Feeds:
Posts
Comments

Sejenak di Kereta Mugunghwa

Hanya sebuah keberanian yang membawa asaku untuk pergi di hari itu. Ini hanya dunia fana. Tiada yang perlu ditakuti.  Ku titip diri pada Ilahi yang Maha Melindungi. Semoga perjalanan ini membawa hikmah yang berarti.

Hujan baru saja reda di siang itu. Semilir angin sejuk menerpa wajahku yang baru saja keluar dari gedung apate kami. Aku biarkan anakku berlari menghambur jalan mengiringi keceriaan hari. Aku seret roda stroller di jalan membiarkan suaranya menderu menyapu jalanan. Sembari memperhatikan langkah kaki anakku berjalan di jalanan. Kami berhenti di penghentian taksi dekat rumah kami.

Sertamerta sebuah taksi meluncur di depan kami. Segera aku angkat anakku dan mendudukkannya di kursi belakang. Stroller yang terlipat pun ikut serta dalam rengkuhanku saat itu.

Gyeongsan Yok, juseyo AjoshiI.” Ujarku kepada bapak taksi yang paruh baya.

Sekilas tampak dari gaya menyetir yang sedikit koboy. Tampak sangat terburu-buru di tengah udara dingin menyelimuti. Tidak sampai sepuluh menit kami sudah sampai di Gyeongsan Stasiun saat itu.

Kelimpungan pertama aku temui. Ini  kali pertama aku mengunjungi stasiun yang baru saja dibangun kembali. Bahkan aku tak tahu di mana letak lift yang biasa dipake untuk membawa roda stroller. Sedikit nekat aku naikkan stroller anakku ke atas escalator yang sedang berfungsi. Pun sedikit aku harus berusaha menahan beban saat escalator meninggi. Sampailah aku di tempat penjualan tiket saat itu.

“Mugung hwa, Busan juseyo.” Ucapku sedikit gagap. Berharap penjual tiket tak bertanya kembali. Namun malang, penjual tiket berkata sesuatu yang aku tak paham. Sedikit kutangkap darinya bahwa ia berkata Seamaul. Salah satu kereta di Korea selain Mugunghwa dan KTX.

“Mugunghwa obsoyo?” Ujarku menegaskan kembali. Karena aku tak paham apa yang ia katakan. Kembali ia berkata yang aku tak paham. Kemudian ia memberikan tiket kereta yang aku maksud.

Masih punya waktu sekitar 20 menit untuk menunggu kereta yang akan tiba. Namun sadar diri dengan kondisi yang aku hadapi. Sepertinya aku harus menyiapkan sedari dini. Kucari line kereta ke arah Busan. Jangan sampai aku salah arah ujarku dalam hati.

Setiba di line kereta yang dimaksud. Syafin anakku teriak kegirangan minta turun dari stroller. Butuh waktu untuk menenangkannya dengan memberi sedikit minuman kepadanya. Tiba-tiba aku tegerak melihat tiket yang sedari tadi aku pegang.  Sembari memperhatikan pintu kereta mana yang akan kunaiki. Namun di sana tak satupun number seat yang aku jumpai. Malahan kutemukan ipseokk sebuah kata yang sama sekali aku belum memahami. Tergerak aku menelepon seorang kawan yang pasti bisa membantu aku.

“Assalamu`alaikum, Mutia.” Ujarku diujung telepon. Sembari berharap Mutia mampu memberikan penjelasan.

“Alaikumsalam, mba Aida.” Ucapnya menenangkanku yang sedang kelimpungan.

“Mutia aku mau tanya, ipseok apa ya? Ini aku lagi berdua sama Syafin mau ke Busan. Tapi gak nemu number seat-nya.”  Ucapku tergopoh-gopoh menjelaskan.

“Aah, mba Aida beli tiket berdiri, ipseok itu artinya berdiri mba.Mba mau kemana?” Ujar kawanku, keheranan.

“Aah, iya mungkin Si penjual tiket kepikiran karena aku bawa stroller dia memberiku tiket berdiri. Iya nih, aku mau ke Busan. Ada undangan nikahan kawan. Kebetulan abinya Syafin sedang di Jepang. Itung-itung sembari liburan.” Ucapku menjelaskan. Sedikit paham tadi Si penjual tiket menawarkan kereta Seamaul yang juga akan datang.

“Mba Aida ke kereta kantin saja. Ada di Gerbong 4. Di sana ada sedikit tempat duduk dan agak lapang untuk simpan stroller.” Ujar Mutia menjelaskan. Tak salah memang aku menelepon kawan.

“Iya baik tak apa Mutia. Toh Cuma satu jam 20 menit saja. Sepertinya lebih praktis kalau bawa stroller berdiri saja.” Ucapku menenangkan diri. Kututup telepon dan bergegas mencari pintu 4 yang dimaksud.

Seorang harabochi memperhatikanku saat itu. Lalu kemudian ia menegurku dengan bahasa yang tentu saja aku tak paham. Namun sertamerta dia membantuku menyimpan stroller anakku di depan dinding yang sedikit aman dari terpaan angin. Hujan yang baru saja reda tadi pagi, membuat udara sangat dingin saat itu. Aku jadi paham,  harabochi itu meminta aku menyimpan Syafin di tempat yang aman dari terpaan angin.

Lagi-lagi seorang ajumma memperhatikanku. Saat tiba-tiba Syafin kegirangan melhat kereta yang akan melintas di depan kami. Serta merta ajumma itu menarik Syafin dari lintasan kereta. Dia pun mendekap anakku dan menutup telinga anakku. Lagi-lagi aku diajarinya. Untuk menjaga Syafin dari bising suara lintasan kereta. Aku pun terharu dibuatnya.

Aku sadar akan keberadaanku di sana. Aku bukan siapa-siapa. Hanya orang asing yang kelimpungan dengan anak di pangkuan. Namun jujur, aku sendiri tidak merasa keberatan akan keberadaan. Perhatian, keramahan dan pertolongan orang-orang di sekitar membuat aku merasa aman.

Dalam dekapan lamunan. Aku terbangun dari kesadaran. Tangan Allah ada di mana-mana. Mengiringi langkahku. Melindungi setiap tatihku.  Meskipun kerap kali kutemui pertolongan. Dari orang-orang yang sama sekali tak mengenal Tuhan.

 

Aku sibuk mencari seribu ide untuk bisa menaikkan stroller Syafin ke atas kereta. Tak mungkin jika aku naikkan semua itu sendiri. Dengan beban ransel yang lumayan di belakang. Akhirnya aku putuskan untuk membawanya dua kali jalan. Sesaat waktu kereta datang, aku buka pengaman Syafin. Bersiap untuk menaiki kereta yang telah datang. Aku gendong anakku terlebih dahulu lalu kemudian aku kembali untuk mengambil stroller.

Sebuah kejutan kutemui saat itu. Alih-alih seorang anak muda membawakan stroller  dan mengikutiku dari belakang. Girang bukan kepalang. Sembari ia pun membantuku menyimpan stroller di tempat yang lebih lapang. Akupun berterimakasih kepada anak muda itu.

Hiruk pikuk orang-orang yang lalu lalang. Membuatku kesulitan memindahkan Syafin ke kereta kantin yang aku maksud. Namun sepertinya di tempat aku berdiri saat itu. Suasana lumayan nyaman untuk Syafin. Meskipun mesti melewati beberapa penghentian dengan suara pintu yang menggelora. Namun aku tak mau terjebak di kesulitan yang mendalam. Aku pun bersabar dengan keadaan.

Tergerak aku tersenyum pada seorang wanita cantik di depanku. Sebelumnya aku temui ia di stasiun tempat aku naik di kereta ini. Saat ia sedang bercakap di telepon dengan sedikit bahasa inggris yang ia kemukakan.

“Can you speak English?”. Ucapku sedikit ragu. Sembari menatapnya dengan senyuman.

Yes, but a little.” Ucapnya tersipu malu.

Where are you going?” Ucapku mengawali keakraban dengannya.

Guppo, meet my boy friend” Ujarnya tersenyum kepadaku.

aah, really” Mencoba sedikit sumringah dibuatnya. Cukup wajar dari penampilannya yang menyaingi artis korea kebanyakan.

Are you student in college?” Aku pun bertanya penasaran. Barangkali saja satu kampus dengan suamiku. Yah tak banyak memang kampus di daerahku.

No, I’am still in high school.” Ucapnya menjelaskan.

“Woow, you look so adult.” Ujarku menjawab kepenasaran. Alih-alih suasana menjadi akrab begitu saja. Perjalanan menjadi begitu menyenangkan. Terlebih dirinya selalu membantuku dalam setiap hal. Hingga anakku tertidur dalam buaian perjalanan

Tepat di stasiun kawan baruku berhenti. Ia pun pamit kepadaku dengan kekhawatiran yang mendalam. Sampai ia pun meyakinkan aku tak mengapa sendiri di perjalanan. Mencoba menenangkan perjalananku tinggal terlewat satu stasiun lagi. Ku harap tak ada aral melintang.

Perjalanan tiba-tiba akan terhenti di stasiun terakhir tempat tujuan. Melihat anakku yang tertidur pulas di stroller. Aku pun mencoba membangunkan. Tiba-tiba seorang ajoshi menyapaku dan melarangku membangunkan. Sertamerta ia pun mengangkat stroller  Syafin dan membawa Syafin turun dari pintu kereta.

Lagi-lagi Tuhan, kau bawa malaikat perjalanan. Terimakasih atas segala bala bantuan. Membawa diriku sampai di tujuan. Semua yang terjadi begitu jauh dari bayangan. Aku pikir ini negeri asing. Negeri yang mengajarkan setiap jiwanya untuk memiliki kebebasan dalam segala hal. Namun kenyataan aku terbawa ke dalam kenyataan. Bahwa di sini ada kepedulian.

            Busan, kota besar yang terletak di ujung selatan korea. Di kelilingi oleh pantai yang cantik dan menawan. Selalu saja tersimpan kerinduan untuk mengunjungi kota ini. Selain sekedar untuk menghangatkan diri. Dari musim dingin yang menyelimuti. Boleh dibilang suhu di Busan paling tropis dibanding dengan kota-kota yang lainnya.

Seorang teman menungguku di Busan Stasiun. Belum lama bertemu sudah akrab saja membawa pergi anakku ke sana kemari. Membuatku bisa sedikit rehat menikmati perjalanan saat itu. Banyak yang ingin kutemui di sini. Rindu masjid, pantai, kawan-kawan Indonesia di sini. Aah, andai waktu bisa membawaku pergi ke semua itu.

Namun tiba-tiba pikiranku melayang pada perjalanan sore itu. Lekat dalam bayangan. Wajah orang-orang yang menolongku dengan penuh perhatian. Tanpa aku minta bahkan aku sama sekali tidak mengenal mereka. Begitu banyak hal yang terjadi secara tak terduga.

Aku teringat sebuah kisah semasa di tanah air sendiri. Setiap perjalanan sendiri membawa ketakutan tersendiri. Tak bisa dibayangkan dengan membawa anak dalam pangkuan. Sendirian saja terkadang aku merasa tidak aman dibuatnya. Copet, jambret, atau penipuan yang kerap kali terjadi di sarana transportasi umum. Sedikit membuatku jengah saat mengadakan perjalanan seorang diri.

Entah kenapa, di negeri yang terkenal ramah dan marak akan budaya dan adat istiadat yang di junjung tinggi. Bahkan norma kesopanan yang seringkali dianggap sebagai kepatutan yang harus dipunyai. Namun ironisnya tidak mengajari warganya sebagai bentuk kesyukuran tersendiri. Setidaknya kita punya agama. Seharusnya ada yang kita takuti.

Tidak lama akhirnya kami sampai di tempat peristirahatan. Bukan rumah, bahkan motel. Tapi masjid yang kurindui sebagai tempat beristirahat di malam ini. Cukup di masjid yang membawaku bisa melepas lelah dari kepenatan setiap hari. Cukup di sini tempat kami berkumpul dan bercengkrama layaknya saudara jauh yang sekian lama tidak bertemu. Cukup di sini yang mengobati aku akan adzan subuh yang setiap hari tak pernah bisa aku perdengarkan.

Tiba saatnya aku harus pulang. Namun sekarang, aku pulang tanpa menyisakan kekhwatiran yang mendalam. Selain karena aku yakin ada tangan-tangan Allah menemani. Ada bulir-bulir harapan terhadap masyarakat sekitar. Tidak membiarkan kesulitan dalam kesendirian.

Dua hari di Busan menyisakan banyak kebahagiaan. Namun di penghujung waktu aku pun harus berpamitan. Untuk kembali ke peraduan. Tentu saja aku pulang dengan penuh harapan. Kelak akan bertemu kembali di lain kesempatan. Merajut kerinduan yang sekian lama terpendam.

Sampai kembali di sudut kereta Mugunghwa. Kali ini pun aku kembali memberi tiket kereta berdiri. Selain kebetulan tiket duduk sudah habis saat itu. Aku pikir berdiri lebih memudahkan untukku saat itu. Aku diantar oleh seorang kawan hingga aku berada di kereta kantin yang sebenarnya.

Hiruk pikuk lalu lalang orang cukup membuatku kesulitan mencari tempat yang nyaman. Alih-alih seorang ajumma paruh baya memanggilku dari kejauhan. Sertamerta ia pun membantuku ke tempat yang ia maksud. Sedikit banyak ia memberi perhatian. Memberikan arahan di sini tempat yang aman.

Aku duduk bersamanya dalam remangnya lampu kantin saat itu. Sesekali ajumma itu menggoda anakku yang menurutnya lucu bukan kepalang. Namun perlahan aku sadar. Di sini bukan tempat yang nyaman.

Sebuah teriakan tidak sadar aku dengar dari orang yang tak jauh dari aku. Seorang ajoshi yang mabuk berat terduduk tepat di hadapanku. Jelas sudah kepanikan akan diri sertamerta menghantui. Mencoba menenangkan diri dengan minum seteguk minuman yang tadi aku beli.

Pemanas ruangan yang menyala di kereta kantin itu membuat anakku sedikit gusar. Perlahan aku buka jaket tebal yang menyelimuti. Sembari terus memperhatikan ajoshi yang mabuk berat di hadapan kami. Khawatir ada satu dan lain hal yang akan terjadi.

Aku angkat Syafin di atas meja kantin kereta. Sesekali aku bernyanyi untuknya. Sembari menenangkan batinku yang sedikit gusar atas perlakuan ajoshi. Sesekali aku perlihatkan Syafin kerlap kerlip lampu yang bersinar di luar sana. Namun hatiku tak bisa dipungkiri. Duhai Allah jujur aku mulai tidak nyaman berada di sini.

Rasanya aku telah salah menilai suatu negeri. Kebebasan yang tadinya sempat aku junjung tinggi. Kenyataan tidak melulu menjadi bukti. Akan rasa empati yang kerap kali aku dapatkan dari orang-orang di sini.

Bagaimanapun juga jauh dari lubuk hati. Aku mencintai suatu negeri. Saat orang mabuk tidak lagi di hormati. Bahkan tak dibiarkan berkeliaran di tempat-tempat umum seperti ini. Sedang di sini,  di mana-mana aku temui. Minuman beralkohol yang seakan-akan sudah menjadi kebanggaan warga sini. Aku terasing di sini. Sedih dengan kenyataan yang ku hadapi.

Syafin kecil sedikit gusar dengan kegiatannya saat itu. Sama hal-nya dengan kegusaran yang sedang terbenam dalam hatiku. Aku ingin pergi dari sini. Alih-alih Syafin menangis begitu saja. Seorang harabochi pun datang menenangkan Syafin. Mencoba membantu memangku Syafin yang berontak pada diriku.

Jujur aku merasa terbantu oleh harabochi itu. Namun aku tidak mau berdiam diri. Aku tak ingin berada di sini. Perjalanan menyisakan dua stasiun lagi. Aku pun bersiap diri keluar dari kereta kantin. Beberapa memberikan penjelasan kepadaku bahwa Gyeongsan masih dua stasiun lagi. Aku berdalih dengan alasan anakku kepanasan. Hatiku gusar melihat perlakuan orang mabuk itu.

Terhempas aku di sudut kereta di persimpangan menuju pintu keluar. Meskipun sedikit bising, aku nyaman berada di sini. Tiada orang ku temui juga udara dingin menyelimuti. Syafin pun nyaman berada di sini. Tak lama kemudian ia pun tertidur terbalut kesejukan di malam sepi.

Aku pun bersiap turun di Gyeongsan Stasiun. Seorang ajoshi  sertamerta memahami. Membantuku menurunkan stroller saat kereta terhenti. Tak lupa aku ucapkan terimakasih pada dirinya yang begitu pandai memahami.

Akhirnya semua ini berhenti begitu saja. Dengan penuh kesyukuran. Berkali-kali aku ucap Alhamdulllah atas keselamatan akan diri.

Perjalanan ini membawa diriku hikmah tersendiri. Perjalanan ini membuatku jadi memahami. Ada saat aku bersyukur, ada saat aku terpukul. Layaknya itulah kehidupan yang harus aku temui.

 

Gyeongsan, 14 Desember 2011

Tiga Tahun Bersamamu

Alhamdulillah tanggal 26 Oktober kemarin adalah perjalanan pernikahan kami di tahun ketiga. Rasanya sudah banyak Allah memberikan kami pelajaran dalam kehidupan bersama. Merajut benang kasih dengan seseorang yang telah digariskan untuk bersama. Aku memilihmu dengan cara yang tidak biasa. Adalah wajar jika satu dan lain hal aku banyak belajar sesuatu yang memang tidak biasa.

Abi, jika memang aku tidak bertemu denganmu. Mungkin aku tak pernah tahu bagaimana arti menjadi seorang ibu dan istri. Dulu sekali aku bercita-cita tinggi sekali. Menjadi gemilang di mata dunia, mendahulukan sebuah ambisi dan hasrat pribadi. Kenyataan abi lebih tau bagaimana mendidik aku menjadi gemilang di mata Ilahi. Hanya dengan menjadi ibu dan menjadi istri saja aku merasa lebih sempurna. Sempurna memenuhi tugas-tugas aku yang utama. Juga abi  mengajariku bagaimana artinya mencintai. Mencintai dengan sepenuh hati. Mencintai yang tak menodai cinta-Nya untuk ilahi. Sebagaimana dahulu kita berjanji. Melewati aral melintang kehidupan di dunia untuk kembali kemudian hari.

Abi, sungguh dirimu telah mendidiku menjadi wanita yang sempurna. Jika saja dulu aku bersikukuh untuk mengejar kegemilangan dunia. Entah apa yang terjadi. Abi yang baik, tak pernah melarangku untuk mengerjakan apapun sesuka aku. Dulu hidupku betul-betul pilihan. Namun seiring berjalannya waktu, kau berikan aku kesadaran. Disinilah tempatku berkiprah dan berjalan menuju keistimewaan yg hakiki. Saat berkali-kali aku gagal menempuh semua, aku diajarkan begitu rapuh aku di luar sana. Lalu abi memberikan aku kesempatan lain untuk serius menjadi ibu. Kalau saja aku tidak mencoba menempuh jalan ini, mungkin aku tak akan merasa sempurna seperti ini. Akan banyak penyesalan yang mungkin ada. Kekurangan aku dalam menjalankan amanah Allah atau sekedar memenuhi tuntutan sebagai istri. Hanya karena termakan ambisi pribadi. Kenyataan sekarang keadaan menjadi berkebalikan. Justru saat aku berbahagia dengan menjadi ibu dan istri, aku pribadi merasa menjadi seseorang yang selalu hidup dan berkarya. Merasa menjadi manusia yang paling berbahagia diliputi senyum dan canda keluarga sepanjang hari. Menyibukkan diri untuk membahagiakan dua jagoan di rumah ini. Pun tak jarang aku memperoleh waktu untuk sendiri. Belajar banyak hal, mengisi pikiran dengan berbagai hal yang aku mau tahu. Dan abi pula yang mengajarkan aku sebuah ranah keikhlasan. Bahwa academic record itu tidaklah menjadi penting. Jika kita kelak  tak tahu bagaimana mempertanggung jawabkannya untuk Ilahi. Sedang sebagai seorang wanita kita punya kewajiban yang lebih utama. Andai saja kita bisa tetap konsisten mengutamakannya ya tiada masalah, sebagaimana dicontohkan oleh beberapa sahabiyah di era gemilang Rasulullah SAW. Namun adakah aku bisa meneladaninya? Lalu kau datang menghiburku. Engkau berkata bahwa academic record  yang sebenarnya hanyalah ada di pencatatan dua malaikat yang selalu menemani kita. Seberapa besar kita beramal, seberapa besar kita mampu menjadi hamba-Nya yang lebih baik lagi. Hingga aku berfikir kembali kesempatan yang mana yang lebih besar aku raih mencapai surga-Nya.

Bersamamu juga mengajarkan aku bagaimana seharusnya kita mencintai. Mencintai tanpa menodai kecintaan untuk Ilahi. Aku sadar, diri ini pribadi yang biasa. Terkadang terbesit dari hati yang terdalam kebanggaan untuk dicintai. Kebanggaan untuk dimiliki. Kebanggaan untuk disayangi dengan sepenuh hati. Namun kembali abi mengingatkan aku. Sejatinya perasaan itu tak perlulah menjadi yang utama. Diantara banyak rutinitas lain yang seharusnya kita kerjakan sebagai hamba-Nya. Jangan sampai melalaikan kita untuk mengerjakan tugas-tugas yang utama. Abi pula yang mengajarkan aku untuk tidak bergantung. Pun aku sebagai seorang wanita. Sudah mencari menjadi fitrah untuk mencari perlindungan kepada orang yang mencintainya. Namun pada akhirnya aku selalu sadar. Hanya Allah saja tempat aku bergantung. Ada saat abi ada untuk aku dan anakku. Ada saat aku harus berjuang sendiri dan bergantung pada Ilahi. Dengan itu, terkadang aku merasa lebih mandiri. Pun seringkali perasaan berjuang sendiri terbenam dibenakku yang seringkali galau termakan buaian kesadaran. Namun perlahan aku sadar, begitulah sejatinya kehidupan. Bukan melulu untuk sebuah keindahan dalam kebersamaan. Karena kita harus berjuang. Hingga di akhirat kelak kita bisa merasakan manisnya perjuangan itu.

Pada akhirnya, aku pun sadar. Cerita kita masih panjang. Ada banyak cerita lain di balik kebersamaan kita. Tiga tahun saja memberi banyak arti untuk kami. Kami menyadari, kami bukan pribadi yang istimewa. Namun berkat Allah saja yang mengajari kami arti bersama untuk menjadi lebih istimewa. Begitu banyak perbedaan yang hadir dalam kebersamaan ini. Pun kita tak ayal tampak seperti pasangan yang biasa saja. Sangat jarang kami terlihat pergi bersama. Bahkan menghabiskan waktu berdua bersama. Tak mengapa kita tampak sedikit berbeda. Selama perbedaan itu bisa kita pertanggung jawabkan di hadapan Ilahi kelak. Namun sesungguhnya aku tau apa yang ada di hati mu, juga kau tau apa yang ada di hatiku. Atas segala pengorbanan, pengorbanan mu dan segalanya yang telah aku kerahkan. Terimakasih banyak yah Abi.  Semoga kisah indah ini selalu menjadi penyemangat jalan juang kita selanjutnya. Mengingat masa saat kita sama-sama saling menjaga perasaan. Bertahan untuk menang. Hingga suatu hari kita tersenyum kembali. Yah kita memang pribadi yang biasa, sangat butuh diajarkan ini itu. Seperti anak kecil yang baru belajar kehidupan. Seperti seorang anak kecil yang baru tahu bagaimana rasanya hidup bersama dengan yang lain.

Begitulah aku menilai untuk dirinya yang aku cintai. Bukan penilaian yang terlampau sangat istimewa sebagai orang yang dicintai. Karena memang abi tak pernah menjanjikan apa-apa yang istimewa untuk diriku. Selalu saja dirinya mengembalikan aku kepada yang berhak memilikiku. Supaya aku paham, kami istimewa karena-Nya saja. Sekali lagi aku tekankan ini semua cukup untuk kami. Ini semua hanya nasihat untuk diri. Karena diriku selalu diajarkannya untuk tidak melihat orang lain dalam kehidupan ini. Karena itu, aku tak mau ini menjadi ajang pembenaran bagi diri yang tidak menyepakati. Tak mengapa kita sedikit berbeda. Karena aku memilihnya dengan cara yang sedikit berbeda pula. Semoga kebersamaan ini menjadikan indah selalu, saat kami harus kembali kepada Yang Memiliki kami sepenuh hati.

Amiiin ya Robbal alamin…

Daegu, 29 oktober 2011

Kisah Kami dan Harabochi buta


Lagi dan lagi bocah kecilku masuk ke gedung sebelah rumah apate-ku. Padahal beberapa kali aku bilang itu bukan rumah kami. Entah kenapa dirinya suka sekali memasuki gedung itu. Memang ada pemandangan  menarik disana. Di pelataran gedung itu ada seorang kakek-kakek tua yang duduk sepanjang hari. Rambutnya memutih semua,badannya yang merenta terduduk di kursi roda. Awalnya aku lihat kakek tua itu nampak tak berekspresi. Tatapannya hanya lurus saja ke depan. Namun belakangan aku tahu bahwa ia buta.

Menariknya, lagi-lagi aku terjebak untuk memperhatikan Sang Kakek. Ini semua juga terjadi karena anak kecil dalam asuhanku yang gemar sekali memperhatikan Sang Kakek. Padahal kakek itu tidak pernah tahu ada anak kecil yang memperhatikannya. Tak jarang saat mendengar suara langkah kaki mendekat ataupun ada orang di sekitarnya, Sang Kakek berbicara ngaler ngidul tanpa kejelasan. Sempat aku khawatir jangan-jangan selama ini anakku telah mengganggu-nya.

Suatu hari aku memberanikan berbicara padanya, “ Anyoong Harabochi, Aegi isoyo..…”

“Kamu siapa, mau apa?” jawabnya singkat.

“ Saya warga asing disini, kami dari Indonesia, anak kecil saya suka sekali melihatmu di rumah ini…” jawabku sedikit menjelaskan dengan bahasa yang sangat terbatas.

Sang Kakek  itu pun tertawa lebar. Tentu saja membuat anakku semakin suka berada disana lantas anak kecilku pun ikut tertawa. Sesekali dia berkata, aku sebatang kara buat apa kamu datang kemari. Anakku saja tak pernah memperhatikan aku. Sembari berbicara dan terus berbicara kesana kemari dengan bahasa yang tentu saja aku tak terlalu paham.

Tiba-tiba saja aku teringat kisah kecilku, kisah kecil semasa aku mengaji di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran). Saat itu aku menangis tersedu-sedu. Mamaku sakit, sedang aku ingin rasanya mengikuti kegiatan kenaikan kelas yang diselenggarakan oleh TPA-ku. Lantas ustadzku berkata, tak perlu bersedih karena kewajiban kamu yang paling utama adalah di rumah menemani ibu yang sedang sakit. Dahulu juga Rasulullah SAW demikian adanya, memerintah  seorang sahabat mengurus orangtua-nya dan tidak ikut berjihad, Abdullah bin Amru bin Ash  pernah meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” Begitu dan begitulah pemahamanku sejak aku mengenal sosok Rasulullah SAW lewat Ustadzku yang selalu saja mengajarkan untuk berbakti khidmat dan hormat kepada kedua orang tua. Bahkan bukan saja saat mereka ada di dunia.  Andai mereka telah tiadapun,  segala bentuk doa yang terucap kepada keduanya dijadikan jalan ladang pahala untuk mereka.

Kenyataan fenomena ini sudah menjadi pemandangan yang biasa di negara minoritas muslim Korea. Rakyatnya kebanyakan tak ber-Tuhan. Tiada rasa takut akan berdosa,  keseharian mereka hanya disibukkan dengan urusan dunia dan kesenangan belaka. Mereka tak paham makna kembali, mereka tak tahu untuk apa kehidupan disini. Hatinya begitu rapuh hanya karena menghadapi kesulitan dunia yang sedikit menyiksa saja, alih-alih  berakhir dengan mati bunuh diri. Terus terang kehidupan aku disini membuat aku sedikit bernostalgia dengan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan Rasulullah SAW. Rasanya menyesal sekali tak aku bawa sebundel buku tentang kehidupan Rasulullah SAW.  Ternyata tak cukup hanya sekali membaca untuk bisa menyelami hikmah yang terkandung di dalamnya. Aku jadi paham mengapa dahulu Rasulullah SAW lahir dan besar di tanah gersang Arab Saudi. Bagaimana dengan aku disini, bagai mahluk asing yang terasing di negeri yang sungguh asing. Tiada yang banyak yang bisa kuperbuat. Lantas untuk menjaga keimanan diri pribadi saja aku begitu sulit, terlalu banyak yang melenakan. Masjid tak mudah aku tempuh, berpakaian yang Syar`i pun di kondisi tertentu hanya jadi bahan olok-olokkan masyarakat sekitar. Mereka bilang aku gila, berpakaian tertutup di saat musim panas yang semakin ganas dari tahun ke tahun disini. Ya Allah semoga engkau selalu memberikan kekuatan iman dan kebaikan untuk diriku dan keluarga.

Suatu sore yang menarik, lagi-lagi bocah kecil aku mendekati kakek tua yang sedang duduk di halaman gedung sebelah apate-ku. Saking seringnya Sang Kakek pun tau kalau saat itu ada kami disana.

Lantas tiba-tiba Sang kakek berkata, “ Di TV sedang ramai dibicarakan tentang teroris, teroris itu bagai penjahat nomor satu di dunia ini. Kamu tau apa itu teroris?”

“Nee Haraboch”, Jawabku singkat. Sedikit menghela nafas entah apa yang akan dia katakan selanjutnya.

“ Anakku pergi merantau bekerja di salah satu perusahan minyak di Negara timur tengah, aku sendiri khawatir akan keselamatannya, yang aku paham disana tak aman”,  tuturnya melanjutkan.

“Mengapa?.”, tiba-tiba aku penasaran bertanya.

“Tak tahukah kamu, merekalah sumber kekacauan di dunia ini. Tidak hanya membuat kacau negeri mereka sendiri, bahkan kerap kali memberikan kekacauan di lain Negara. Mereka bunuh orang yang beragama lain dengan mereka, atas nama pembelaan kepada agama mereka”, jawabnya bertutur.

Sebetulnya begitu banyak yang dia ceritakan tentang islam dan timur tengah, namun karena keterbatasan bahasaku, tak banyak yang aku tangkap dari tuturnya. Sama hal-nya dengan orang Korea kebanyakan. Awal kali aku datang kesini, bahkan mereka tak paham bahwa aku berhijab karena aku muslim. Saat bilang aku muslim, kemudian mereka menyamakan aku dengan perempuan Arabia pada umumnya.

Aku tak pernah tau, jika saja Harabochi itu tau bahwa aku perempuan berjilbab bisa jadi dia tak akan pernah mau berbincang denganku. Sesekali aku berlagak tak mengenalnya, saat istri Sang Kakek ada mendorong kursi roda masuk ke dalam rumahnya. Keseharian Kakek tua itu ditemani oleh Sang Istri. Seorang nenek yang saban kali aku melihatnya mendorong-dorong stroller bekas berisi tumpukan  barang rongsokan yang hendak di jual. Sepanjang hari di musim panas yang mengganas maupun di musim dingin yang  menggigil Sang Nenek tak ayal mengais rezeki dengan mencari barang bekas di setiap tumpukan sampah yang ia temui. Awalnya aku iba melihatnya, tapi belakangan aku tau disini pekerjaan bukan suatu pretise. Dengar dari pengais sampah di dekat mini market tempat aku belanja, hanya dengan menjual sampah bekas dirinya bisa memiliki mobil dan memiliki tiga rumah serta membiayai anak-anaknya bersekolah. Tiada pekerjaan hina disini asalkan menghasilkan uang dan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sejak kejadian itu, entah kenapa aku sendiri jadi urung untuk bermain kesana lagi. Padahal anakku kerap kali menarik-narik tanganku untuk mengunjungi Sang Kakek. Namun kembali aku teringat sosok Rasulullah SAW. Buat apa aku membenci, terlebih pada seorang kakek yang tak pernah mengerti. Tiba-tiba saja aku teringat kisah Rasulullah SAW dengan seorang kafir tua nan buta. Saban hari beliau selalu memberikan makanan pada kakek itu. Bukan saja memberikan makanan tapi Rasulullah SAW juga dengan sabar mendengarkan keluh  kesah Kakek itu pun menyangkut dirinya sendiri. Namun kebencian tak dibuatnya, selalu saja sikap hormat dan takzim pada orangtua yang semestinya dia tampilkan. Sampai hingga Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar Ra. ingin menyempurnakan Sunnahnya dengan mengunjungi kakek tua itu. Lantas Sang Kakek sedemikian marah. Ia berkata tanganmu beda sekali dengan orang yang selalu memberiku makan. Dia tidak demikian adanya, begitu lembut dan penuh kasih sayang. Lantas ia pun melumatkan makanan di mulutnya karena gigiku tak sanggup mengunyah makanan ini. Abu Bakar  Ra. kemudian menangis tersedu-sedu. Sungguh istimewa orang yang saban hari menyuapi dirimu. Akhirnya Kakek itu tau bahwa yang biasa menyuapinya itu sudah wafat, lantas ia pun menangis. Pada akhirnya Kakek itu tau bahwa orang yang selama ini ia benci lewat celotehan-celotehan yang ia lontarkan pada si penyuap nasi itulah dia orangnya, yang selama ini telah berbuat baik untuk dirinya.

Begitulah akhlak seorang muslim, tiada dipupuk rasa benci se-dzolim dan sehina apapun yang mereka katakan atas diri. Mengapa mesti khawatir, mengapa mesti takut, berbuatlah siapa tau menjadi jalan hidayah tersendiri. Tiba-tiba saja aku teringin membawa sesuatu untuk Sang Kakek. Barangkali saja ia lapar, dan istrinya belum kembali. Aku berjalan menujunya, pemandangan yang sama aku dapatkan.

“Harabochi sudah makan? Anakku sedang makan sambil bermain di depanmu”, tuturku.

“Belum, tunggu istriku memberi makan. Tak banyak yang aku bisa lakukan tanpa dirinya. Sudah sering aku bilang aku lelaki tak berguna”, jawabnya menjelaskan.

“Boleh aku beri kakek sedikit makanan”, sedikit ragu.

“Makanan apa?” jawabnya singkat.

“Sedikit kue buatan sendiri”, sembari memberikan sepotong kue ke tangan sang Kakek.

Alhamdulillah senyum terpancar di wajah Sang Kakek membuat hatiku lega tak terkira. Lantas ia pun dengan serta merta menghabiskan satu plastik kue yang aku berikan untuknya.

Sampai sejauh itu, pun dirinya tak pernah tau sosok aku seperti apa. Aku berusaha tak peduli. Hanya sedikit ingin meneladani apa yang Rasulullah SAW pernah lakukan dimasa lalu. Menghormati setiap orang tua dalam kondisi apapun. Menghormati sejatinya tidak perlu mengorbankan kekokohan Aqidah kita. Ternyata hal tersebut tidaklah sulit. Hanya butuh keberanian bahwa kita adalah muslim yang sejati. Muslim yang santun, yang baik pada setiap orang yang dijumpai. Sebagaimana Rasulullah SAW telah ajarkan lewat kisah-kisahnya yang terdapat dalam AlQuran dan Assunahnya. Ah andaikan beliau masih ada, tentu aku akan berusaha belajar lagi lebih dalam mengenal sosoknya. Terlalu jauh aku beandai-andai, terlalu jauh pula jarak yang terbentang antara aku dan diriNya. Tak banyak yang bisa aku lakukan disini Ya Rasulullaah, sedikit usaha aku ini mudah-mudahan jadi awal untuk senantiasa mencintai Sunnah-Mu di negeri yang gersang, negeri yang Angkuh, Negeri yang penuh kedzoliman. Semoga dengan ini bisa membawa diriku keistiqomahan. Amiin ya Robbal Aalamin.

Glossary :

  1. Apate : Gedung apartemen
  2. Aegi isoyo : ada anak kecil
  3. Myianheo : maaf
  4. Harabochi = kakek
  5. Nee = iya

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.