Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2011

Suatu sore yang cukup tenang ditemani rintik hujan yang nyaris tak pernah berhenti dua hari ini. Kumandang adzan Ashar terdengar nyaring di laptopku. Seperti biasa si kecil Syafin pun turut umminya pergi ke kamar mandi. Tak bisa dihindari, banyak orang yang bilang ini resiko jadi ummi sendiri. Hidup bertiga di luar negeri jauh dari orang tua dan sanak saudara, dengan kondisi suami pun sibuk memenuhi tugas di Lab sebagai calon phD. Tentunya hal ini membuat aku sedikit berjibaku bersamanya sepanjang hari. Sisi bijakku berkata, bersyukurlah anakku karena tidak banyak anak kecil yang bisa bersama ibu sepanjang hari. Sebetulnya sesekali untuk hajat tertentu tak kubiarkan dia masuk kamar mandi bersamaku, pun pastinya nangis sejadi-jadinya karena di tinggal sendiri di rumah. Hmm…tiada pilihan lain. Maafkan ummi ya nak….

Syafin pun girang bisa bersamaku dan menuruti semua langkahku dalam berwudhu. Wajahnya dengan ceria ia ciprati air, kemudian tangannya yang terlupa lengan bajunya aku naikkan ia masukkan kedalam ember berisi air. Ups..anak kecil ini. Begitulah ia setiap hari memproduksi baju kotor yang tak sebanding dengan jumlah baju kotor ummi dan abinya. Setiap waktu adalah pelajaran bagiku dan baginya, meski kadang lelah menghampiri ada kebahagiaan tertentu bagiku bersamanya. Seperti kisah Syafin di sore ini.

“Ummi mau pake mukena, sebentar ya sayang…”

Olala ternyata dia pun menarik-narik kain mukenaku sejadi-jadinya. Perilaku yang tidak biasanya. Biasanya saat diriku menunaikan shalat paling-paling dia bersegera berdiri sembari bersedekap meletakkan kedua tangannya di perut seraya berkata,”Aaaaabal…” (Allahuakbar). Ya tempo hari ada kebahagiaan tersendiri saat si kecil meneriakkan asma Allah tersebut dengan lantangnya. Hari ini perilakunya sedikit lain. Serta merta ia pun menangis sembari menarik keras mukena ummi, tak paham aku di buatnya. Sampai akhirnya naluri keibuanku pun muncul tiba-tiba. MasyaAllah anak umur satu tahun lebih 4 bulan 2 minggu bisa jadi tak faham jenis kelamin. Dia pikir setiap orang shalat selalu harus pakai mukena seperti ummi. Seringkali saya jumpai anak kecil itu dengan gaya sok sibuknya memakaikan mukena yang terserak di meja ke kepalanya. Tak hanya mukena, jilbab ummi pun jadi sasaran untuk di masukkan kepalanya yang saban hari makin berkembang.

Sedikit bingung di buat  Syafin sore itu. Kucoba dengan cukup meletakkan peci kecil di kepalanya toh dia sudah mengenakan celana panjang sepertinya tak mengapa. Ternyata tangisan rengekannya belum juga reda padahal sudah ku jelaskan berkali-kali dengan gaya sok mengajari anak besar dengan itu saja tak mengapa karena dirimu laki-laki sayang. Syafin kecil tetap saja merengek. Tiba-tiba mataku tertuju pada tumpukan handuk yang berjejer rapi di rak kecil tepat depan sajadah di gelar sore itu. Ide gokil ummi muncul tiba-tiba demi memenuhi hasrat si kecil tanpa harus menodai kesejatian dirinya sebagai seorang laki-laki. Meski dirasa sedikit maksa jadilah handuk kecil itu menyerupai sarung kecil yang menyelimuti kedua kaki mungil anakku. Alhamdulillah, wajah riang tampak di wajahnya. Sembari manut-manut mengikuti langkah ummi untuk shalat. . Berdiri tegak dengan kedua tangan di perut, kemudian ia pun ruku pun terkadang menyelonjorkan kedua tangannya seperti posisi push up, juga ia pun sujud dan duduk sembari menolehkan kedua kepala ke kanan dan ke kiri. Pun dengan gerakan yang tentu saja tidak konsisten dan jauh dari sempurna. Buatku Syafin istimewa satu tahun sudah mau ikut shalat, jujur padahal diriku tak pernah menyuruh dia apalagi memaksa dia untuk shalat. Bagiku anak kecil seusianya cukuplah bermain dan bermain, tapi betul adanya kalau mereka butuh teladan. Perilaku meniru itulah yang seringkali membuatku sedikit berhati-hati dalam bersikap di depannya. Hmm…pun sedikit mengganggu shalat ashar ku, ada kebahagiaan tersendiri saat itu. Begitulah Syafin yang selalu membuat aku belajar sedikit kreatif setiap harinya.

Sore yang indah itu mengiringi lamunan panjangku tentang anak kecil yang ada dalam asuhanku saat ini. Terimakasih Nak, bisa jadi aku tak biasa sebelum ini. Berkatmu yang banyak menoreh kisah baik dalam jiwaku, selalu saja membuatku bersyukur memilikimu saat ini. Terimakasih Allah telah memberi amanah dia untukku. Mempercayai dia kepadaku. Padahal rasanya diri ini jauh dari kata dewasa untuk mampu mendidiknya. Kondisi berkata lain, harus sanggup harus bisa dan harus berjalan. Jika Allah memberi kita umur panjang, ajari ummi lebih banyak lagi, untuk bisa menyelami arti sebuah kasih sayang, cinta dan pengorbanan.

Tiba-tiba iringan lamunan panjang itu mengingatkanku akan nasihat-nasihat suami yang selalu beliau berikan untukku. Beliau yang senantiasa selalu mengajakku bersungguh-sungguh mendidiknya. Beliau yang melarang aku untuk menitipkan pengasuhan juga mempercayaiku untuk mendidik dia dengan tangan dan karya sendiri. Beliau yang selalu percaya bahwa ummi lebih pintar lebih hebat dari pengasuhan siapapun. Beliau juga yang selalu membisikkan telinga Syafin dengan untaian-untaian Al-Quran setiap harinya, pun disaat beliau lelah dan Syafin tertidur lelap di rumah, beliau selalu memberikan bisikan-bisikan Al-Quran dalam kondisi apapun. Saat di perjalanan, saat kami sedang bersantai bahkan kami hendak istirahat. Suamiku percaya Al-Quran bekal segalanya untuk kehidupan, bisa jadi Syafin tak paham sekarang apa yang biasa kami lakukan untuknya. Tapi kelak akan ada jiwa yang kokoh dan kuat menanggung beban dunia yang semakin rapuh di masa depan. Jiwa yang terhias dengan kalimat Tauhid dan akidah yang kokoh. Jiwa yang tidak rapuh menerima tantangan dunia yang semakin mengganas. Semoga senantiasa selalu begitu adanya ya Nak…Semoga Allah memberikan kekuatan untuk kita semua agar selalu berada di jalan-Nya yang lurus.amiin !!

Bersamamu adalah kebahagiaan,

Bersamamu adalah pembelajaran,

Bersamamu adalah kreatifitas,  

Bersamamu adalah inspirasi,

Semoga selalu begitu adanya..

-with love, ummi-

-Catatan kecil untuk anakku, Gyeongsan 13 Mei 2011-

Read Full Post »