penjelasan kepadaku bahwa Gyeongsan masih dua stasiun lagi. Aku berdalih dengan alasan anakku kepanasan. Hatiku gusar melihat perlakuan orang mabuk itu.

Terhempas aku di sudut kereta di persimpangan menuju pintu keluar. Meskipun sedikit bising, aku nyaman berada di sini. Tiada orang ku temui juga udara dingin menyelimuti. Syafin pun nyaman berada di sini. Tak lama kemudian ia pun tertidur terbalut kesejukan di malam sepi.

Aku pun bersiap turun di Gyeongsan Stasiun. Seorang ajoshi  sertamerta memahami. Membantuku menurunkan stroller saat kereta terhenti. Tak lupa aku ucapkan terimakasih pada dirinya yang begitu pandai memahami.

Akhirnya semua ini berhenti begitu saja. Dengan penuh kesyukuran. Berkali-kali aku ucap Alhamdulllah atas keselamatan akan diri.

Perjalanan ini membawa diriku hikmah tersendiri. Perjalanan ini membuatku jadi memahami. Ada saat aku bersyukur, ada saat aku terpukul. Layaknya itulah kehidupan yang harus aku temui.

 

Gyeongsan, 14 Desember 2011

Advertisements

Read Full Post »

As a good wife

Pernah suatu hari sebagai seorang teman biasa, saya dicurhati seorang teman perihal Kerumahtanggaan. Terus terang saya pribadi bukan ahli agama  juga saya buka seorang psikolog yang mungkin faham akan hal tersebut. Sebut saja saya hanya seorang teman biasa yang merasa senang apabila bisa berbagi. Mengalirlah kisah itu kepada saya…

Intinya, dia merasa sangat bersalah terhadap suaminya. Seringkali merasa kufur nikmat atas Rezeki yang suaminya berikan untuknya. Ironisnya suaminya bekerja di sebuah perusahaan yang boleh dibilang cukup basah sebagai lulusan Universitas kenamaan di negeri ini. Menghidupi anak yang baru satu, saya rasa masa iya masih tidak cukup?. Dibalik semua itu fahamlah saya, bahwa ia minta andil atas uang suami-nya itu untuk keperluan ayah ibunya karena merasa dirinya seorang anak pertama yang punya tanggung jawab atas ayah ibunya dan sang adik juga kebetulan masih bersekolah. Sayangnya beliau juga turut menyalahkan perannya atas nafkah yang mereka usahakan. Sembari berandai-andai, coba klo saya diizinkan kerja oleh suami mungkin tidak begini jadinya..pun saat itu beliau faham si kecil dengan siapa jika ia bersikeras untuk bekerja…

Kejadian tersebut bisa jadi peristiwa yang sangat umum kita jumpai disekitar kita. Jujur sebagai seorang teman, saya pribadi tidak punya solusi tepat untuk menjawab persoalan tersebut. Mungkin hanya kata sabar yang bisa terucap di mulut saya ini, karena sebagai seorang muslimah sejatinya kita harus menjaga kesabaran dengan senantiasa bersyukur atas rezeki yang Allah beri lewat suami kita.

Namun, tiba-tiba saja saya ingat kisah seorang sahabat Rasulullah yang bernama Al-Qomah. Kisah yang sangat cukup sarat makna dan pembelajaran bagi kita semua. Alqomah adalah seorang sahabat Rasul yang rajin  beribadah dan ia pun mempunyai istri yang sholihah. Namun dibalik semua itu, dia pun terlampaui mencintai Istrinya sehingga lupa bahwa   ada seorang ibu yang masih dalam pertanggung jawabannya. Suatu hari AlQomah datang mengunjungi sang ibu untuk memberikan sedikit bingkisan dan ia pun membawa 2 bingkisan saat itu satu buat ibu dan satu untuk istrinya. Kemudian sang ibu berkata kain yang ini sungguh bagus apakah itu untuk diriku? tapi kemudian dengan serta merta AlQomah menjawab, bukan itu bukan untuk ibu punya ibu yang ini dengan menunjukan bingkisan yang satunya. Kebetulan ibunya tak suka atas bingkisan yang dimaksud, hingga dalam hati dia menyesali atas sikap yang dilakukan anak laki-lakinya. Hatinya sedikit tertoreh…

Dilain kesempatan, sang ibu pergi kerumah kediaman AlQomah dan istri. Kebetulan saat itu istrinya sedang tidak dirumah. Nampak di sebuah meja hidangan yang sungguh lezat, tiba-tiba saja sang ibu tergerak untuk mencicipi hidangan tersebut. Namun sayangnya AlQomah melarang sang ibu mencicipi hidangan tersebut, seraya berkata tunggu hingga istriku pulang karena hidangan itu untuk istrinya. Hati sang ibu terdiam dan menangis dalam hati. Terbayang sudah kasih sayang yang ia curahkan selama ini terbayar dengan pergeseran kasih sayang yang anaknya dapat dari sang istri. sangat pilu hati sang ibu hingga ia pun sulit untuk membayar kesalahan sang anak. Hingga suatu hari, AlQomah menghadapi sakratul maut, dan konon iapun kesulitan menghembuskan nafas terakhir istrinya pun tak kuasa menahan kesedihan atas peristiwa yang dialami suaminya. Sampailah cerita tersebut kepada Rasulullah SAW, yang pada akhirnya diutuslah Billal untuk menanyakan kondisi AlQomah pada sang ibu. Sang ibu tergerak menemui Rasulullah SAW dan menjelaskan perihal kesakit hatian yang selama ini dia rasakan. Hingga sampailah Rasulullah memberi perintah untuk membakar AlQomah, karena sungguh siksa di neraka lebih keji dibandingkan api di dunia. Sebagai seorang ibu siapa yang rela anaknya dibakar didepan mata. Dan akhirnya sang ibu memaafkan perilaku AlQomah dan AlQomah pun menghembuskan nafas terakhir.

Entahlah, rasanya klo kita membahas AlQomah tentu saja ia bersalah atas perilakunya. Namun saya lebih tertarik ngebidik sang istri, pun belum saya temukan sirrah bagaimana sebetulnya sikap sang istri kepada sang ibu mertua?. Saya lihat, bisa jadi sang istri baik-baik saja tidak ada yang mengecewakan, terbukti AlQomah sangat mencintai istrinya. Namun sayang, sikap sang suami yang berlebihan itulah bisa jadi yang melenakan untuk melupakan orang tua sendiri yang masih ada dalam tanggung jawabnya. mudah-mudahan kita semua tidak termasuk yang seperti itu, terlebih punya sifat cemburu kepada ibu mertua atas perilaku suami yang sangat menyayangi beliau. Sungguh ibu mertua bukan saingan kita, karena beliaulah yang melahirkan dan membesarkan suami kita bahkan statusnya masih ibu dari suami. Sedang kita bisa jadi belum lama saja memilikinya dan dimilikinya. Kawan terkadang kita lupa akan hal itu…Astagfirullah

Allah SWT mengingatkan kita dalam Firmannya : “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.” (QS. Al Isra’ : 24) dan rasanya ini berlaku untuk dua ibu yang sekarang kita miliki. Juga ada sebuah hadist yang faedahnya masih akan berasa untuk kita saat udah menjalankan pernikahan ini Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wassallam bersabda (artinya) : “Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua” (HR Tirmidzi) jangan sampai Rumah tangga kita tidak ada dalam keridhoan keduanya..

Ada hal yang bisa kita ambil pelajaran dari kisah AlQomah tersebut, bahwa sesungguhnya suami kita masih ada tanggung jawabnya untuk memelihara ibunya sendiri bahkan hak tersebut jauh lebih besar dari diri kita sendiri. Isteri dan anak memang wajib dinafkahi oleh seorang suami, namun ibu dan bapaknya lebih wajib dinafkahi. Sebuah hadis Nabi secara nyata menjelaskan hal ini. Hadis itu berbunyi, “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata dia, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulallah, siapakah orang yang paling besar haknya atas seorang wanita? Beliau menjawab: “Suami wanita itu.” Aku bertanya lagi: “Siapakah yang paling besar haknya atas seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab: “Ibu laki-laki itu.” (HR Imam Hakim). Jangan sampai kita semua secara tak  sadar menghalangi hak sang ibu mertua. Nauudzubillah himindzalik…

Kembali ke persolan kufur nikmat atas Nafkah suami, saya pribadi sangat takjub dengan kisah Rasulullah SAW dalam mendidik anaknya Fatimah Azzahra. Menjadi Fatimah sungguh mungkin tidak mudah dijalani. Bahkan dikisahkan pakaian Fatimah Putri kesayangan Rasulullah kotor terseret debu saat membersihkan rumah, dan tangannya lusuh karena terlalu sering menumbuk gandum sendiri untuk keperluan Rumah tangganya. Bisa jadi Fatimah saat belum menikah tidak sampai seperti itu, beliau juga rela tidur beralaskan tembikar yang mana kondisinya kurang panjang hingga menutupi kaki Fatimah, semoga Allah merahmati beliau. Konon kabarnya Fatimah pun menemui Rasulullah untuk menanyakan perihal kondisinya, namun Rasulullah dengan penuh kasih sayang memberikan kabar gembira itu kepada sang putri dengan memberikan doa “subhanallah, walhamdulillah, walaailaaha illaah wallaahuakbar” bacalah itu 33 kali saat engkau akan tidur. Ternyata solusinya bukan serta merta diberikan khadimat (pembantu) agar sedikit diberi keringanan.Bisa jadi Rasulullah bisa saja memberikan hal itu untuk putrinya namun tidak beliau lakukan. Fatimah tidak lantas bersedih hati, namun semakin semangat mengerjakan semua itu karena setiap peluh lelah dan keringat yang bercucuran yang ia baktikan dirumah akan berbuah jika kita mengerjakan semua itu dengan penuh keikhlasan.

Saya pribadi bersyukur, doa itulah pelajaran pertama dari Suamiku saat jelang tidur. Tak lupa ia selalu mengingatkan aku untuk menyibukkan diri membacakan hal itu. Saya sadar, bisa jadi saat akan tidur itu memang terkadang saat tepat untuk mengeluh atas segala kecape-an seharian yang kita jalani, namun rasanya selalu saja beliau mengingatkan bahwa surga tak dicapai dengan mudah pun saya beraktifitas full time dirumah bersama anak saya. Semoga Allah memberkahi suami saya :).

Mungkin tak banyak yang bisa saya berikan, hanya ingin menasihati diri pribadi yang seringkali khilaf…teriring dengan sebuah harapan saja, biarlah suami saya memang bukan orang romantis yang bisa menunjukan semua itu untuk saya, biarlah suami saya buka tipe laki-laki yang pandai merangkai kata ataupun sekedar memanggil ucapan cinta dihadapan saya, tapi jujur berjalan denganmu selalu ada saja pelajaran penting untuk membawa saya menjadi pribadi yang lebih kuat lebih baik dan mudah-mudahan lebih sholihah…mudah2an kelak Allah mempersatukan kita kembali di SurgaNya …amin ya Robbal a`lamin.

Korea, 20 January 2010

Read Full Post »

Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah memberikan karunia terbesar pada aku dan anakku sehingga sudah 4 bulan sudah kami bersama tanpa kekurangan suatu apapun. Ya..belajar mudah-mudahan apapun yang dialami senantiasa harus selalu bersyukur, setidaknya kami disini dalam keadaan sehat tanpa kekurangan suatu apapun. Terimakasi ya Allah..

Awalnya menjalankan semua ini penuh rasa waswas, khawatir dan serba kurang percaya diri. Dengan semangat untuk terus belajar, membaca dan mempraktekkan semua Alhamdulillah terjalani dengan baik. Belum lagi terkadang, kaum ibu terkikis habis kurang percaya dirinya saat harus share ini itu perihal anak. Anak saya begini, begitu…Sampai, dalam suatu kesimpulan Alhamdulillahnya menurut aku setiap anak ada perkembangannya tersendiri yang bisa jadi berbeda dengan yang lain. InsyaAllah selama ada dipelukan ibunya, dia akan tumbuh dengan baik dan sesuai kodratnya. Tentunya ada rasa aman yang dia rasakan saat bersama ibu. Pelukan ibu memang luar biasa, teringat anakku syafin saat aku peluk untuk tidur bersama dan aku harus terbangun untuk menyelesaikan satu pekerjaan diapun akan terbangun karena merasa kehilangan sesuatu yang selama itu ada disampingnya. Saat aku selimuti ia dengan selimut yang biasa aku kenakan, cukup tau ada bau ibunya disana dia pun tidur lelap tak berasa :D. Subhanallah…pelukan ibu tiada tara sampai sekarang pun saya sangat merindukan kehangatan pelukan ibuku di indonesia :), sambil terbayang-bayang bau wanginya mama disana, dulu saat mama pergi kerja jika aku rindu aku selalu menciumi kain sarung yang biasa ia kenakan dirumah. Sepele memang, tapi hal itu cukup essensial buat anak.

Saat anakku menangis, lama-lama tau apa-apa yang kurang daripadanya. kegerahan, bosen, gak` mau ditinggal, atau buang air besar, atau ada bagian yg sakit dari tubuhnya. Ekspresinya terlihat jelas dibulan-bulan ini, akupun bisa membedakan saat dia marah, protes, kesakitan, atau tangisan manja. pun dengan tawa riangnya, saat aku tersenyum taak sungkan iapun membalas senyumku, saat aku cumbu dirinya diapun menyapaku dengan manja, saat aku bernyanyi untuknya dia pun mengikuti nadaku dengan senangnya…aah anakku kejadian demi kejadian ini barangkali tidak akan terulang kembali kelak, aku pun tak akan melupakan kejadian demi kejadian yang pernah terjadi. semoga kelak kau pun tak akan pernah lupa akan hal ini, pun tak bisa dan belum mampu kau ingat minimal kau selalu yakin klo ibumu selalu menyayangimu sepanjang masa, sebagaimana diriku dicintai ibuku selalu sepanjang masa…

Tidurmu ketenanganmu, damainya dirimu saat tidur nak…kadang tersenyum, merentangkan kedua tangan, memejamkan mata dan perutmu turun naik mengatur nafas. Ada damai tiada tara yang kulihat disana ingin rasanya selalu memberikan kebahagiaan dan kecukupan untuk dirimu. Subhanallahnya…selalu ada untukmu nak, bahkan saat Ummi baru saja berharap dalam hati, ada satu atau dua hal yang kau belum punya selalu saja ada yang lain memberimu dimana hal itu sesuai dengan harapan ummi. Jangan pernah khawatir kau terlahir dari abi yang masih menuntut ilmu. InsyaAllah hanya Allah yang akan mencukupimu nak…bukan dari tangan abi, apalagi tangan umi yang setiap hari konsentrasi dengan urusanmu dirumah ini. Tapi dengan semua itu kami hanya berharap ditangan Allah rezekimu ada. Sebagaimana Allah akan mencukupi semua rrezeki setiap insan yang hanya berharap pada Allah…

Masih ada satu harapan setelah ummi rampung melahirkanmu, setelah ini apa lagi yang akan aku raih. Masih banyak cita-cita yang belum terlaksana. Pun tidak sekarang, tidak dalam waktu dekat ini, hanya saja semakin hari ummi semakin sadar Allah mengajariku dengan ini dulu sebelum amanah lain akan datang kemudian hari.Semoga dengan demikian ummi tidak takabur untuk lupa mengasah diri dan mengasah otak. Terimakasi nak..bersamamu sama sekali ummi tidak melupakan belajar, membaca, menelaah dan memahami segala hal yang terjadi. Karena ingin rasanya aku menjadi bagian yang bisa bermanfaat untuk kebanyakan orang di dunia ini. Semoga keberartian ini tidak mengurangi keberartian aku untukmu anakku…

karena ummi sadar…

no one can replace becoming a mother…

when the mother could feel cold, but in their hearts they would be wondering if the children is warm

when the mother might feel hungry, but in their hearts they would be wondering if the children is well fed

when mothers might feel tired while she was working, but they would be wondering if the children were safe

semoga Allah selalu memberiku kekuatan untuk memelihara dan membesarkanmu….

amiin…

24 juni 2010, satu jam menuju Syafin 4 bulan…

Read Full Post »

episode syukur

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memberikan pernyataan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Ku-tambah nikmat-Ku kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Saat diingatkan pada untauan kalimat Allah di atas, jadi teringat sudah seberapa banyak rasa syukur yang telah kupanjatkan padaMu ya Allah…

hidup ku berasa luruuus disini, ada yang diharapkan, tak urung aku mendoakannya. satu persatu doaku dikabulkanNya..tak urungkah aku bersyukur atas semua. Setelah yang satu aku selalu berharap untuk doa yang lain, bahkan saat aku lupa belum bersyukur atas apa yang telah aku dapatkan…

Bersyukur memang identik dengan kebahagiaan…namun, konsep sebenarnya tidak demikian adanya. Bersykurlah saat senang, sedih, maupun dirundung malang. karena kekuatan bersyukur bukan berada pada saat kita berkecukupan atau ada di titik bahagia, namun konsep syukur ada pada upaya bagaimana kita merasa cukup dan menikmati segala apa yang Allah kasi untukku saat ini…

Wallahu`alam

muslimah doa_1

Read Full Post »

My inspiration…

“”Jadi, pertanyaan sesungguhnya bukan dimana kita akan berada pada tahun 2050, melainkan kemana kita ingin mengarahkan dunia di tahun 2050″….(M.Yunus)

Ada satu buku yang bagus dan bisa di jadikan referensi semua orang. Especially, buat kamu yang punya inspirasi untuk bisa jadi orang yang bermanfaat buat banyak orang. Kata-kata di awal aku ambil dari tulisan dia di buku itu Bab terakhir, disadari atau engga kebanyakan kita membayangkannya Udah jadi apa ya tar 2050??udah punya anak berapa? rumah kita dimana? dll…., aku belajar dari buku ini banyak hal untuk memahami semua :).

This Books, covernya kurang menarik tapi isinya sarat akan ilmu. awalnya yang kasi ni buku suami aku. berhubung banyaaaaaak sekali pertanyaan yang intinya isinya ada di buku ini. awalnya aku males mesti baca2 buku beginian. Dulu suami aku cuma bilang tau M. Yunus gak? aku bilang gak tau ada juga M. Yamin temen Goethe aku dari Sulawesi :p. hehehe….pas liat wajahnya, oh ya mukanya familiar di TV. hehehhehe…

Quots di belakang buku itu ditulis begini :…” WAJIB DIBACA OLEH SETIAP AKADEMISI, AKTIVIS, DAN PENGAMBIL KEBIJAKAN…”

Makanya, aku cukup penasaran dengan isi buku tersebut. Judulnya “BANK KAUM MISKIN”. Buku tersebut berisi kurang lebih 275 halaman, berisikan tahapan demi tahapan dari mulai ide, perencanaan dan pelaksanaan Bank Kaum miskin di negara yang terkenal miskin (katanya, ga tau ama Indonesia apa bedanya…??).

Sedikit tentang M.Yunus, seorang akademisi kelahiran chittagong (Bangladesh)  1940 sebagai anak ketiga dari 14 bersaudara bayangkan. lima meninggal diantaranya. hmm..karena punya saudara banyak, dia biasa mandiri dari ortu sedari kecil, hidup damai dengan kaka adeknya. Terlebih di ceritakan di buku tersebut ibunya M. Yunus pernah terkena Depresi dan gangguan jiwa saat masa kecilnya. karena tekanan keluarga tersebut dia bangkit dan berjuang untuk kebaikan di hari esok. Karena ketekunannya M.Yunus menerima beasiswa Fullbright untuk melanjutkan kuliah di Vanderbilt University. Menjabat dekan Fakultas Ekonomi Chittagong University tahun 1972 dan mulai mendalami akar2 kemiskinan masyarakat di desa jobra. sampai pada akhirnya di tahun 1983 dia merintis Grameen Bank sebagai bentuk usaha untuk mensejahterakan rakyat miskin terutama kaum perempuan. usahanya itu membuahkan  Nobel perdamaian pada tahun 2006, pun usaha Bank Kaum miskin tersebut banyak dicontoh oleh Negara berkembang lainnya, di ASIA hingga tataran EROPA sekalipun.

Dari buku ini aku jadi banyak tau ….:

1. Seseorang yang tau arti kerja keras sedari kecil, akan membuahkan banyak mimpi di akhir kehidupannya. Betapa aku sedih kisah kecil seorang M. Yunus, yang mempunyai ibu punya gangguan jiwa dan tekanan keuangan keluarga sebegitu minimnya, tapi ia turut aktif membangun daerahnya tidak menyurutkan langkah mimpinya karena itu…

2. Satu hal yang menarik, tentang hukum “Purdah” di Chittagong, dimana seorang perempuan yang menikah diwajibkan bayar mahar kepada kaum lelaki. berikut juga disana kaum perempuan tidak punya hak untuk keluar rumah mencari rezeki dan menggunakan potensinya semaunya. Adat islam yang difahami dengan kedangkalan dan dipandang hanya sebelah mata, yang membuat para suami dan para golongan Ulama disana sangat2 kaku. melarang kaum istri keluar rumah pun dengan alasan yang jelas. Hal inilah yang menginspirasi M. Yunus untuk bikin Bank for women only, keren banget ya…Dah gitu, aku jadi tau akar masalah kemiskinan di negeri tersebut. Secara sedari dulu ibu lah yang care sama jajanan anak-anak, makan anak2 dan kehidupan anak2. Dan kenapa, kelaparan dimana2, kematian bayi n balita tertinggi disana karena mereka semua gak dapat asupan gizi yang baik. secara kaum ibu, sibuk membayar hutang purdah dan tidak punya uang untuk memberi anak2 gizi dan penghidupan yang layak. Secara, ibu-ibu tersebut yang melahirkan dan bertanggung jawab atas perkembangan anak2nya.

Hal itu yang membuat aku bersyukur, diberi banyak potensi dan kesempatan. dan sedikit mengurangi keluhan2 atas kegagalan yang kerap terjadi. Klo aku jadi mereka belum tentu sebahagia sekarang :), punya suami yang sangat mengizinkan cari ilmu bahkan menganjurkan :), diberi kesempatan cari nafkah juga berekspresi semau aku. thanks ya ka…

3. Belajar disiplin, dan tau arti kerja keras serta tujuan hidup. Begitulah arti dari kehidupan M. Yunus yang aku nilai. beliau adalah orang yang bisa menjalankan misi hidup setahap demi setahap. Finally, banyak kesan yang tiba2 terinspirasi begitu aja. Aku jadi tau, kesalahan paling fatal dalam kehidupanku yang masih merintis misi hidup untuk kepentingan sendiri. Disadari atau engga, kebanyakan kita ngejar Save pribadi aja untuk kedepannya. yang penting punya kerjaan bisa hidupin keluarga, hidup bahagia tanpa kekurangan suatu apapun. Paling engga bisa bantu ortu, ngasi ke ortu di masa tuanya, dan bisa bantu sodara2 terdekat. Kita jarang sekali berfikir untuk bisa berbuat untuk dunia dan seisinya.

4. Dari buku ini aku belajar gimana cara manage orang atau minimal manage diri sendiri kita. Aku terkesan dengan seputar kegiatan karyawan Grameen Bank. Walaupun Grameen diperuntukkan untuk orang miskin, tapi karyawan disana semua lulusan sarjana, seleksinya juga cukup ketat. Buat aku, secara orang yang mau kerja disana pastinya bukan orang “biasa” yang hanya ingin memenuhi visi pribadi doang. Aku kagum dengan sosok Akhtar,beliau salah satu dari 12000 pegawai Grameen Bank. usia dia 27 tahun, gaji bulanan dia 2200 taka (AS$66), termasuk tunjangan rumah, subsidi kesehatan, dan tunjangan transport. Ups, tunjangan transport termasuk keliling desa ke desa untuk mencari nasabah grameen Bank. Maklum Grameen Bank konsepnya menjemput bola, jadi pegawainya yang menjemput nasabah berhubung perempuan tidak boleh keluar rumah. Alhasil akhtar dari jam 7 pagi hingga jam 7 sore keliling-keliling melayani nasabahnya dari satu desa ke desa lain. sesekali ia kembali ke kantor cabang untuk audit laporan, dan kembali ke kantor jam 7 sore bukan langsung pulang tapi menyelesaikan tugasnya di hari itu. setelah rampung barulah ia pulang….aku ga` tau, sarjana di indonesia mau gak` ya gawe kayak akhtar??…belum lagi kendala jadi pegawai Grameen Bank bener2 di uji kesigapan dia ketika menerima banyak tantangan. Tentunya tantangan dari masyarakat sekitar, kaum priyayinya terutama banyak sekali menyangkal Grameen membawa Faham palsu yang akan merusak moral umat islam. Tentunya ini bukan pekerjaan mudah, kecuali untuk orang-orang yang faham akan tujuan dan arti sebuah kerja keras dan perjuangan. Dari awal pegawai Grameen Bank dilibatkan Training untuk mendidik dedikasi, pemahaman akan tujuan dan intinya untuk meluruskan niat…so`, orang disana gak usah susah2 kayak aku yang rada susah ngendaliin orang-orang yang bantu research aku sukses :(…Nah, dari sini aku tau, ya iya lah…orang2 yang bantu di Lab aku, dengan latar belakang berbeda, kepentingan berbeda, dan tujuan berbeda mana mau bekerja kayak aku yang siang malam berusaha memahami apa yang akan kukerjakan :). karena barangkali kapasitas aku bukan disana, kepala Lab aja bukan..hehe jadi curhat, so…klo sulit Da…kerjain aja insyaAllah tar juga beres…

The end of Story, aku punya mimpi untuk hari esok. Ya Allah andai engkau izinkan aku untuk berbuat banyak esok hari, pastinya aku akan tersenyum bahagia akan hal itu esok hari. Saat aku meraih bintang itu, aku bayangkan…tahapan demi tahapan yang telah aku lalui…dan sekarang, aku yakin, satu tahap telah berlalu, aku akan terus berjalan untuk mencoba lebih tinggi…lebih dalam dan lebih luas lagi menggali potensi aku. Belajar untuk yakin sama diri sendiri, dan senantiasa tawakal sama Allah. I`ll try to be the best person :)….

suamiku, thank`s for all your spirit n always there besides me…

Read Full Post »

Aku dulu punya mimpi, sekarang aku juga punya mimpi…

Mimpi yang lalu adalah kenyataan untuk hari ini, dan mimpi sekarang adalah kenyataan untuk hari esok…

Bermimpilah, niscaya Allah akan menggenggam mimpimu…

Klo ingat hari itu, niscaya aku ingin terus bersujud untukNYA sekaligus memanjatkan puji..Maha suci ya Allah semua tiada arti tanpa harapan itu. Aku belum berhenti, dan masih terus akan berlarii mengejarnya…

Sepetik kisah yang tak pernah aku lupa, saat aku bertemu dengan seseorang yang sekarang menjadi suami  aku. Awalnya kita gak pernah saling kenal, bahkan tau. Secara satu amanah dan satu kampus, namun jarak dan waktu yang memisahkan kami dan rahasia Ilahi mencampuri urusan kami saat itu. Dulu kebayang aku, dapat suami yang satu muyul, satu keinginan, satu harapan dan bersinergi adalah suatu hal yang terlalu “ideal”.Aku berusaha bersabar dan berharap terus, walau banyak orang yang bilang kebanyakan akhwat jatuh ke tangan ikhwan2 yang pengen akhwatnya di rumah, mengabdi untuk suami  dan anak2. Bukan suatu yang salah buat aku, bahkan suatu hal yang istimewa buatku..bahkan aku sudah terima hal tersebut jika memang itu yang terbaik buat aku. Kita gak` pernah tau, apa yang terbaik di depan sana..klo memang pengabdian untuk suami dan anak-anak adalah yang terbaik, kenapa engga di jalankan begitu adanya….

Hari berlalu dengan segenap mimpi, ku jajaki makna hidup ini.  Sangat terasa olehku, semakin hari Allah mengajari ku untuk semakin tangguh dalam bersikap, menentukan arah dan membangun mimpi. Maklumlah, setelah lulus yang namanya akhwat nyaris banyak yang kehilangan orientasi, apalagi klo belum menikah, belum berfikir hendak kemana. Alhamdulillah Allah merestui aku untuk terus berkarya walo ilmuku sedikit, justru karena adanya rasa ketidakpuasan itu banyak yang ingin aku gali dan temukan. Cemoohan sana sini aku terima, kenapa gak` nikah aja, kenapa gak cari kerja di industry yang menjanjikan banyak uang, kenapa gak` langsung s2. Semua pilihan, aku hanya bisa mencoba yang paling mungkin dan sesuai harapan aku. Dan semua gak` sulit banyak sekali tantangan, rintangan dan halangan yang mesti dihadapi. Kujalani dengan sabar, tawakal dan iman. Aku tangguhkan segenap doa malam aku hanya untuk Allah taala…

Pilihan demi pilihan telah aku lalui dengan begitu saja, melewati beberapa biodata dan berlalu begitu saja…bukan karena aku cukup selektif. Hanya saja aku mempertahankan apa yang menjadi prinsip aku saat itu, suatu hal yang bisa buat aku istiqomah dan mengajari aku banyak hal untuk lebih mengenal Allah. Aku sempat berazam, jika yang datang harus melupakan apa yang menjadi mimpiku, cita2ku yang terpenting aku tetap berada di jalan itu…. Aku yakin ada campur tangan ilahi tentang hal ini. Belum lagi desakan orang tua yang cukup dahsyat dan dorongan sana sini. Akupun bersibuk diri dengan mimpi, jalani tugas yang mungkin harus dilakukan dengan baik, apapun yang aku kerjakan dengan kesungguhan insyaAllah membuahkan hasil di esok hari. Kemanapun arahku melangkah kelak…….

Aku tau, duniaku dunia akademisi dan peneliti. Aku terbiasa menghadapi orang2 yang sibuk di lab tak kenal lelah, aku terbiasa dengan orang2 yang konsen banget dengan kerjaan dan melupakan segala hal, aku terbiasa menghadapi orang2 yang tidak money oriented tapi hasil riset oriented :p. Ya maksudnya..kebanyakan orang2 peneliti memang begitu adanya….aku terbiasa menghadapi, orang2 yang idealis memikirkan rakyat kecil dan tujuan dan skala pilot yang rumit dalam menentukan langkah riset selanjutnya. Hmm…inilah gambaran suami aku sekarang J. Yang berkesan adalah kapan hari aku  baca profil seorang researcher di majalah tarbawi. Seorang professor di Indonesia yang cukup idealis aku bilang. Beliau paparkan segala hal menyangkut perkembangan indonesia, dan impian dia kedepan tentang indonesia dengan ilmu yang ia miliki. Ku sebut ia sebagai ilmuwan sejati, tanpa keegoisan, dengan kecintaan sejati,r ela berkorban untuk memperkaya dan membuat maju bangsa sendiri. Bahkan ia rela di perolok orang2 karena prinsipnya…aku kenal ia dan sangat kagum padanya…sangat senang memang jika membaca profil orang yang bisa memberi banyak inspirasi..buah karya dia-lah yang membawa aku membangun mimpi dengan ilmu ini, walo aku gak sepinter professor itu, gak setegas beliau dan seidelais beliau..tapi aku punya semangat untuk seperti beliau..setidaknya!!

Aku baru menyadari, hm…selama ini aku gak pernah mengenal murobbi suamiku siapa, karena dia dapat biodataku dari sahabat dia dan kita berproses baik-baik saja. Aku baca profilenya sama sekali gak kepikiran tentang professor itu, sempat aku Tanya ke tetehku dulu, kabarnya Mb nya seorang professor. Aku pikir ya pantaslah dia bekerja di lembaga riset. Allah jawab pilihanku dengan ketenangan menjalani semua, kemudahan mencapai semua dan ridho Nya aku sekarang menjadi istrinya. Hingga suatu hari suamiku bercerita tentang siapa di balik kesuksesan pola pikir dia. Siapa orang yang sangat berpengaruh untuknya hingga ia merasa bangga dengan kerjaan dan hasil risetnya. Dia sebut suatu nama yang nyaris bikin jantung aku copot…Proffessor itu adalah Murobbi suamiku, yang buat akupun terpana dengan tuturan katanya…hingga diapun tertawa2 saja mendengar aku cukup ngefans sama sang MB. Aku ingat wajah itu yang menjabat tangan suamiku saat walimahan tempo hari, aku ingat wajah yang cukup familiar yang profilenya sering aku baca ampe bukunya lecek dan ilang ke bawa mimpi kemana2.  Hanya pujian atas syukur aku saat itu..Maha suci Allah yang bisa buat aku seperti ini…..entahlah rasanya semua ringan saja di jalani, walo banyak yang harus aku hadapi…

Suatu hari aku dan suami jalan2 ke kantor aku. Sampai di lift lt 7. Dia bicara, my Hunny (ehm..panggilan favorite dia) lab nya Farmakologi??  Ia lho emang kenapa ka??…katanya koq sama ko sama istrinya pak professor itu….hmm, aku nyaris speechless :p. Suami aku cerita, istri professor juga seorang Dr tepatnya Phd. Dia PNS BPPT kepala Lab farmakology. Makanya kaka ingin Hunny juga bisa sepertinya bisa menjadi seorang Phd. Sambil senyum ia berlalu…secara harapanku dari awal gak` seidealis itu, sekolah s2 aja udah bersyukur…wlo aku sering iri dengan orang2 pinter, aku ingin punya ilmu yang tinggi agar aku bisa memberi kebaikan ke banyak orang dengan ilmu itu. Bermanfaat lebih banyak lagi dan punya pengalaman yang lebih juga memberi teladan buat anak2 ku kelak…

Banyak hal yang aku bisa dapat dari seorang dia, yang baru saja aku kenal. Semangat kegigihan dan orientasi yang jelas aku bangun dan mencoba di jalankan. Ya Allah ternyata harapan itu ada..aku bersyukur atas doa yang kupinta dengan kesungguhan. Aku ingin cita2 ini menjadi jalan aku menuju surgamu, karena itu tujuan akhirku kelak…amin ya Allah ya Robbal A`lamin

Read Full Post »

Hari kemaren, tepatnya tanggal 7 Oktober 2008, ayahku Milad yang ke 56 tahun. Sayangnya di hari itu, beliau sedang tidak di rumah. yah dirinya gak inget kali klo Milad…dan biasanya orang2 juga ga inget. Aku aja yanag suka ngingetin dan mama tersayang yang pasti ingat…

Ayah bukan tipe orang yang seneng dengan ritual Milad. dan semua tampak biasa dan ga istimewa, malah perenungan karena jatah beramal di dunia berkurang kan berarti. dari dulu juga ayah paling ga seneng anak2nya rame2an buat milad..kecuali aku aja yang suka ribut n suka di maklum hehe, ayah ,makasi ya…

aku pengen banget buat sesuatu yang khusus buat beliau di milad yang sekarang. Tapi aku tau ayah bukan orang yang suka dengan hal begituan. mmh..kasi kado barang yang dia pengen banget..udah tuh,kemarin pas lebaran…tapi walo barang yang dimaksud bukan itu. tapi susah euy cari bener2 yang dia mau..aku dah keliling toko peci sebandungg ga dapet tuh. apa dong ya…ga ada ide…

hm,…kemarin 1 kalimat yang sempet buat aku sedih dengernya. dia bilang..rencana kedepan seperti apa? setelah 1 term udah aku lewati…terus dia bilang, ya udah sekarang mah ceritanya dah bukan ke bapak lagi…bapak cuma bisa doain. ting…termenung, yah ga semua anak merasakan apa yang aku rasakan. Ayah tipe orang tua yang mau nuntun aku agar  selalu ada di jalan selamat n save banget…ada baik n jeleknya juga. jeleknya aku rada ga di ajarin arti kemandirian dari beliau..selalu dituntut ke hal yang baiksedangkan baiknya, merasa diriku sangat save ampe sekarang…

aku g tau ke depan orang yang aku hadapi seperti apa. tapi insyaAllah aida ga takut dengan apapun yang terjadi. mau sama seperti ayah or orang yang mengajari aku untuk bersikap dan bertanggung jawab atas diri aku sendiri minimalnya. hm…dua-duanya insyaAllah baik, dan patut aku raih kebahagiaan itu. seraya berucap syukur, aku mau menjalankan amanah baru dengan perasaan lapang n ikhlas dengan banyak hal yang mungkin terjadi….

new spirit…

-aida-

Read Full Post »

Older Posts »