Lagi dan lagi bocah kecilku masuk ke gedung sebelah rumah apate-ku. Padahal beberapa kali aku bilang itu bukan rumah kami. Entah kenapa dirinya suka sekali memasuki gedung itu. Memang ada pemandangan menarik disana. Di pelataran gedung itu ada seorang kakek-kakek tua yang duduk sepanjang hari. Rambutnya memutih semua,badannya yang merenta terduduk di kursi roda. Awalnya aku lihat kakek tua itu nampak tak berekspresi. Tatapannya hanya lurus saja ke depan. Namun belakangan aku tahu bahwa ia buta.
Menariknya, lagi-lagi aku terjebak untuk memperhatikan Sang Kakek. Ini semua juga terjadi karena anak kecil dalam asuhanku yang gemar sekali memperhatikan Sang Kakek. Padahal kakek itu tidak pernah tahu ada anak kecil yang memperhatikannya. Tak jarang saat mendengar suara langkah kaki mendekat ataupun ada orang di sekitarnya, Sang Kakek berbicara ngaler ngidul tanpa kejelasan. Sempat aku khawatir jangan-jangan selama ini anakku telah mengganggu-nya.
Suatu hari aku memberanikan berbicara padanya, “ Anyoong Harabochi, Aegi isoyo..…”
“Kamu siapa, mau apa?” jawabnya singkat.
“ Saya warga asing disini, kami dari Indonesia, anak kecil saya suka sekali melihatmu di rumah ini…” jawabku sedikit menjelaskan dengan bahasa yang sangat terbatas.
Sang Kakek itu pun tertawa lebar. Tentu saja membuat anakku semakin suka berada disana lantas anak kecilku pun ikut tertawa. Sesekali dia berkata, aku sebatang kara buat apa kamu datang kemari. Anakku saja tak pernah memperhatikan aku. Sembari berbicara dan terus berbicara kesana kemari dengan bahasa yang tentu saja aku tak terlalu paham.
Tiba-tiba saja aku teringat kisah kecilku, kisah kecil semasa aku mengaji di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran). Saat itu aku menangis tersedu-sedu. Mamaku sakit, sedang aku ingin rasanya mengikuti kegiatan kenaikan kelas yang diselenggarakan oleh TPA-ku. Lantas ustadzku berkata, tak perlu bersedih karena kewajiban kamu yang paling utama adalah di rumah menemani ibu yang sedang sakit. Dahulu juga Rasulullah SAW demikian adanya, memerintah seorang sahabat mengurus orangtua-nya dan tidak ikut berjihad, Abdullah bin Amru bin Ash pernah meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” Begitu dan begitulah pemahamanku sejak aku mengenal sosok Rasulullah SAW lewat Ustadzku yang selalu saja mengajarkan untuk berbakti khidmat dan hormat kepada kedua orang tua. Bahkan bukan saja saat mereka ada di dunia. Andai mereka telah tiadapun, segala bentuk doa yang terucap kepada keduanya dijadikan jalan ladang pahala untuk mereka.
Kenyataan fenomena ini sudah menjadi pemandangan yang biasa di negara minoritas muslim Korea. Rakyatnya kebanyakan tak ber-Tuhan. Tiada rasa takut akan berdosa, keseharian mereka hanya disibukkan dengan urusan dunia dan kesenangan belaka. Mereka tak paham makna kembali, mereka tak tahu untuk apa kehidupan disini. Hatinya begitu rapuh hanya karena menghadapi kesulitan dunia yang sedikit menyiksa saja, alih-alih berakhir dengan mati bunuh diri. Terus terang kehidupan aku disini membuat aku sedikit bernostalgia dengan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan Rasulullah SAW. Rasanya menyesal sekali tak aku bawa sebundel buku tentang kehidupan Rasulullah SAW. Ternyata tak cukup hanya sekali membaca untuk bisa menyelami hikmah yang terkandung di dalamnya. Aku jadi paham mengapa dahulu Rasulullah SAW lahir dan besar di tanah gersang Arab Saudi. Bagaimana dengan aku disini, bagai mahluk asing yang terasing di negeri yang sungguh asing. Tiada yang banyak yang bisa kuperbuat. Lantas untuk menjaga keimanan diri pribadi saja aku begitu sulit, terlalu banyak yang melenakan. Masjid tak mudah aku tempuh, berpakaian yang Syar`i pun di kondisi tertentu hanya jadi bahan olok-olokkan masyarakat sekitar. Mereka bilang aku gila, berpakaian tertutup di saat musim panas yang semakin ganas dari tahun ke tahun disini. Ya Allah semoga engkau selalu memberikan kekuatan iman dan kebaikan untuk diriku dan keluarga.
Suatu sore yang menarik, lagi-lagi bocah kecil aku mendekati kakek tua yang sedang duduk di halaman gedung sebelah apate-ku. Saking seringnya Sang Kakek pun tau kalau saat itu ada kami disana.
Lantas tiba-tiba Sang kakek berkata, “ Di TV sedang ramai dibicarakan tentang teroris, teroris itu bagai penjahat nomor satu di dunia ini. Kamu tau apa itu teroris?”
“Nee Haraboch”, Jawabku singkat. Sedikit menghela nafas entah apa yang akan dia katakan selanjutnya.
“ Anakku pergi merantau bekerja di salah satu perusahan minyak di Negara timur tengah, aku sendiri khawatir akan keselamatannya, yang aku paham disana tak aman”, tuturnya melanjutkan.
“Mengapa?.”, tiba-tiba aku penasaran bertanya.
“Tak tahukah kamu, merekalah sumber kekacauan di dunia ini. Tidak hanya membuat kacau negeri mereka sendiri, bahkan kerap kali memberikan kekacauan di lain Negara. Mereka bunuh orang yang beragama lain dengan mereka, atas nama pembelaan kepada agama mereka”, jawabnya bertutur.
Sebetulnya begitu banyak yang dia ceritakan tentang islam dan timur tengah, namun karena keterbatasan bahasaku, tak banyak yang aku tangkap dari tuturnya. Sama hal-nya dengan orang Korea kebanyakan. Awal kali aku datang kesini, bahkan mereka tak paham bahwa aku berhijab karena aku muslim. Saat bilang aku muslim, kemudian mereka menyamakan aku dengan perempuan Arabia pada umumnya.
Aku tak pernah tau, jika saja Harabochi itu tau bahwa aku perempuan berjilbab bisa jadi dia tak akan pernah mau berbincang denganku. Sesekali aku berlagak tak mengenalnya, saat istri Sang Kakek ada mendorong kursi roda masuk ke dalam rumahnya. Keseharian Kakek tua itu ditemani oleh Sang Istri. Seorang nenek yang saban kali aku melihatnya mendorong-dorong stroller bekas berisi tumpukan barang rongsokan yang hendak di jual. Sepanjang hari di musim panas yang mengganas maupun di musim dingin yang menggigil Sang Nenek tak ayal mengais rezeki dengan mencari barang bekas di setiap tumpukan sampah yang ia temui. Awalnya aku iba melihatnya, tapi belakangan aku tau disini pekerjaan bukan suatu pretise. Dengar dari pengais sampah di dekat mini market tempat aku belanja, hanya dengan menjual sampah bekas dirinya bisa memiliki mobil dan memiliki tiga rumah serta membiayai anak-anaknya bersekolah. Tiada pekerjaan hina disini asalkan menghasilkan uang dan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sejak kejadian itu, entah kenapa aku sendiri jadi urung untuk bermain kesana lagi. Padahal anakku kerap kali menarik-narik tanganku untuk mengunjungi Sang Kakek. Namun kembali aku teringat sosok Rasulullah SAW. Buat apa aku membenci, terlebih pada seorang kakek yang tak pernah mengerti. Tiba-tiba saja aku teringat kisah Rasulullah SAW dengan seorang kafir tua nan buta. Saban hari beliau selalu memberikan makanan pada kakek itu. Bukan saja memberikan makanan tapi Rasulullah SAW juga dengan sabar mendengarkan keluh kesah Kakek itu pun menyangkut dirinya sendiri. Namun kebencian tak dibuatnya, selalu saja sikap hormat dan takzim pada orangtua yang semestinya dia tampilkan. Sampai hingga Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar Ra. ingin menyempurnakan Sunnahnya dengan mengunjungi kakek tua itu. Lantas Sang Kakek sedemikian marah. Ia berkata tanganmu beda sekali dengan orang yang selalu memberiku makan. Dia tidak demikian adanya, begitu lembut dan penuh kasih sayang. Lantas ia pun melumatkan makanan di mulutnya karena gigiku tak sanggup mengunyah makanan ini. Abu Bakar Ra. kemudian menangis tersedu-sedu. Sungguh istimewa orang yang saban hari menyuapi dirimu. Akhirnya Kakek itu tau bahwa yang biasa menyuapinya itu sudah wafat, lantas ia pun menangis. Pada akhirnya Kakek itu tau bahwa orang yang selama ini ia benci lewat celotehan-celotehan yang ia lontarkan pada si penyuap nasi itulah dia orangnya, yang selama ini telah berbuat baik untuk dirinya.
Begitulah akhlak seorang muslim, tiada dipupuk rasa benci se-dzolim dan sehina apapun yang mereka katakan atas diri. Mengapa mesti khawatir, mengapa mesti takut, berbuatlah siapa tau menjadi jalan hidayah tersendiri. Tiba-tiba saja aku teringin membawa sesuatu untuk Sang Kakek. Barangkali saja ia lapar, dan istrinya belum kembali. Aku berjalan menujunya, pemandangan yang sama aku dapatkan.
“Harabochi sudah makan? Anakku sedang makan sambil bermain di depanmu”, tuturku.
“Belum, tunggu istriku memberi makan. Tak banyak yang aku bisa lakukan tanpa dirinya. Sudah sering aku bilang aku lelaki tak berguna”, jawabnya menjelaskan.
“Boleh aku beri kakek sedikit makanan”, sedikit ragu.
“Makanan apa?” jawabnya singkat.
“Sedikit kue buatan sendiri”, sembari memberikan sepotong kue ke tangan sang Kakek.
Alhamdulillah senyum terpancar di wajah Sang Kakek membuat hatiku lega tak terkira. Lantas ia pun dengan serta merta menghabiskan satu plastik kue yang aku berikan untuknya.
Sampai sejauh itu, pun dirinya tak pernah tau sosok aku seperti apa. Aku berusaha tak peduli. Hanya sedikit ingin meneladani apa yang Rasulullah SAW pernah lakukan dimasa lalu. Menghormati setiap orang tua dalam kondisi apapun. Menghormati sejatinya tidak perlu mengorbankan kekokohan Aqidah kita. Ternyata hal tersebut tidaklah sulit. Hanya butuh keberanian bahwa kita adalah muslim yang sejati. Muslim yang santun, yang baik pada setiap orang yang dijumpai. Sebagaimana Rasulullah SAW telah ajarkan lewat kisah-kisahnya yang terdapat dalam AlQuran dan Assunahnya. Ah andaikan beliau masih ada, tentu aku akan berusaha belajar lagi lebih dalam mengenal sosoknya. Terlalu jauh aku beandai-andai, terlalu jauh pula jarak yang terbentang antara aku dan diriNya. Tak banyak yang bisa aku lakukan disini Ya Rasulullaah, sedikit usaha aku ini mudah-mudahan jadi awal untuk senantiasa mencintai Sunnah-Mu di negeri yang gersang, negeri yang Angkuh, Negeri yang penuh kedzoliman. Semoga dengan ini bisa membawa diriku keistiqomahan. Amiin ya Robbal Aalamin.
Glossary :
- Apate : Gedung apartemen
- Aegi isoyo : ada anak kecil
- Myianheo : maaf
- Harabochi = kakek
- Nee = iya
suka teh ceritanya…iri juga bisa baca cerita teteh jalan2 berdua saja dengan syafin.. kalo saya disini ga bisa jalan2 keluar
Mudah2an kita bisa terus berusaha menjalankan sunnah Rasul ya teh.. Aamin
sebenernya ini crt agak fiksi nin, ini dulu sempet mau ikutan audisi cinta Rasulullah
, si haraabochi itu ga buta tapi udah udzur aja, trs mmg sengaja saya g mau ketemu istrinya hehe..krn istrinya galak gitu
)…ini saya sesuaikan sama kisah Rasul aja…
) wkk keknya aku mah kurang cocok, ke arabnya naik haji aja deeeh…hehe,
aah iya, pernah bahas itu sama tetangga muslim orang india, kan sdg berandai2 ntar udah dr sini suami kita kemana….kyknya klo ke arab kudu tipe2 yg betah dirumah gitu ya
yang gak fiksinya bagian mana ai?
aku memang punya tetangga sebelah gedung kakek2 tua yg renta banget…dan syafi suka bgt sama kakek2 itu hehe..eh btw skr g pernah keliatan berjemur dpn gedung g tau kemana
…