Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2011

Hanya sebuah keberanian yang membawa asaku untuk pergi di hari itu. Ini hanya dunia fana. Tiada yang perlu ditakuti.  Ku titip diri pada Ilahi yang Maha Melindungi. Semoga perjalanan ini membawa hikmah yang berarti.

Hujan baru saja reda di siang itu. Semilir angin sejuk menerpa wajahku yang baru saja keluar dari gedung apate kami. Aku biarkan anakku berlari menghambur jalan mengiringi keceriaan hari. Aku seret roda stroller di jalan membiarkan suaranya menderu menyapu jalanan. Sembari memperhatikan langkah kaki anakku berjalan di jalanan. Kami berhenti di penghentian taksi dekat rumah kami.

Sertamerta sebuah taksi meluncur di depan kami. Segera aku angkat anakku dan mendudukkannya di kursi belakang. Stroller yang terlipat pun ikut serta dalam rengkuhanku saat itu.

Gyeongsan Yok, juseyo AjoshiI.” Ujarku kepada bapak taksi yang paruh baya.

Sekilas tampak dari gaya menyetir yang sedikit koboy. Tampak sangat terburu-buru di tengah udara dingin menyelimuti. Tidak sampai sepuluh menit kami sudah sampai di Gyeongsan Stasiun saat itu.

Kelimpungan pertama aku temui. Ini  kali pertama aku mengunjungi stasiun yang baru saja dibangun kembali. Bahkan aku tak tahu di mana letak lift yang biasa dipake untuk membawa roda stroller. Sedikit nekat aku naikkan stroller anakku ke atas escalator yang sedang berfungsi. Pun sedikit aku harus berusaha menahan beban saat escalator meninggi. Sampailah aku di tempat penjualan tiket saat itu.

“Mugung hwa, Busan juseyo.” Ucapku sedikit gagap. Berharap penjual tiket tak bertanya kembali. Namun malang, penjual tiket berkata sesuatu yang aku tak paham. Sedikit kutangkap darinya bahwa ia berkata Seamaul. Salah satu kereta di Korea selain Mugunghwa dan KTX.

“Mugunghwa obsoyo?” Ujarku menegaskan kembali. Karena aku tak paham apa yang ia katakan. Kembali ia berkata yang aku tak paham. Kemudian ia memberikan tiket kereta yang aku maksud.

Masih punya waktu sekitar 20 menit untuk menunggu kereta yang akan tiba. Namun sadar diri dengan kondisi yang aku hadapi. Sepertinya aku harus menyiapkan sedari dini. Kucari line kereta ke arah Busan. Jangan sampai aku salah arah ujarku dalam hati.

Setiba di line kereta yang dimaksud. Syafin anakku teriak kegirangan minta turun dari stroller. Butuh waktu untuk menenangkannya dengan memberi sedikit minuman kepadanya. Tiba-tiba aku tegerak melihat tiket yang sedari tadi aku pegang.  Sembari memperhatikan pintu kereta mana yang akan kunaiki. Namun di sana tak satupun number seat yang aku jumpai. Malahan kutemukan ipseokk sebuah kata yang sama sekali aku belum memahami. Tergerak aku menelepon seorang kawan yang pasti bisa membantu aku.

“Assalamu`alaikum, Mutia.” Ujarku diujung telepon. Sembari berharap Mutia mampu memberikan penjelasan.

“Alaikumsalam, mba Aida.” Ucapnya menenangkanku yang sedang kelimpungan.

“Mutia aku mau tanya, ipseok apa ya? Ini aku lagi berdua sama Syafin mau ke Busan. Tapi gak nemu number seat-nya.”  Ucapku tergopoh-gopoh menjelaskan.

“Aah, mba Aida beli tiket berdiri, ipseok itu artinya berdiri mba.Mba mau kemana?” Ujar kawanku, keheranan.

“Aah, iya mungkin Si penjual tiket kepikiran karena aku bawa stroller dia memberiku tiket berdiri. Iya nih, aku mau ke Busan. Ada undangan nikahan kawan. Kebetulan abinya Syafin sedang di Jepang. Itung-itung sembari liburan.” Ucapku menjelaskan. Sedikit paham tadi Si penjual tiket menawarkan kereta Seamaul yang juga akan datang.

“Mba Aida ke kereta kantin saja. Ada di Gerbong 4. Di sana ada sedikit tempat duduk dan agak lapang untuk simpan stroller.” Ujar Mutia menjelaskan. Tak salah memang aku menelepon kawan.

“Iya baik tak apa Mutia. Toh Cuma satu jam 20 menit saja. Sepertinya lebih praktis kalau bawa stroller berdiri saja.” Ucapku menenangkan diri. Kututup telepon dan bergegas mencari pintu 4 yang dimaksud.

Seorang harabochi memperhatikanku saat itu. Lalu kemudian ia menegurku dengan bahasa yang tentu saja aku tak paham. Namun sertamerta dia membantuku menyimpan stroller anakku di depan dinding yang sedikit aman dari terpaan angin. Hujan yang baru saja reda tadi pagi, membuat udara sangat dingin saat itu. Aku jadi paham,  harabochi itu meminta aku menyimpan Syafin di tempat yang aman dari terpaan angin.

Lagi-lagi seorang ajumma memperhatikanku. Saat tiba-tiba Syafin kegirangan melhat kereta yang akan melintas di depan kami. Serta merta ajumma itu menarik Syafin dari lintasan kereta. Dia pun mendekap anakku dan menutup telinga anakku. Lagi-lagi aku diajarinya. Untuk menjaga Syafin dari bising suara lintasan kereta. Aku pun terharu dibuatnya.

Aku sadar akan keberadaanku di sana. Aku bukan siapa-siapa. Hanya orang asing yang kelimpungan dengan anak di pangkuan. Namun jujur, aku sendiri tidak merasa keberatan akan keberadaan. Perhatian, keramahan dan pertolongan orang-orang di sekitar membuat aku merasa aman.

Dalam dekapan lamunan. Aku terbangun dari kesadaran. Tangan Allah ada di mana-mana. Mengiringi langkahku. Melindungi setiap tatihku.  Meskipun kerap kali kutemui pertolongan. Dari orang-orang yang sama sekali tak mengenal Tuhan.

 

Aku sibuk mencari seribu ide untuk bisa menaikkan stroller Syafin ke atas kereta. Tak mungkin jika aku naikkan semua itu sendiri. Dengan beban ransel yang lumayan di belakang. Akhirnya aku putuskan untuk membawanya dua kali jalan. Sesaat waktu kereta datang, aku buka pengaman Syafin. Bersiap untuk menaiki kereta yang telah datang. Aku gendong anakku terlebih dahulu lalu kemudian aku kembali untuk mengambil stroller.

Sebuah kejutan kutemui saat itu. Alih-alih seorang anak muda membawakan stroller  dan mengikutiku dari belakang. Girang bukan kepalang. Sembari ia pun membantuku menyimpan stroller di tempat yang lebih lapang. Akupun berterimakasih kepada anak muda itu.

Hiruk pikuk orang-orang yang lalu lalang. Membuatku kesulitan memindahkan Syafin ke kereta kantin yang aku maksud. Namun sepertinya di tempat aku berdiri saat itu. Suasana lumayan nyaman untuk Syafin. Meskipun mesti melewati beberapa penghentian dengan suara pintu yang menggelora. Namun aku tak mau terjebak di kesulitan yang mendalam. Aku pun bersabar dengan keadaan.

Tergerak aku tersenyum pada seorang wanita cantik di depanku. Sebelumnya aku temui ia di stasiun tempat aku naik di kereta ini. Saat ia sedang bercakap di telepon dengan sedikit bahasa inggris yang ia kemukakan.

“Can you speak English?”. Ucapku sedikit ragu. Sembari menatapnya dengan senyuman.

Yes, but a little.” Ucapnya tersipu malu.

Where are you going?” Ucapku mengawali keakraban dengannya.

Guppo, meet my boy friend” Ujarnya tersenyum kepadaku.

aah, really” Mencoba sedikit sumringah dibuatnya. Cukup wajar dari penampilannya yang menyaingi artis korea kebanyakan.

Are you student in college?” Aku pun bertanya penasaran. Barangkali saja satu kampus dengan suamiku. Yah tak banyak memang kampus di daerahku.

No, I’am still in high school.” Ucapnya menjelaskan.

“Woow, you look so adult.” Ujarku menjawab kepenasaran. Alih-alih suasana menjadi akrab begitu saja. Perjalanan menjadi begitu menyenangkan. Terlebih dirinya selalu membantuku dalam setiap hal. Hingga anakku tertidur dalam buaian perjalanan

Tepat di stasiun kawan baruku berhenti. Ia pun pamit kepadaku dengan kekhawatiran yang mendalam. Sampai ia pun meyakinkan aku tak mengapa sendiri di perjalanan. Mencoba menenangkan perjalananku tinggal terlewat satu stasiun lagi. Ku harap tak ada aral melintang.

Perjalanan tiba-tiba akan terhenti di stasiun terakhir tempat tujuan. Melihat anakku yang tertidur pulas di stroller. Aku pun mencoba membangunkan. Tiba-tiba seorang ajoshi menyapaku dan melarangku membangunkan. Sertamerta ia pun mengangkat stroller  Syafin dan membawa Syafin turun dari pintu kereta.

Lagi-lagi Tuhan, kau bawa malaikat perjalanan. Terimakasih atas segala bala bantuan. Membawa diriku sampai di tujuan. Semua yang terjadi begitu jauh dari bayangan. Aku pikir ini negeri asing. Negeri yang mengajarkan setiap jiwanya untuk memiliki kebebasan dalam segala hal. Namun kenyataan aku terbawa ke dalam kenyataan. Bahwa di sini ada kepedulian.

            Busan, kota besar yang terletak di ujung selatan korea. Di kelilingi oleh pantai yang cantik dan menawan. Selalu saja tersimpan kerinduan untuk mengunjungi kota ini. Selain sekedar untuk menghangatkan diri. Dari musim dingin yang menyelimuti. Boleh dibilang suhu di Busan paling tropis dibanding dengan kota-kota yang lainnya.

Seorang teman menungguku di Busan Stasiun. Belum lama bertemu sudah akrab saja membawa pergi anakku ke sana kemari. Membuatku bisa sedikit rehat menikmati perjalanan saat itu. Banyak yang ingin kutemui di sini. Rindu masjid, pantai, kawan-kawan Indonesia di sini. Aah, andai waktu bisa membawaku pergi ke semua itu.

Namun tiba-tiba pikiranku melayang pada perjalanan sore itu. Lekat dalam bayangan. Wajah orang-orang yang menolongku dengan penuh perhatian. Tanpa aku minta bahkan aku sama sekali tidak mengenal mereka. Begitu banyak hal yang terjadi secara tak terduga.

Aku teringat sebuah kisah semasa di tanah air sendiri. Setiap perjalanan sendiri membawa ketakutan tersendiri. Tak bisa dibayangkan dengan membawa anak dalam pangkuan. Sendirian saja terkadang aku merasa tidak aman dibuatnya. Copet, jambret, atau penipuan yang kerap kali terjadi di sarana transportasi umum. Sedikit membuatku jengah saat mengadakan perjalanan seorang diri.

Entah kenapa, di negeri yang terkenal ramah dan marak akan budaya dan adat istiadat yang di junjung tinggi. Bahkan norma kesopanan yang seringkali dianggap sebagai kepatutan yang harus dipunyai. Namun ironisnya tidak mengajari warganya sebagai bentuk kesyukuran tersendiri. Setidaknya kita punya agama. Seharusnya ada yang kita takuti.

Tidak lama akhirnya kami sampai di tempat peristirahatan. Bukan rumah, bahkan motel. Tapi masjid yang kurindui sebagai tempat beristirahat di malam ini. Cukup di masjid yang membawaku bisa melepas lelah dari kepenatan setiap hari. Cukup di sini tempat kami berkumpul dan bercengkrama layaknya saudara jauh yang sekian lama tidak bertemu. Cukup di sini yang mengobati aku akan adzan subuh yang setiap hari tak pernah bisa aku perdengarkan.

Tiba saatnya aku harus pulang. Namun sekarang, aku pulang tanpa menyisakan kekhwatiran yang mendalam. Selain karena aku yakin ada tangan-tangan Allah menemani. Ada bulir-bulir harapan terhadap masyarakat sekitar. Tidak membiarkan kesulitan dalam kesendirian.

Dua hari di Busan menyisakan banyak kebahagiaan. Namun di penghujung waktu aku pun harus berpamitan. Untuk kembali ke peraduan. Tentu saja aku pulang dengan penuh harapan. Kelak akan bertemu kembali di lain kesempatan. Merajut kerinduan yang sekian lama terpendam.

Sampai kembali di sudut kereta Mugunghwa. Kali ini pun aku kembali memberi tiket kereta berdiri. Selain kebetulan tiket duduk sudah habis saat itu. Aku pikir berdiri lebih memudahkan untukku saat itu. Aku diantar oleh seorang kawan hingga aku berada di kereta kantin yang sebenarnya.

Hiruk pikuk lalu lalang orang cukup membuatku kesulitan mencari tempat yang nyaman. Alih-alih seorang ajumma paruh baya memanggilku dari kejauhan. Sertamerta ia pun membantuku ke tempat yang ia maksud. Sedikit banyak ia memberi perhatian. Memberikan arahan di sini tempat yang aman.

Aku duduk bersamanya dalam remangnya lampu kantin saat itu. Sesekali ajumma itu menggoda anakku yang menurutnya lucu bukan kepalang. Namun perlahan aku sadar. Di sini bukan tempat yang nyaman.

Sebuah teriakan tidak sadar aku dengar dari orang yang tak jauh dari aku. Seorang ajoshi yang mabuk berat terduduk tepat di hadapanku. Jelas sudah kepanikan akan diri sertamerta menghantui. Mencoba menenangkan diri dengan minum seteguk minuman yang tadi aku beli.

Pemanas ruangan yang menyala di kereta kantin itu membuat anakku sedikit gusar. Perlahan aku buka jaket tebal yang menyelimuti. Sembari terus memperhatikan ajoshi yang mabuk berat di hadapan kami. Khawatir ada satu dan lain hal yang akan terjadi.

Aku angkat Syafin di atas meja kantin kereta. Sesekali aku bernyanyi untuknya. Sembari menenangkan batinku yang sedikit gusar atas perlakuan ajoshi. Sesekali aku perlihatkan Syafin kerlap kerlip lampu yang bersinar di luar sana. Namun hatiku tak bisa dipungkiri. Duhai Allah jujur aku mulai tidak nyaman berada di sini.

Rasanya aku telah salah menilai suatu negeri. Kebebasan yang tadinya sempat aku junjung tinggi. Kenyataan tidak melulu menjadi bukti. Akan rasa empati yang kerap kali aku dapatkan dari orang-orang di sini.

Bagaimanapun juga jauh dari lubuk hati. Aku mencintai suatu negeri. Saat orang mabuk tidak lagi di hormati. Bahkan tak dibiarkan berkeliaran di tempat-tempat umum seperti ini. Sedang di sini,  di mana-mana aku temui. Minuman beralkohol yang seakan-akan sudah menjadi kebanggaan warga sini. Aku terasing di sini. Sedih dengan kenyataan yang ku hadapi.

Syafin kecil sedikit gusar dengan kegiatannya saat itu. Sama hal-nya dengan kegusaran yang sedang terbenam dalam hatiku. Aku ingin pergi dari sini. Alih-alih Syafin menangis begitu saja. Seorang harabochi pun datang menenangkan Syafin. Mencoba membantu memangku Syafin yang berontak pada diriku.

Jujur aku merasa terbantu oleh harabochi itu. Namun aku tidak mau berdiam diri. Aku tak ingin berada di sini. Perjalanan menyisakan dua stasiun lagi. Aku pun bersiap diri keluar dari kereta kantin. Beberapa memberikan penjelasan kepadaku bahwa Gyeongsan masih dua stasiun lagi. Aku berdalih dengan alasan anakku kepanasan. Hatiku gusar melihat perlakuan orang mabuk itu.

Terhempas aku di sudut kereta di persimpangan menuju pintu keluar. Meskipun sedikit bising, aku nyaman berada di sini. Tiada orang ku temui juga udara dingin menyelimuti. Syafin pun nyaman berada di sini. Tak lama kemudian ia pun tertidur terbalut kesejukan di malam sepi.

Aku pun bersiap turun di Gyeongsan Stasiun. Seorang ajoshi  sertamerta memahami. Membantuku menurunkan stroller saat kereta terhenti. Tak lupa aku ucapkan terimakasih pada dirinya yang begitu pandai memahami.

Akhirnya semua ini berhenti begitu saja. Dengan penuh kesyukuran. Berkali-kali aku ucap Alhamdulllah atas keselamatan akan diri.

Perjalanan ini membawa diriku hikmah tersendiri. Perjalanan ini membuatku jadi memahami. Ada saat aku bersyukur, ada saat aku terpukul. Layaknya itulah kehidupan yang harus aku temui.

 

Gyeongsan, 14 Desember 2011

Advertisements

Read Full Post »