Alhamdulillah tanggal 26 Oktober kemarin adalah perjalanan pernikahan kami di tahun ketiga. Rasanya sudah banyak Allah memberikan kami pelajaran dalam kehidupan bersama. Merajut benang kasih dengan seseorang yang telah digariskan untuk bersama. Aku memilihmu dengan cara yang tidak biasa. Adalah wajar jika satu dan lain hal aku banyak belajar sesuatu yang memang tidak biasa.
Abi, jika memang aku tidak bertemu denganmu. Mungkin aku tak pernah tahu bagaimana arti menjadi seorang ibu dan istri. Dulu sekali aku bercita-cita tinggi sekali. Menjadi gemilang di mata dunia, mendahulukan sebuah ambisi dan hasrat pribadi. Kenyataan abi lebih tau bagaimana mendidik aku menjadi gemilang di mata Ilahi. Hanya dengan menjadi ibu dan menjadi istri saja aku merasa lebih sempurna. Sempurna memenuhi tugas-tugas aku yang utama. Juga abi mengajariku bagaimana artinya mencintai. Mencintai dengan sepenuh hati. Mencintai yang tak menodai cinta-Nya untuk ilahi. Sebagaimana dahulu kita berjanji. Melewati aral melintang kehidupan di dunia untuk kembali kemudian hari.
Abi, sungguh dirimu telah mendidiku menjadi wanita yang sempurna. Jika saja dulu aku bersikukuh untuk mengejar kegemilangan dunia. Entah apa yang terjadi. Abi yang baik, tak pernah melarangku untuk mengerjakan apapun sesuka aku. Dulu hidupku betul-betul pilihan. Namun seiring berjalannya waktu, kau berikan aku kesadaran. Disinilah tempatku berkiprah dan berjalan menuju keistimewaan yg hakiki. Saat berkali-kali aku gagal menempuh semua, aku diajarkan begitu rapuh aku di luar sana. Lalu abi memberikan aku kesempatan lain untuk serius menjadi ibu. Kalau saja aku tidak mencoba menempuh jalan ini, mungkin aku tak akan merasa sempurna seperti ini. Akan banyak penyesalan yang mungkin ada. Kekurangan aku dalam menjalankan amanah Allah atau sekedar memenuhi tuntutan sebagai istri. Hanya karena termakan ambisi pribadi. Kenyataan sekarang keadaan menjadi berkebalikan. Justru saat aku berbahagia dengan menjadi ibu dan istri, aku pribadi merasa menjadi seseorang yang selalu hidup dan berkarya. Merasa menjadi manusia yang paling berbahagia diliputi senyum dan canda keluarga sepanjang hari. Menyibukkan diri untuk membahagiakan dua jagoan di rumah ini. Pun tak jarang aku memperoleh waktu untuk sendiri. Belajar banyak hal, mengisi pikiran dengan berbagai hal yang aku mau tahu. Dan abi pula yang mengajarkan aku sebuah ranah keikhlasan. Bahwa academic record itu tidaklah menjadi penting. Jika kita kelak tak tahu bagaimana mempertanggung jawabkannya untuk Ilahi. Sedang sebagai seorang wanita kita punya kewajiban yang lebih utama. Andai saja kita bisa tetap konsisten mengutamakannya ya tiada masalah, sebagaimana dicontohkan oleh beberapa sahabiyah di era gemilang Rasulullah SAW. Namun adakah aku bisa meneladaninya? Lalu kau datang menghiburku. Engkau berkata bahwa academic record yang sebenarnya hanyalah ada di pencatatan dua malaikat yang selalu menemani kita. Seberapa besar kita beramal, seberapa besar kita mampu menjadi hamba-Nya yang lebih baik lagi. Hingga aku berfikir kembali kesempatan yang mana yang lebih besar aku raih mencapai surga-Nya.
Bersamamu juga mengajarkan aku bagaimana seharusnya kita mencintai. Mencintai tanpa menodai kecintaan untuk Ilahi. Aku sadar, diri ini pribadi yang biasa. Terkadang terbesit dari hati yang terdalam kebanggaan untuk dicintai. Kebanggaan untuk dimiliki. Kebanggaan untuk disayangi dengan sepenuh hati. Namun kembali abi mengingatkan aku. Sejatinya perasaan itu tak perlulah menjadi yang utama. Diantara banyak rutinitas lain yang seharusnya kita kerjakan sebagai hamba-Nya. Jangan sampai melalaikan kita untuk mengerjakan tugas-tugas yang utama. Abi pula yang mengajarkan aku untuk tidak bergantung. Pun aku sebagai seorang wanita. Sudah mencari menjadi fitrah untuk mencari perlindungan kepada orang yang mencintainya. Namun pada akhirnya aku selalu sadar. Hanya Allah saja tempat aku bergantung. Ada saat abi ada untuk aku dan anakku. Ada saat aku harus berjuang sendiri dan bergantung pada Ilahi. Dengan itu, terkadang aku merasa lebih mandiri. Pun seringkali perasaan berjuang sendiri terbenam dibenakku yang seringkali galau termakan buaian kesadaran. Namun perlahan aku sadar, begitulah sejatinya kehidupan. Bukan melulu untuk sebuah keindahan dalam kebersamaan. Karena kita harus berjuang. Hingga di akhirat kelak kita bisa merasakan manisnya perjuangan itu.
Pada akhirnya, aku pun sadar. Cerita kita masih panjang. Ada banyak cerita lain di balik kebersamaan kita. Tiga tahun saja memberi banyak arti untuk kami. Kami menyadari, kami bukan pribadi yang istimewa. Namun berkat Allah saja yang mengajari kami arti bersama untuk menjadi lebih istimewa. Begitu banyak perbedaan yang hadir dalam kebersamaan ini. Pun kita tak ayal tampak seperti pasangan yang biasa saja. Sangat jarang kami terlihat pergi bersama. Bahkan menghabiskan waktu berdua bersama. Tak mengapa kita tampak sedikit berbeda. Selama perbedaan itu bisa kita pertanggung jawabkan di hadapan Ilahi kelak. Namun sesungguhnya aku tau apa yang ada di hati mu, juga kau tau apa yang ada di hatiku. Atas segala pengorbanan, pengorbanan mu dan segalanya yang telah aku kerahkan. Terimakasih banyak yah Abi. Semoga kisah indah ini selalu menjadi penyemangat jalan juang kita selanjutnya. Mengingat masa saat kita sama-sama saling menjaga perasaan. Bertahan untuk menang. Hingga suatu hari kita tersenyum kembali. Yah kita memang pribadi yang biasa, sangat butuh diajarkan ini itu. Seperti anak kecil yang baru belajar kehidupan. Seperti seorang anak kecil yang baru tahu bagaimana rasanya hidup bersama dengan yang lain.
Begitulah aku menilai untuk dirinya yang aku cintai. Bukan penilaian yang terlampau sangat istimewa sebagai orang yang dicintai. Karena memang abi tak pernah menjanjikan apa-apa yang istimewa untuk diriku. Selalu saja dirinya mengembalikan aku kepada yang berhak memilikiku. Supaya aku paham, kami istimewa karena-Nya saja. Sekali lagi aku tekankan ini semua cukup untuk kami. Ini semua hanya nasihat untuk diri. Karena diriku selalu diajarkannya untuk tidak melihat orang lain dalam kehidupan ini. Karena itu, aku tak mau ini menjadi ajang pembenaran bagi diri yang tidak menyepakati. Tak mengapa kita sedikit berbeda. Karena aku memilihnya dengan cara yang sedikit berbeda pula. Semoga kebersamaan ini menjadikan indah selalu, saat kami harus kembali kepada Yang Memiliki kami sepenuh hati.
Amiiin ya Robbal alamin…
Daegu, 29 oktober 2011
Subhanallah mba aida ceritanya.. :’)
inspiring..
Like’t
semoga semakin SaMaRa ya mba aida. Salam kenal
subhanallah yah teh….
mdh2n pernikahannya langgeng dunia akhirat yaa…
*mdh2n usiaku sampai yaa buat masuk ke fase jd istri dan ibu, aamiin! ^__^
aamiin, jazakillah ki…semoga untuk kiki juga