Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2011

Ada bab yang saya suka banget dari buku “Positif Parenting” karangan M Fauzil Adhiem, judulnya tentang jenjang-jenjang percaya diri.  Setelah baca satu bab itu saja langsung teringat esensi seorang manusia pada dasarnya, Allah berfirman dalam Surat Al-imron ayat 110 :

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.(3:110)
Cukuplah kiranya satu ayat ini saja yang bisa menumbuhkan kembali rasa percaya diri dalam diri kita. Bisa jadi saat diri kita merasa kita bukan siapa-siapa, tidak banya yang bisa  kita lakukan, merasa tidak cantik tidak istimewa dan lain sebagainya. Padahal jelas-jelas Allah telah memberikan banyak potensi kepada kita, dikatakan “umat terbaik” dibekali akal fikiran untuk bisa menjadi orang yang paling bertakwa. Namun sayangnya manusia banyak yang berpaling dari perasaan itu…

Fenomena yang terjadi saat ini yang saya perhatikan adalah, sebagai ibu baru tentu saja saya selalu belajar dan mengamati tingkah laku para ibu-ibu dan anak-anak kebanyakan sebagai bahan pembelajaran buat saya. Sayang beribu sayang banyak sekali orang tua yang menanamkan rasa percaya diri yang salah kepada anaknya sejak kecil. Sebagai contoh saja yang dijelaskan dalam buku ini, saat kita suka sekali memakaikan jilbab kecil pada anak kita yang masih bayi, seraya kemudian kita berkata duuh cantiknya anak ummi, sedari bayi anak tersebut sudah dilatih untuk tahu bahwa cantik itu jika memakai jilbab. Pun maksudnya baik ingin menyemangati. Namun dikatakan dalam buku tersebut, hati-hati dengan perilaku dan jangan heran jika kelak anak kita mempunyai kepercayaan diri yang “Nanggung”. Nanggung seperti apa?, Tidak salah klo saya mencontohkan diri saya sendiri yang punya pengalaman khusus tentang jilbab sedari kecil. Tanpa merendahkan kemampuan orang tua saya yang sudah mendidik jilbab sedari kecil, tentunya dari kecil saya seringkali mendapat julukan orang-orang “cantik saat memakai jilbab”. Tidak ada masalah dengan jilbabnya itu sendiri, jujur saja Alhamdulillah tidak membuat saya minder dalam bergaul pun saat dulu masih sangat jarang anak kecil berkeliaran memakai jilbab, hingga SMP alhamdulillah saya masih percaya diri untuk berbeda dengan orang lain. Namun masalahnya saya merasa lambat faham tentang esensi jilbab itu sendiri. Untuk apa? kenapa saya harus berjilbab dan lain sebagainya. Belum lagi jujur saja seringkali terbesit dalam diri, jika ada yang kurang dengan jilbab menjadi tidak percaya diri dikenakan 😦 misalnya kurang match, ada yang rusak sedikit, kurang rapi dan lain-lain.hehe…repot yaa :D. Tapi itulah menurut saya dampak kurang percaya diri yang sedikitnya pernah ada dalam diri saya, seiring berjalannya waktu namun jujur saja setelah kenal jilbab sekian lamanya barulah saya sadar esensi berjilbab seutuhnya :).

Saya juga menemukan kasus yang pernah terjadi pada seorang teman SMU saya dahulu, dia gak PD klo tidak mengenakan topi, padahal orangnya sangat pinter. Tampak konyol dan sepele memang tapi itulah yang dinamakan jenjang-jenjang percaya diri yang nanggung. Kita juga biasa melihat fenomena anak sekarang atau bahkan kita sendiri masih terdapat perasaan itu, merasa percaya diri klo mengenakan pakaian yang bagus, bawa HP yang paling keren, atau sekedar memuji teman dengan keistimewaan-keistimewaan finansial yang mereka sudah miliki. Bisa jadi kita atau ada kawan kita yang kurang percaya diri datang ke moment-moment reunian karena belum punya mobil, belum menikah atau bahkan malu masih pengangguran. Itu semua terjadi karena seringkali kita sebagai manusia biasa melihat dengan mata yang buta. Memuji orang saat dia sungguh hebat dengan sekedar kemampuan finansialnya, atau sungguh cantik dengan pakaian yang serasi dan perlengkapan yang ia kenakan. Sebagai ibu juga  kadang kita sibuk melengkapi perlengkapan si kecil, bahkan sampai kita lupa untuk mengisi perbelakan pola pikir dia, perbekalan dia untuk menjalani kehidupan dunia yang fana. Padahal kesejatian pembekalan dari seorang ibu yang paling baik bukan goresan fisik semata, tapi jiwa yang matang, pikiran yang siap menerima kejamnya dunia dan siap terjun untuk berjuang membela kebenaran.

Ingin rasanya saya bercerita tentang seorang pemuda yang paling dicintai Allah dan Rasulnya yaitu Ali bin abi Thalib. Mengapa beliau, konon kabarnya rambut seorang Ali tumbuh lebih sedikit dibagian atasnya berbeda dengan bagian bawahnya mirip sekali dengan pertumbuhan rambut anak saya. Sama sekali bukan karena itu ibu-ibu :D, hanya saja dari sejak sebelum menikah dulu, saya terlanjur simpati kepada pemuda satu ini yang begitu tangguh dan perkasa menjadi prajurit Allah. Siapakah Ali? seorang menantu Rasulullah SAW sekaligus anak dari paman Rasulullah SAW abu thalib. Dikatakan bahwa Ali bin Abu thalib adalah anak yang cepat matang yang menunjukkan ketegasan dan kekuatannya beliu dalam menghadapi berbagai keadaan. Ali adalah sebuah contoh seorang anak yang dibesarkan dengan penuh percaya diri sebagai manusia seutuhnya, kepercayaan diri dia saat menghadapi peperangan sungguh layak diacung jempol di usianya yang masih terbilang muda saat itu. Di perang Khandak beliaulah yang serta merta berani menghadang Amru bin Wud seorang kaum kafir Quraisy yang terkenal bengis dan kejam. Lalu Amru bertanya seraya memandang remeh kepadanya,”Siapakah kamu hai anak muda?”, “Aku adalah Ali.” Amru bin Wud bertanya lagi,”Kamu anak Abdul Manaf?”, “Bukan, Aku anak Abu Thalib.” Lalu Amru bin Wud berkata,”Kamu jangan maju ke sini hai anak saudaraku! Kamu masih kecil. Aku hanya menginginkan orang yang lebih tua darimu, karena aku pantang menumpahkan darahmu.” Ali bin Abu Thalib menjawab,”Jangan sombong dulu hai Amru! Aku akan buktikan bahwa aku dapat merobohkan-mu hanya dalam beberapa detik saja dan aku tidak segan-segan untuk menghantarkan-mu ke liang kubur.” Betapa marahnya Amru bin Wud mendengar jawaban Ali bin Abu Thalib itu. Lalu ia turun dari  kuda dan dihunus-nya pedang miliknya itu ke arah Ali bin Abu Thalib. Sementara itu Ali bin Abu Thalib menghadapinya dengan tameng di tangan kirinya. Tiba-tiba Amru bin Wud melancarkan serangannya dengan pedang. Dan Ali pun menangkis serangan itu dengan menggunakan tamengnya yang terbuat dari kulit binatang sehingga pedang Amru tertancap di tameng itu. Maka secepat kilat Ali menghantamkan dengan keras pedang Zulfikar pada tengkuknya hingga ia tersungkur ke tanah dan bersimbah darah, dan kaum kafir Quraisy lainnya yang melihat itu lari tunggang langgang. Itulah salah satu bukti kegagahan seorang Ali di usianya yang sangat belia sudah berani melawan dan membela islam dengan keberanian yang luar biasa.Tak inginkah anak kita segagah Ali, seorang pemuda yang berani menggantikan Rasulullah dan tidur di tempat tidur Rasulullah saat beliau akan dibunuh, dan Ali pun merelakan  hidup dan matinya untuk kepentingan islam saat itu. Banyak sekali cerita yang bisa dipaparkan dari seorang Ali. tak inginkah kita punya anak seperti beliau? Kesejatian selalu terpancar di tubuhnya sedari kecil hingga tutup usianya.

Lalu harus seperti apakah kita menghadapi tantangan itu semua? adakah orang-orang seperti Ali dimasa berikutnya?. Cukup generasi kita saja yang merasakan kebodohan seperti itu, tidak untuk anak-anak kita. Apa yang bisa kita lakukan jika hanya dengan pakaian saja anak kita sudah turun rasa percaya dirinya, tidak mau sedikit berbeda dengan orang lain dan punya jiwa yang “enggak PD-an”.  Dalam buku ini saya juga membaca kisah tatkala nabi mengingatkan :

Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya, kaum mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu.Bapak kalian semua Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah ialah yang paling takwa. Tak ada kelebihan orang Arab diatas orang asing kecuali karena takwa-nya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”

Ternyata inilah yang membuat sahabat-sahabat Rasulullah pada saat itu merasa percaya diri menggunakan pakaian kumal berlari melawan kaum kafir pada saat itu, mendatangi istana-istana untuk berdakwah. Inilah keyakinan sejati yang membuat para Shalafushalih tidak kelu dalam menyampaikan kata-kata kebesaran kepada setiap orang, inilah nasihat yang membuat semua orang merasa sederajat siapapun dia. Kecuali hanya ketakwaan sajalah yang membedakan kita dihadapan Allah SWT. Ukuran takwa pun tidak terukur dari besarnya jilbab, lebatnya jenggot atau sekedar bagusnya baju muslim yang dikenakannya, melainkan iman dan amal sholeh yang terpancar dan akidah yang lurus.

Mudah-mudahan generasi anak-anak kita terdidik dengan jiwa yang seperti itu. Kalau bukan kita yang mengajarkan siapa lagi? berharap kepada siapa? Semua masa depan mereka ada di tangan kita. Raihlah jiwanya sebelum jiwa mereka direnggut oleh ganasnya dunia merubah mereka.

Wallahualam,

taken from :

positif parenting, buah karya Mohammad Fauzil Adhiem

Advertisements

Read Full Post »